Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Selasa, 21 Januari 2014

Biografi Singkat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Biografi Singkat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Nama Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr tentu tidak asing lagi bagi segenap para penuntut ilmu Indonesia karena beliau aktif memberikan kajian ilmiah di Radio Rodja. Selain itu, beliau juga sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia dalam rangka berdakwah.
Sejatinya, kunjungan beliau ke tanah air ini harus disyukuri dan disambut gembira karena manfaatnya sangat besar seperti semakin semaraknya syi’ar dakwah, bertambahnya ilmu syar’i, bertemu dan melihat langsung akhlak para ulama. Coba bayangkan, dalam acara tabligh akbar yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta saja, diberitakan bahwa jumlah yang hadir lebih dari seratus ribu peserta, belum lagi di tempat-tempat kajian lainnya. Bukankah ini harus kita syukuri, wahai saudaraku?! Lantas, mengapakah ada sebagian kalangan yang justru sesak dada dengan kunjungan beliau dan malah berkomentar merendahkan beliau?!!

Sesungguhnya Allah akan senantiasa membela para hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Oleh karenanya, tatkala kami mendengar ungkapan sebagian kalangan yang merendahkan beliau, justru memberikan inspirasi kami untuk membuat edisi khusus di majalah kita ini tentang beliau. Maka hati kami pun tergerak dan terpanggil untuk mewujudkan rencana tersebut dengan meringkas karya-karya terindah beliau.
Nah, karena edisi ini adalah edisi khusus tentang karya-karya terindah Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, maka alangkah baiknya jika kita mengetahui secara singkat tentang biografi beliau yang kami kumpulkan semampu mungkin dari referensi yang terbatas. Dahulu, orang bilang, “Tak kenal maka tak sayang.” [1]

Nama Beliau

Beliau bernama Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr. Beliau adalah putra seorang ulama besar kota Madinah dan ahli hadits Madinah yang hidup hingga sekarang yaitu Syaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad.[2]

Kelahiran dan Pertumbuhan Beliau

Beliau dilahirkan di kota Zulfi, Saudi Arabia (300 km dari utara Riyadh) pada hari Rabu, 22 Dzulqa’dah 1382 H yang bertepatan dengan 17 April 1963 M. Beliau tumbuh dan dewasa di desa ini dan belajar baca tulis di sekolah yang diasuh oleh ayah beliau sendiri. Beliau mengambil pendidikan hingga sampai kepada tingkatan doktoral dalam bidang aqidah. Sekarang beliau menjadi profesor dan guru besar serta staf pengajar Pascasarjana di Islamic University of Madinah jurusan Aqidah dan pengajar di Masjid Nabawi sampai hari ini.

Guru-Guru Beliau

Beliau menimba ilmu dari beberapa ulama dan masyayikh, di antaranya adalah:
  1. Ayah beliau sendiri, al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad hafizahullah
  2. Syaikh al-Muhaddits Hammad al-Anshari
  3. Syaikh Ali Nashir al-Faqihi hafizahullah, beliau adalah pembimbing Syaikh untuk tesis S2 yang berjudul “Syaikh Abdurrahman as-Sa’di wa Juhudu fi Taudhihil Aqidah”.[3]
  4. Syaikh Abdullah al-Ghunaiman hafizahullah. Beliau bersama Syaikh Shalih al-Fauzan adalah penguji tesis beliau.
  5. Dan selain mereka, semoga Allah menjaga mereka dan membalas mereka semua dengan kebaikan yang berlimpah.
Beliau sangat bersemangat dalam menuntut ilmu dan bertanya kepada para gurunya dalam masalah-masalah ilmu. Syaikh Abdul Awwal bin Hammad al-Anshari berkata, “Adalah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad setiap kali menulis buku baru, dia menghadiahkannya kepada ayahku. Dan dia sering bertanya kepada ayahku tentang masalah-masalah ilmu yang rumit.” [4]

Murid-Murid Beliau

Banyak sekali para penuntut ilmu yang mengambil ilmu dari beliau, terutama di Jami’ah Islamiyyah Madinah, Masjid Jami’ah, dan Masjid Nabawi. Demikian juga para penuntut ilmu yang mengikuti kajian rutinnya di Radio Rodja dan mengambil manfaat dari karya-karya beliau. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang memberikan faedah agama kepada orang lain maka dia adalah syaikhnya.” [5]

