Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Sabtu, 25 Januari 2014

Mengapa Kyai ‘Aswaja’ NU Begitu Takut dengan Wahabi?

Oleh: Muhamad Karyono
Dinamika dakwah Islam di tanah air dalam tiga dekade terakhir diwarnai dengan fenomena pesatnya perkembangan dakwah salafiyah yang bertujuan mengembalikan  pemahaman umat Islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj salafus saleh. Fakta demikian ternyata mengundang pobia luar biasa dari kalangan tradisionalis atau yang menyebut diri sebagai aswaja, di mana praktek-praktek keislaman mereka yang sarat pencampuradukan dengan budaya lokal mendapatkan koreksi dari kalangan salafi.
Perlu ditegaskan, makna aswaja dalam term kaum tradisionalis bukanlah satu pengamalan beragama yang meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam akidah maupun ibadah sebagaimana definisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebenarnya, melainkan satu model baru keislaman yang memadukan berbagai unsur semisal mazhab ilmu kalam Asya’irah, tasawuf, dan ritual-ritual amaliah yang berasal dari warisan kultur Hindu-Budha. Maka tak heran, berkembangnya dakwah salafi dari Aceh hingga Papua mendatangkan kegelisahan dari kalangan tokoh aswaja NU yang selama ini terlanjur menikmati kedudukan begitu tinggi di tengah-tengah masyarakat ‘santri’.

Jumat, 24 Januari 2014

Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? - Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan


Print
ada apa dgn rodja 2Al-Ustadz Dzulqornain menulis :

Kepada Guru dan Orang Tua kami yang mulia, Al-'Allaamah Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan –semoga Allah menjaganya-

Asslaamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuhu

Aku memohon izin kepada Fadhilatus Syaikh untuk memaparkan sebagian permasalahan dakwah, dan aku memohon kepada Allah untuk memberi ganjaran yang terbaik kepada Fadilatus Syaikh atas kebaikan Anda.

Telah tersebar di internet rekaman suara dan transkripnya yang disebar oleh Saudara Firanda Al-Indonesiy, Mahasiswa di Universitas Islam Madinah. Ia telah mengaku bersama beberapa mahasiswa Universitas Islam Madinah telah mengunjungi Anda dan mereka telah merekam pertemuan bersama Anda tersebut.

Dan transkrip pertemuan tersebut –berdasarkan rekaman yang beredar- adalah sebagai berikut :
Penanya (Firanda) : Pertanyaan berkaitan dengan Indonesia, Alhamdulillah sekarang kami memiliki dua stasiun televisi yang berada di atas Sunnah, sudah sekitar setahunan. Syaikh Abdur Rozzaq Al-Abbad Al-Badr -guru saya- juga berpartisipasi dalam stasiun televisi tersebut, dan memberi pengajian dua kali setiap pekan.

Kamis, 23 Januari 2014

ADA APA DENGAN RADIO RODJA & RODJA TV?

ADA APA DENGAN RADIO RODJA & RODJA TV?
(Nasehat Syaikh Al-'Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohullah agar para dai ahlus sunnah bersatu)

Akhir-akhir ini semakin marak dan tersebar dakwah sunnah di tanah air –dengan semata-mata karunia dan anugrah Allah-, terlebih-lebih dengan kemudahan menangkap siaran Radio Rodja dan RodjaTV di seantero tanah air. Kita hanya bisa memuji Allah atas segalanya…sama sekali tidak ada andil kita dalam tersebarnya dakwah Sunnah…semuanya dari Allah…lisan dan kata-kata tidak mampu untuk mengungkapkan kegembiraan di hati sebagian orang atas masuknya dakwah sunnah sampai di daerah-daerah terpencil. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya mendengar kegembiraan salah seorang mahasiswa Universitas Islam Madinah yang berasal dari Sulawesi Utara, yang menceritakan bahwa masyarakat di kampung kelahirannya sangat jauh dari agama. Jika ia pulang kampung dan hendak sholat di masjid kampung, maka ia harus membersihkan terlebih dahulu mesjid yang kotor dan penuh dengan kotoran kambing-kambing yang masuk ke dalam masjid. Masjid ditinggalkan masyarakat. Diapun yang mengumandangkan adzan, lalu yang mengumandangkan iqomat, dan dia hanya bisa sholat sendirian tanpa jama'ah. Dialah sang muadzin, sang imam, dan sang makmum??!!