Pujian Ulama Kepada Beliau

Beliau memiliki kedudukan di mata para ulama karena ilmu dan karya-karyanya yang sangat berharga. Sebagai bukti, banyak para ulama besar yang memberikan pujian dan rekomendasi serta pengantar terhadap sebagian buku-buku beliau, di antaranya:
  • Syaikh Abdul Aziz bin Baz, beliau berkata dalam kata pengantar kitab Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar, “Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz kepada ananda yang mulia dan terhormat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin bin Hamd al-Abbad al-Badr—semoga Allah memberitakan taufik kepadanya dalam kebaikan dan menambahkan kepadanya ilmu dan iman— … Saya sangat senang dengan buku ini yang menjelaskan tentang do’a dan dzikir, faedah dan maknanya. Saya wasiatkan untuk mencetaknya agar manfaatnya menyebar kepada manusia dan terus bersemangat untuk melanjutkan acara yang bermanfaat ini.” [6]
  • Syaikh Shalih al-Fauzan, beliau berkata dalam kata pengantar buku al-Qaulus Sadid fi Raddi ’ala Man Ankara Taqsima Tauhid, “Dan telah bangkit seorang pasukan pembela kebenaran untuk membantahnya (Hasan as-Saqqaf), membongkar kebohongannya, dan meruntuhkan talinya yaitu Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad yang membantah kerancuan-kerancuannya dengan hujjah dan bukti yang kuat. Saya telah membaca buku bantahan Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad dalam masalah ini dan saya mendapatinya bantahan yang memuaskan sesuai dengan jejak para ulama.” [7] Syaikh Shalih al-Fauzan juga memberi kata pengantar buku Durus Aqadiyyah al-Mustafadah minal Hajj, kata beliau, “Saya telah membaca buku risalah kecil Durusun Aqadiyyah Mustafadah minal Hajj karya Dr. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, dan saya mendapatinya risalah yang berfaedah, mengandung pelajaran-pelajaran berharga dari ibadah haji.” [8]
  • Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Aqil, beliau berkata, “Saya telah membaca buku Fiqhul Asma’ Husnakarya Syaikh yang mulia Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, sebagaimana saya juga telah mendengarkan serial kajiannya di Radio Idza’ah al-Qur’an Karim di Saudi Arabia. Saya telah mengambil faedah banyak darinya sebagaimana para pendengar radio lainnya yang mengikuti acara yang bermanfaat ini.” Beliau juga memuji kitab Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar seraya mengatakan, “Buku ini sangat dibutuhkan oleh setiap muslim dan telah diberi kata pengantar oleh Syaikh kami al-Allamah Abdul Aziz bin Baz dan beliau sangat memuji buku tersebut dengan sanjungan yang besar.” [9]
  • Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhali dalam kata pengantar kitab Syarh Manzhumah al-Mîmiyah, beliau berkata, “Untuk anakku yang shalih, Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad. Telah sampai surat yang engkau tulis untukku yang berisi ungkapan dan do’a yang menunjukkan cinta yang jujur dan akhlak yang indah. Semoga Allah memberkahi ilmu dan amalmu … dan kitab ini sangat pantas untuk dicetak karena berisi kebaikan yang banyak sekali bagi segenap pendengar dan pembaca.” [10]
  • Abdullah bin Shalih al-Muhsin, beliau berkata, “Saya berteman dengan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dan dia adalah sebaik-baik teman. Dan anak beliau Abdurrazzaq adalah seorang penuntut ilmu yang bagus.”
Setelah ini, pantaskah kalau ada seorang penuntut ilmu yang mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang merendahkan Syaikh?! Apakah Anda tahu sedangkan para ulama tersebut tidak tahu?!!
وَهَبْنِيْ قُلْتُ: هَذَا الصُّبْحُ لَيْلٌ      أَيَعْمَى الْعَالِمُوْنَ عَنِ الضِّيَاءِ
Anggaplah aku mengatakan kalau Subuh itu masih malam
Apakah orang yang tahu tidak mengerti sinar.[11]

Akhlak dan Kepribadian Beliau[12]

Di antara keistimewaan Syaikh Abdurrazzaq yang sangat menonjol adalah perhatian beliau terhadap masalah akhlak dan mengamalkan ilmu yang telah didapatkan. Mungkin beberapa kisah berikut bisa sebagai contoh:
1.  Perhatian terhadap masalah akhlak dan adab
Ini adalah keistimewaan beliau yang menonjol sekali. Selama kurang lebih sembilan tahun, beliau mengajarkan sebuah kitab tentang adab karya Imam Bukhari yang berjudul al-Adab al-Mufrad di Masjid Universitas Islam Madinah, setiap hari Kamis setelah shalat Subuh. Selama tiga tahun beliau mengajar kitab yang sama di Masjid Nabawi. Ini semua menunjukkan perhatian beliau terhadap adab dan akhlak mulia.
2.  Perhatian pada mengamalkan ilmu
Syaikh Abdurrazzaq pernah bercerita memberikan motivasi untuk mengamalkan ilmu dan bahwasanya amal dapat mengalahkan kelelahan:
“Suatu ketika aku pernah shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Dahulu, setiap malam bulan Ramadhan, para imam Masjid Nabawi membaca tiga juz dari al-Qur’an dengan bacaan tartil. Berbeda dengan sekarang di mana para imam hanya membaca satu juz. Ketika itu aku shalat dan ternyata di hadapanku ada seorang dari Indonesia yang juga ikut shalat malam. Yang menarik perhatianku, ternyata orang tersebut kakinya buntung satu. Tatkala berdiri dia hanya bertopang pada satu kakinya. Sungguh menakjubkan, kita yang memiliki dua kaki merasa kelelahan menunggu imam menyelesaikan bacaan tiga juz dalam sepuluh raka’at, sementara orang Indonesia ini meskipun hanya bertopang pada satu kaki tetapi semangatnya yang begitu luar biasa; sama sekali tidak bergeming selama shalat, tidak terjatuh atau tertatih-tatih. Keimanan yang luar bisa yang menjadikannya kuat untuk bertahan berjam-jam melaksanakan shalat Tarawih.”
Kisah yang luar biasa ini beberapa kali disampaikan oleh Syaikh tatkala memotivasi murid-muridnya untuk semangat beramal.
3.  Disiplin waktu
Selama beliau mengajar, beliau selalu tepat waktu, baik saat masuk kelas maupun saat keluar kelas. Pernah terjadi, syaikh lain yang mengajar sebelum beliau memperpanjang waktu kuliah hingga beberapa menit masuk ke dalam jam kuliah beliau. Maka, beliau mengetuk pintu kelas sambil memberi salam kepada syaikh tersebut, lantas beliau menasihati sang syaikh dengan perkataan, “Maaf, Syaikh, waktu istirahat buat mahasiswa jangan diambil.”
Dalam pergantian mata kuliah, memang ada jeda sekitar 5–10 menit yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk istirahat. Maka syaikh tersebut pun berkata, “Na’amna’am…!” dengan wajah tersipu-sipu dan penuh rasa malu.
4.  Syaikh Abdurrazzaq pernah berkata, “Hai Firanda, meskipun sebuah hadiah nilainya tidak seberapa, bisa jadi sangat menyenangkan hati orang yang diberi. Suatu saat, aku pernah bertemu seorang penuntut ilmu dari Kuwait, dan aku hampir lupa kalau aku pernah mengajarnya. Lantas, saat kami bertemu, dia segera memelukku kemudian mengingatkan aku bahwa dia pernah aku ajar di bangku kuliah. Bahkan dia berkata, ‘Ya Syaikh, aku tidak pernah lupa hadiah bunga yang Syaikh berikan kepadaku, sampai sekarang masih aku simpan di bukuku.’ ”
Oleh karenanya, beliau terkadang bercanda dan memberikan hadiah untuk menyenangkan orang lain.