Selasa, 21 Januari 2014

Biografi Singkat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Biografi Singkat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Nama Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr tentu tidak asing lagi bagi segenap para penuntut ilmu Indonesia karena beliau aktif memberikan kajian ilmiah di Radio Rodja. Selain itu, beliau juga sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia dalam rangka berdakwah.
Sejatinya, kunjungan beliau ke tanah air ini harus disyukuri dan disambut gembira karena manfaatnya sangat besar seperti semakin semaraknya syi’ar dakwah, bertambahnya ilmu syar’i, bertemu dan melihat langsung akhlak para ulama. Coba bayangkan, dalam acara tabligh akbar yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta saja, diberitakan bahwa jumlah yang hadir lebih dari seratus ribu peserta, belum lagi di tempat-tempat kajian lainnya. Bukankah ini harus kita syukuri, wahai saudaraku?! Lantas, mengapakah ada sebagian kalangan yang justru sesak dada dengan kunjungan beliau dan malah berkomentar merendahkan beliau?!!

Kamis, 02 Januari 2014

Dibalik Kebencian Mereka terhadap Wahabi

Dibalik kebencian mereka terhadap apa yang mereka sebut Wahabi, kemungkinan besar justru sampai ke tingkat takfiri (pengkafiran). Karena Said Aqil Siradj (ketua umum NU) sendiri menirukan apa yang dia sebut ucapan Gus Dur, bunyinya:  “Anta aduwwullah wahabi, kalian musuh Allah,” ujar Aqil menirukan Gus Dur.
Perlu diketahui, yang namanya musuh Allah itu hanyalah orang kafir atau wadyabala Iblis dan syetan. Jadi selama ini NU ternyata dipimpin oleh tokoh takfiri yakni Gus Dur dan Said Aqil Siradj, yang melontarkan kata-kata, Wahabi musuh Allah. Anehnya, sambil mereka itu mengkafirkan orang yang disebut Wahabi, justru menampakkan diri berdekat-dekatan dengan orang kafir betulan.
Bila dirujuk kepada hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti Umat Islam sudah bisa langsung membaca haditsnya dan kenyataannya. Haditsnya:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهِ أَحَدُهُمَا.

Jika seseorang berkata kepada saudaranya, “Wahai kafir!” maka salah seorang di antara dua orang itu menjadi kafir. Kalau keadaanya seperti yang dikatakan (maka sungguh dia kafir -pent), namun jika tidak, maka ucapan itu akan kembali kepada si pengucap”(Muttafaqun Alaihi).

Selasa, 03 Desember 2013

Perhatian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Terhadap Shalat Dua Rakaat Sebelum Subuh

Shalat-shalat sunnat rawâtib (shalat yang menyertai shalat fardhu) tidak sama keutamannya. Shalat sunnat Subuh lah yang menempati urutan teratas. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya meski beliau berada dalam perjalanan. Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa perhatian dan konsistensi beliau paling besar pada shalat sunnat Subuh. Oleh sebab itu, beliau tidak pernah melupakannya, baik saat berada di rumah ataupun bepergian.[1] 

Ummul Mukminîn, 'Aisyah Radhiyallahu anhuma menceritakan: 

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ عَلَى شَيْئٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُداً مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ 

Nabi tidak pernah menjaga shalat sunnat melebihi perhatian beliau terhadap dua rakaat sebelum Subuh [Muttaqa 'alaih]

Hadits ini menunjukkan semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memelihara dua rakaat ini daripada shalat sunnat yang lain. 

Bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Membaca Al-Qur`ân

Tentang Al-Qur`ân, selain menyampaikan kandungan maknanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyampaikan cara membacanya yang baik dan benar. Tak terhitung berapa banyak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan bacaan Al-Qur`ân kepada para sahabat. Sebab, aktifitas shalat tidak lepas dari bacaan yang dikeraskan. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala memeritahkan Rasul-Nya untuk membaca Al-Qur`ân dengan tartil. Maksudnya, semaksimal mungkin memperjelas bacaannya. Demikian keterangan Ibnu 'Abbâs Radhiyallahu anhuma. Dari situ, para ulama bersepakat sunnahnya membaca Al-Qur`ân dengan tartil. [At-Tibyân, hlm. 93]. 

Ummul-Mu`minin Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma menceritakan cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur`ân. 

Katanya: "Nabi memutus-mutus bacaannya. Beliau membaca الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ" dan berhenti. Kemudian membaca الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ dan berhenti ……".