Nasihat dan Petuah Beliau[13]

Syaikh Abdurrazzaq berkata, “Aku ingin mengingatkan pada sebuah perkara yang terkadang kita melalaikannya tatkala kita mempelajari ilmu aqidah. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
كُلُّ عِلْمٍ وَعَمَلٍ لَا يَزِيْدُ الإِيمَانَ واليَقِيْنَ قُوَّةً فَمَدْخُوْلٌ، وَكُلُّ إِيمَانٍ لَا يَبْعَثُ عَلَى الْعَمَلِ فَمَدْخُوْلٌ
‘Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan maka telah termasuki (terkontaminasi), dan setiap iman yang tidak mendorong untuk beramal maka telah termasuki (tercoreng).’ [14]
Seorang muslim semestinya mempelajari aqidah. Dan hendaknya dia bersungguh-sungguh agar ilmu aqidahnya tersebut bisa memberi pengaruh pada diri, ibadah, dan taqarrub-nya kepada Allah.” [15]
Syaikh Abdurrazzaq pernah mengatakan, “Sibukkan dirimu dengan berdakwah, dan jika ada yang bertanya kepadamu tentang permasalahan ini (fitnah) maka janganlah kau terpancing, tetapi usahakan untuk mengingatkan si penanya agar sibuk dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat.”
Lanjutnya: “Kita sibuk dengan dakwah, urusan kita banyak, maka tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu. Aku pun tidak senang kalau disampaikan kepadaku permasalahan-permasalahan seperti ini, karena aku ingin hatiku bersih. Dan jika aku bertemu dengan orang yang menjelek-jelekan aku maka aku tetap akan ramah terhadap dia, karena aku tidak mendengar pembicaraannya tentangku.”
Syaikh Abdurrazzaq pernah menukil ucapan Ibnu Syaikh al-Hizamiyin, “Ilmu ini (menjelaskan dan membantah kesesatan pihak yang lain, Pen.) hukumnya haram bagi orang yang berkeinginan untuk menjatuhkan harga diri manusia dalam rangka memuaskan kehendaknya yang rusak atau untuk mendukung hawa nafsu yang diikuti. Dan ilmu ini hukumnya mubah (boleh) bahkan mustahab (sunnah) bagi orang yang hendak menjaga dirinya agar tidak terpengaruh kesalahan-kesalahan dan terjerumus dalam ketergelinciran. Ilmu ini tidak boleh dan tidak mustahab bagi orang yang hanya ingin mencela dan mengejek-ejek sehingga menjadikan pembicaraan tentang kesalahan orang lain sebagai bahan tertawaan dan candaan bukan sebagai sarana untuk mengenal kesalahan (agar tidak terjerumus) dan sebagai pelajaran. Akhirnya, ia pun mengungkap tirai yang menutup kesalahan-kesalahan orang lain tanpa niat yang benar. Padahal setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang memperoleh balasan sesuai dengan niatnya.” [16]
Syaikh mengomentari perkataan ini, “Betapa banyak di antara kita yang butuh akan nasihat yang sangat berharga ini.”

Karya-Karya Beliau

Syaikh Abdurrazzaq al-Abbad memiliki karya tulis yang cukup banyak yang menunjukkan ilmu beliau dan semangatnya dalam berdakwah; di antaranya adalah:
Karya beliau berupa tahqîq (editor):
(1)             Al-Inshaf fi Haqiqatil Auliya’ karya Imam Shan’ani
(2)            Al-Mukhtar fi Ushul Sunnah karya Imam Ibnul Banna
(3)            Juz’ul Bithaqah oleh Imam Hamzah al-Kinani
(4)            Qa’idah Mukhtasharah fi Wujubi Tha’atillah wa Rasulihi wa Wulatil Umur karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
(5)             Qa’idah Jalilah fi Qawa’id Asmail Husna oleh Ibnul Qayyim
(6)            Fathur Rahim al-Malikil al-Allam karya Syaikh as-Sa’di
(7)             Miftah Dar Sa’adah bi Tahqiq Syahadatail Islam karya Hafizh al-Hakami
(8)            Ushulun Azhimah min Qawa’id Islam karya Syaikh as-Sa’di
Karya beliau:[17]
(1)             At-Tabyin li Da’awatil Mardha wal Mushabin
(2)            At-Tuhfatus Saniyah Syarh Manzhumah Ibnu Abi Dawud al-Ha’iyah
(3)            Al-Hajj wa Tahdzibun Nufus[18]
(4)            Al-Hauqalah
(5)             Kitab adz-Dzikr wa Du’a
(6)            Al-Quthuf Jiyad min Hikami wa Ahkamil Jihad
(7)             Al-Qaulus Sadid fir Raddi ’ala Man Ankara Taqsimat Tauhid
(8)            Al-Mukhtashar al-Mufid bi Bayani Dalail Aqsami Tauhid*
(9)            Atsarul Fitan
(10)        Ayatul Kursi wa Barahinu Tauhid*
(11)          Atsarul Adzkar Syar’iyyah fi Thardil Ham wal Gham
(12)         Adzkaru Thaharah wa Shalat
(13)         Amnul Bilad wa Ahamiyyatuhu
(14)         Itsbatu annal Muhsin min Asmaillah Husna
(15)         Ta’ammulat fi Qauluhi “Wa Azwajuhu Ummathuhum”*
(16)         Ta’ammulat fi Mumatsalatil Mukmin lin Nakhlah*
(17)         Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah al-Hafizh Abdil Ghani al-Maqdisi
(18)        Takrimul Islam lil Mar’ah*
(19)         Tanbihat ’ala Risalah Muhammad Adil Azizah fish Shifat
(20)       Tsabatu Aqidah Salaf*
(21)         Tsamaratul Ilmi al-Amal*
(22)        Durus Aqadiyyah Mustafadah minal Hajj*
(23)        Syarh al-Urjuzah al-Miawiyyah fi Dzikri Hali Asyrafil Bariyyah
(24)        Syarh Manzhumah Ra’iyyah fi Sunnah
(25)        Syarh Manzhumah al-Mimiyah
(26)        Syarh Hadits Sayyidil Istighfar
(27)        Sifat Zaujah Shalihah
(28)       Asyrah Qawa’id fil Istiqamah*
(29)        Fadhlul Kalimat Arba’
(30)       Fiqhu al-Ad’iyah wal Adzkar — sebanyak 4 jilid
(31)         Fawaid Dzikir wa Tsamaratuhu
(32)        Fawaid Mustanbathah min Qishati Luqman al-Hakim
(33)        Kalimah fi Fiqih Du’a*
(34)        Kaifa Takunu Miftahan lil Khair
(35)        Fiqhul Asma’ Husna
(36)        Mafatihul Khair*
(37)        Makanah Da’wah Ilallah*
(38)       Manhaj Ahlis Sunnah fi Tauhidil Ummah*
(39)        Al-Fawaid al-Mantsurah*
(40)       “Syaikh Abdurrahman as-Sa’di wa Juhuduhu fi Taudhihil Aqidah” — tesis S2
(41)         Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu
(42)        Dirasat fil Baqiyat Shalihat
(43)        Khuthab wa Mawaidh min Hajjatil Wada’*
(44)        Syarh Manhaj Haq
(45)        Ta’liqat ’ala Risalah Wajibuna Nahwa Ma Amarana Allah
(46)        Wajibuna Nahwa Shahabah*
(47)        Al-Atsar al-Masyhur ’anil Imam Malik fi Shifatil Istiwa’*
(48)       Huquq Kibar Sinni fil Islam*
(49)        Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqsanihi*
(50)        Mukhtashar Fiqhul Asmail Husna
Tentunya, karya-karya ini masih belum berhenti, semoga beliau bisa melanjutkan untuk menulis karya-karya ilmiah lainnya lagi. Dan menariknya, buku-buku beliau kebanyakannya dicetak oleh para donatur dan dibagikan secara gratis, dan karya-karya beliau tersebut bisa diunduh di situs resmi beliau: http://www.al-badr.net/web/
Di samping aktif berdakwah dengan tulisan, beliau juga aktif berdakwah dengan lisan. Beliau mengajar di Jami’ah Islamiyyah Madinah, Masjid Jami’ah, Masjid Nabawi, dan masjid-masjid lainnya. Beliau juga aktif mengisi di Radio Idza’atul Qur’anil Karim, Saudi Arabia, sehingga akhirnya materinya dibukukan menjadi kitab yaitu Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar dan Fiqhul Asmail Husna. Sebagaimana beliau juga aktif mengisi kajian di Radio Rodja, Indonesia, yang diterjemahkan oleh Ustadz Firanda. Beliau juga terkadang melakukan safar ke luar negeri dalam rangka dakwah seperti seperti Afrika, Asia, dan Eropa. Dan khusus ke Indonesia, beliau sudah beberapa kali—setidaknya sudah tiga kali.
Akhirnya, kita berdo’a agar Allah memberkahi Syaikh yang mulia dalam ilmu dan dakwahnya dan kita berdo’a agar Allah memberikan kesempatan kepada beliau untuk berkunjung lagi ke Indonesia untuk menyambung silaturrahmi dan menyebarkan ilmu syar’i.
Oleh: Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi



[1]
      Awalnya, kami telah meminta kepada akhunâ fillâh al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda untuk menulis biografi Syaikh, karena menurut kami beliau lebih dekat dan lebih tahu tentang Syaikh daripada kami. Namunqadarullâh, beliau ada kesibukan sehingga tidak bisa menulis biografi Syaikh tetapi beliau mengirimkan kepada kami file bukunya Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah Hingga ke Radio Rodja. Mendulang Pelajaran Akhlak Dari Syaikh Abdurrazzaq al-Badr. Alhamdulillah, kami sangat terbantu dengan referensi tersebut. Jazâhullâhu khairan.
[2]     Menakjubkanku ucapan Syaikh Hammad al-Anshari tentang beliau, “Saya tidak pernah melihat orang yang sangat wara’ semisal Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.” (al-Majmû’ 2/621). Dan menarik juga sebuah gelar yang disandangkan kepada beliau “Thabîbu Jarhâ Ahlis Sunnah” (Dokter Spesialis Penyakit dan Luka Ahli Sunnah) karena beliau aktif memberikan nasihat kepada kaum Ahli Sunnah yang ribut mengurusi fitnah. (Simak kajian syarah/penjelasan Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi terhadap risalah Rifqan Ahlis Sunnah bi Ahlis Sunnah karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad)
[3]
      Itulah sebabnya, kita merasakan bahwa Syaikh Abdurrazzaq banyak mengetahui perihal Syaikh as-Sa’di dan banyak terpengaruh dengan ilmu dan akhlaknya.
[4]
      Al-Majmu’ fi Tarjamati al-Muhaddits Syaikh Hammad al-Anshari 2/678
[5]
      Majmu’ Fatawa 21/512
[6]
      Kata pengantar Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar hlm. 4 karya Syaikh Abdurrazzaq al-Abbad, cet. Dar Ibnu Affan
[7]
      Kata pengantar al-Qaulus Sadid fir Raddi ’ala Man Ankara Taqsima Tauhid hlm. 7 karya Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, cet. Dar Ibnu Affan dan Dar Ibnul Qayyim.
[8]
      Kata pengantar Durusun ’Aqadiyyah al-Mustafadah minal Hajj hlm. 7 karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr.
[9]     Kata pengantar Fiqhul Asma’ Husna hlm. 3 karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr.
[10]
      Kata pengantar Syarh Manzhumah al-Mimiyah fil Washaya wal Adab Ilmiyyah hlm. 5 karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, cet. Darul Fadhilah.
[11]
      Diwan al-Mutanabbi hlm. 79
[12]
      Poin pembahasan ini banyak dinukil dari buku Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah Hingga ke Radio Rodja oleh akhuna fillah al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda—waffaqahullah, cet. Pustaka Cahaya Sunnah, 1431 H.
[13]
      Poin pembahasan ini banyak dinukil dari buku Sepenggal Catatan Perjalanan dari Madinah Hingga ke Radio Rodja oleh akhuna fillah al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda—waffaqahullah, cet. Pustaka Cahaya Sunnah, 1431 H.
[14]
      Al-Fawaid hlm. 86
[15]
      Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah al-Hafizh Abdul Ghaniy al-Maqdisi hlm. 21–22
[16]
      Rihlatu al-Imam Ibnu Syaikhil Hazzamain min Tasawufil Munharif ila Tasawwufi Ahlil Haditsi wal Atsar hlm. 16
[17]
      Dan judul kitab yang kami beri tanda bintang (*) pada akhirnya adalah tanda bahwa buku tersebut pernah diringkas dan dimuat di majalah ini, baik pada edisi kali ini atau sebelumnya.
[18]
      Masih segar dalam ingatan saya ketika pertama kali menunaikan haji pada tahun 1425 H, saya membaca buku ini saat di Mina. Ketika Syaikhuna Abdurrahman ad-Dahsy mengetahui saya membaca buku ini, maka beliau meminta kepadaku untuk membacakannya di hadapan para jama’ah haji yang lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar