Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Rabu, 25 Juli 2012

Tuduhan Dusta Professor Hadits Indonesia Ali Mushthafa Yaqub terhadap Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani

Tuduhan Dusta Professor Hadits Indonesia Ali Mushthafa Yaqub terhadap
Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani
(Di Buku ‘Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan’)
 
Tulisan ini aku rangkum dari buku ‘Syaikh al Albani Dihujat’ karya Ustadz Abu Ubaidah hafizhahullah sebagai rasa kecintaanku terhadap salah seorang Imam ahlus sunnah yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albanirahimahullah, sang pengibar bendera tauhid dan sunnah, yang mana dakwah beliau selalu dipenuhi dengan cobaan dan rintangan dalam rangka mengembalikan manusia hanya menyembah kepada Allah Ta’ala semata serta dalam rangka menegakkan sunnah Nabi ShallallaHu ‘alayHi wa sallam, dan alhamdulillah dakwah beliau yangmubarakah tersebut telah banyak memberikan manfaat kepada kaum muslimin dan manusia.
 
Uhibbush shaalihiina wa lastu minHum
La’allallaHa yarzuqnii shalaahaa”
 
Saya mencintai orang-orang shalih sekalipun belum bisa seperti mereka
Semoga Allah Ta’ala lekas memberiku anugerah keshalihan”
 
Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,
 
Al mar-u ma’a man ahabba” yang artinya “Seorang itu bersama orang yang dia cintai” (HR. al Bukhari no. 6168 dan Muslim no. 2640)
 
Sahabat Anas bin Malik radhiyallaHu ‘anHu berkata, “Kami tidak pernah bergembira setelah Islam lebih dari kegembiraan kami setelah mendengar sabda Nabi, ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’. Maka saya mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar dan Umar. Saya berharap agar saya bersama mereka sekalipun saya tidak bisa beramal seperti mereka” (HR. Muslim no. 2639)
 
Dan aku tidak bertaklid kepada beliau atau pun mensucikannya, sebagaimana ucapan salah satu murid beliau, Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah,
 
Seandainya kami ingin untuk taklid kepada Ibnu Baz atau al Albani, tentu kami akan taklid kepada orang yang lebih baik dari keduanya seperti Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, al Bukhari, Muslim dan lain sebagainya” (Majalahash Shalah edisi 34 tahun ke 6)
 
Juga ucapan seorang ulama besar Syaikh al Utsaimin rahimahullah“Syaikh al Albani adalah orang yang sangat dalam ilmunya, luas telaahnya dan kuat argumennya. Namun semua orang dapat diambil dan ditolak ucapannya selain perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya” (Hayatul Albani 2/543)
 
Celaan dusta sang professor
 
Imam ash Shabuni meriwayatkan dalam Aqidah Salaf halaman 116 bahwa Imam Ahmad bin Sinan al Qaththanrahimahullah pernah berkata,
 
Laysa fid dunyaa mubtadi-un illaa wa Huwa yubghidhu aHlal hadiitsi” yang artinya “Tidak ada seorang ahli bid’ah pun di dunia ini kecuali dia benci terhadap ahli hadits”
 
Berikut daftar tuduhan dusta sang professor terhadap Syaikh al Albani di dalam bukunya ‘Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan’ :
 
  1. Pada halaman 135, sang professor menulis, “Ungkapan ini kongkritnya adalah al Albani adalah seorang yang bodoh”
 
  1. Pada halaman 133, sang professor menulis, “Maka, tidak heran apabila ahli hadits dari Maroko Syaikh Abdullah al Ghumari menyatakan bahwa al Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai hadits, baik shahih atau pun dha’if”
 
  1. Masih pada halaman 133, sang professor menulis, “Tidak mengherankan pula apabila Syaikh Muhammad Yasin al Fadani, ulama Saudi Arabia keturunan Sumatera Barat Indonesia mengatakan, ‘Al Albani adalah sesat dan menyesatkan”
 
  1. Pada halaman 136 sang professor menukil ucapan al Ghumari, “Al Albani lemah dalam ilmu hadits baik matan maupun sanadnya”
 
  1. Pada halaman 93 sang professor menulis, “Dan kami sungguh tidak mengerti sikap al Albani ini, apakah memang dia itu tidak mengerti ilmu hadits, seperti yang dituduhkan oleh banyak ulama padanya, atau dia itu membuat kaidah-kaidah sendiri untuk mendha’ifkan atau menshahihkan hadits di luar kaidah-kaidah yang telah baku dan disepakati para ulama dalam disiplin ilmu hadits”
 
  1. Pada halaman 131 sang professor menulis, “Sasarannya tampaknya jelas sekali, bahwa dia berusaha mengelakkan diri dari tuduhan mendha’ifkan hadits-hadits Imam al Bukhari dan Muslim”
 
  1. Pada halaman 133 sang professor menulis, “Berdasarkan temuan-temuan di atas, maka kami menyatakan bahwa pernyataan as Saqqaf di atas adalah benar. Yaitu al Albani dinyatakan positif mendha’ifkan hadits-hadits riwayat Imam al Bukhari dan Imam Muslim, tanpa menyebutkan alasan kedha’ifannya”
 
  1. Pada halaman 125 sang professor menulis, “Ia bukan hanya berani melawan arus pemikiran Islam yang sedang berkembang, tetapi melawan gelombang-gelombang raksasa pemikiran Islam yang sudah mapan selama empat belas abad”
 
  1. Pada halaman 124 sang professor menulis, “Kami tidak tahu persis, apakah tidak adanya kritik itu –selain darial Habsyi- pada awalnya, telah menyebabkan al Albani –seperti dituduhkan banyak ulama- menjadi orang yang sangat sombong”
 
  1. Pada halaman 130 sang professor memberi julukan mbulet dan ngambang terhadap Syaikh al Albani.
 
  1. Dan masih ada lagi celaan dusta yang dituduhkan sang professor yang diarahkan kepada Syaikh al Albani, silahkan pembaca untuk merujuk ke buku ‘Syaikh al Albani Dihujat’ karya Ustadz Abu Ubaidah hafizhahullah.
 
Jati diri sang professor
 
Dalam buku tersebut terpampang nama sang professor sebagai ‘Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darus Sunnah’ juga ‘Guru Besar Ilmu Hadits Institut Ilmu al Qur’an (IIQ) Jakarta’.
 
Sang professor rupanya juga anggota Dewan Syariah Majelis az Zikra (majelis dzikir jama’i) pimpinan M. Arifin Ilham yang terdiri dari 15 orang diantaranya : Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Dr. Ali Yafie, Prof. Dr. Ali Mushthafa Yaqub, Dr. Didin Hafidhuddin, Dr. Salim Segaf al Jufri, K. H. Ahmad Dimyati MA. dan Ja’far Umar Thalib. (Lihat daftar selengkapnya dalam buku ‘Zikir Berjamaah, Sunnah atau Bid’ah’ hal. xxxvii oleh Ahmad Dimyati)
 
Alangkah bagusnya ucapan Syaikh al Albani pada kesempatan seperti ini, “Burung-burung itu biasanya berkumpul dengan sesama jenisnya !” (Tahrim alath Tharb halaman 32)
 
Benarlah apa yang diucapkan Syaikh al Albani, betapa model dzikir majelis az zikra itu diingkari para salafush shalih serta para ulama karena model dzikir jama’i tersebut merupakan sesuatu yang tidak dikenal di dalam Islam (muhdats).
 
Perbedaan akhlak sang professor dengan gurunya
 
Imam an Nawawi berkata dalam Irsyaadul Haqaiq (I/498),
 
Ilmu hadits merupakan ilmu yang sangat mulia, sesuai dengan adab dan akhlak mulia. Dia termasuk ilmu akhirat, bukan ilmu dunia. Barangsiapa diharamkan mendapatkan ilmu tersebut, berarti dia diharamkan meraih kebaikan yang banyak dan barangsiapa yang diberi karunia memperolehnya, berarti dia mendapatkan keutamaan yang melimpah”
 
Sungguh benar hadits Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,
 
Jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu” (HR. al Bukhari no. 3485)
 
Sang professor menulis pada bukunya di halaman 125-127, “…Guru kami sendiri Prof. Dr. Muhammad Musthafa al A’zhami, pendekar hadits kelahiran Uttar Pradesh India yang menjadi Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas King Saudi Arabia
 
Sungguh aneh, guru sang professor sendiri yaitu Syaikh al A’zhami mengakui keunggulan Syaikh al Albanirahimahullah dalam ilmu hadits, dimana tatkala beliau mengedit Kitab Shahiih Ibni Khuzaimah beliau mengirimkannya kepada Syaikh al Albani memohon koreksiannya serta mengucapkan terima kasih dan mensifati Syaikh al Albani dengan, “Syaikh yang mulia, ahli hadits besar, al Ustadz Nashiruddin al Albani”.
 
Lebih dari itu, guru sang professor mengatakan,
 
Bila Syaikh (al Albani) berbeda hukum denganku dalam masalah shahih dan dha’ifnya hadits, maka saya menetapkan pendapatnya, karena saya percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama” (Muqadimah Dr. Musthafa al A’zhami dalam Shahiih Ibni Khuzaimah I/6, 32)
 
Syaikh Muhammad bin Ibrahim asy Syaibani berkata, “Hal ini menunjukkan tawadhu’nya Dr. Musthafa al A’zhami dan jauhnya beliau dari kepuasan hawa nafsu” (Hayatul Albani I/66)
 
Tapi yang paling aneh adalah ucapan yang kurang pantas sang professor kepada gurunya sendiri yang dia tulis di halaman 127, “Sekiranya sampai saat ini al A’zhami masih pasrah bongkokan terhadap al Albani dalam masalah tersebut, maka berarti guru kami itu telah menempatkan dirinya di bawah ketiak al Albani
 
SubhanallaaH, seperti inikah adab professor doktor hadits Indonesia terhadap gurunya sendiri !?
 
Betapa banyak orang bodoh yang rendah hati,
Kebodohannya tertutupi oleh tawadhu’nya
 
Dan betapa banyak orang yang pintar,
Keutamaannya hancur lebur karena kesombongannya
 
Coba bandingkan akhlak guru dengan muridnya !
 
Ulama panutan sang professor : al Ghumari, as Saqqaf dan al habsyi
 
Dalam buku tersebut sang professor suka mengutip perkataan Abdullah al Ghumari, Hasan as Saqqaf dan ‘Abdullah al Harari al Habsyi. Siapakah mereka-mereka itu ?
 
Abdullah al Ghumari adalah tokoh tarekat, shufi tulen, doyan bid’ah, benci terhadap ulama salaf seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab dan lainnya. Dia menulis buku al Qaulul Muqni’ fi ar Raddi ‘alal Albani al Mubtadi’ (Bantahan memuaskan terhadap al Albani, si Pembuat Bid’ah)
 
Perhatikan tuduhan keji al Ghumari terhadap Syaikh al Albani di bukunya halaman 19, “Sungguh salah orang yang menganggap dirinya sebagai wahhabi bahkan lebih tulen fanatiknya daripada wahabiyyun, berpegang tekstual dalil tanpa pemahaman, lebih parah tekstualnya daripada Ibnu Hazm, keji ucapannya dan sangat ekstrim sekali sehingga tak bisa digambarkan dalam benak manusia. Demikianlah karakteristik para pengaku sunnah dan manhaj salaf pada zaman sekarang ini !”
 
Celotehan si al Ghumari ini berlanjut, “Lantas kenapa si al Albani, ahli bid’ah ini memecah belah barisan kaum muslimin dan menyesatkan mayoritas mereka sehingga tidak ada yang berada di atas as sunnah melainkan hanya dia dan orang-orang yang sejalan dengannya dari kalangan hasyawiyyah dan mujassimah !”
 
Wahai al Ghumari, tidakkah engkau tahu ! Tuduhan hasyawiyyah dan mujassimah adalah tuduhan yang dilontarkan oleh Jahmiyah dan Mu’tazilah kepada ahlus sunnah dari dulu hingga sekarang ! Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ishaq bin Rahawaih, Abu Hatim ar Razi, ash Shabuni, Ibnu Taimiyyah dan lainnya (LihatSyarh Ushul I’tiqad I/204 oleh Imam al Lalikai, Aqidah ath Thahawiyah I/85, Minhajus Sunnah II/75 danAqidah Salaf hal. 116). Apakah engkau sekarang menjadi seorang jahmiyah atau mu’tazilah !?
 
Syaikh al Albani berkata dalam Silsilah adh Dha’ifah III/8-9, “Cukuplah sebagai bukti ucapan saya, bahwa al Ghumari merupakan tokoh Tarekat Syadhiliyyah Shiddiqiyah dan dia bangga dengannya sebagaimana terbukti dalam sebagian Kitabnya”
 
Tokoh panutan sang professor berikutnya adalah Hasan Saqqaf, seorang jahmiyah tulen, mengingkari sifat-sifat Allah Ta’ala dengan takwil dan ta’thil. Buktinya adalah ucapan dia di dalam bukunya at Tandid liman ‘Adada at Tauhid hal. 50, “Ahlus sunnah wal jama’ah menegaskan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh disifati kalau Dia berada di luar alam maupun di dalam alam”
 
Si Saqqaf ini juga berkata dalam kitabnya yang penuh celaan terhadap Syaikh al Albani yang berjudul Tanaqudhat al Albani hal. 4, “Tidak samar lagi bahwa Syaikh (al Albani) menanggap bahwa dirinya adalah satu-satunya ulama masa kini, seluruh ucapannya tidak boleh dikritik dan dia merasa lebih unggul daripada ulama terdahulu dalam mendapati tambahan-tambahan lafazh hadits”
 
Syaikh al Albani sendiri tidak berkomentar apa-apa atas tuduhan si Saqqaf ini kecuali hanya mengatakan seraya mengutip firman Allah Ta’ala,
 
Maha Suci Engkau, ini adalah dusta yang besar” (QS. An Nur : 16)
 
Tokoh panutan sang professor yang ketiga adalah Abdullah al Harari al Habsyi. Coba kita perhatikan fatwa Lajnah ad Daa-imah (12/308-323) yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang si al Habsyi ini, “Dalam masalah iman, ia dan pengikutnya berfaham murji’ah, membolehkan isti’anah, isti’adzah dan istighasah kepada orang-orang yang telah mati, mengingkari ketinggian Allah Ta’ala di atas langit, menghina sebagian sahabat Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam seperti menegaskan bahwa sahabat Mu’awiyah adalah fasiq …”
 
Tuduhan si al Habsyi terhadap Syaikh al Albani telah dibantah oleh Syaikh al Albani sendiri dalam Majalah at Tamaddun al Islami kemudian dibukukan secara khusus dengan judul ar Raddu ‘ala at Ta’aqqub al Hatsits.
 
Mungkin hal inilah yang membuat sang professor doktor ini bingung, yang menyebabkan begitu mudahnya menuliskan celaan-celaan dusta terhadap Syaikh al Albani, disatu sisi ia belajar kepada pendekar hadits India kelahiran Uttar Pradesh, Syaikh A’zhami di satu sisi dia mengambil musuh-musuh ahlus sunnah sebagai panutan sehingga membuat manhajnya menjadi gado-gado.
 
Tidakkah sang professor pernah mendengar perkataan seorang tabi’in Muhammad bin Sirin rahimahullah,“Agama ini sanad, maka perhatikanlah dari mana kamu mengambilnya !” ?
 
Syaikh al Albani Ahli Hadits masa kini
 
Silahkan pembaca merujuk ke buku Syaikh al Albani Dihujat buah pena Ustadz Abu Ubaidah hafizhahullaH, untuk mendapatkan bantahan-bantahan yang sangat baik dan mendetail berkaitan dengan tuduhan dusta sang professor terhadap Syaikh al Albani.
 
Cukuplah bagiku ucapan dan pujian para ulama tentang beliau menentramkan hatiku bahwa memang beliau adalah benar-benar seorang ahli hadits yang berakhlak mulia. Dan aku mencintai orang-orang yang mencintai beliau karena Allah Ta’ala dan aku membenci orang-orang yang membenci beliau juga karena Allah Ta’ala.
 
  1. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah mengatakan, “Saya tidak pernah mengetahui seorang pun di atas bumi ini yang lebih alim dalam bidang hadits pada masa kini yang mengungguli Syaikh al Albani rahimahullah” (Majalah ash Shalah, Yordania th. 4 Edisi 23/Sya’ban/th. 1420 H., hal. 76)
 
  1. Syaikh bin Baz rahimahullah juga mengatakan, “Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani adalah mujaddid zaman ini dalam dugaanku, wallaHu a’lam”
 
  1. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah berkata mensifati Syaikh al Albani, “Ahli hadits negeri Syam, pemilik ilmu yang sangat luas tentang hadits secara riwayah dan dirayah. Allah Ta’ala menganugerahkan manfaat yang banyak kepada manusia melalui karya-karya ilmiahnya berupa ilmu dan semangat mempelajari ilmu hadits” (Hayatul Albani II/543 oleh Muhammad bin Ibrahim ays Syaibani)
 
  1. Syaikh al Utsaimin juga berkata, “Imam ahli hadits. Saya belum mendapati seorang pun yang menandinginya di zaman ini” (Kaset Majalis Huda wa Nur Aljazair no. 4 tanggal 9/Rabi’ul Awal 1420 H)
 
  1. Syaikh al ‘Allaamah ‘Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad, pengajar di Masjid Nabawi saat ini berkata, “Syaikh al ‘Allamah al Muhaddits Muhammad Nashiruddin al Albani. Saya tidak menjumpai orang pada abad ini yang menandingi kedalaman penelitian haditsnya” (Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah hal. 35-36)
 
  1. Syaikh Humud bin Abdullah at Tuwaijiri mengatakan, “Sekarang ini al Albani menjadi tanda atas sunnah. Mencela beliau berarti mencela sunnah” (Maqalatul Albani hal. 224 oleh Nurudin Thalib)
 
  1. Syaikh Dr. Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid, anggota komisi fatwa Saudi Arabia mengatakan dalam membantah ucapan Muhammad Ali ash Shabuni, “Ini merupakan kejahilan yang sangat dan pelecehan yang keterlaluan, karena kehebatan ilmu al Albani dan perjuangannya membela sunnah dan ‘aqidah salaf sangat populer dalam hati para ahli imu. Tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali musuh yang jahil” (at Tahdzir min Mukhtasharat as Shabuni fi Tafsir hal. 41)
 
  1. Syaikh al Muhaddits Abdush Shamad Syarafuddin, pengedit Kitab Sunan Kubra karya Imam an Nasai telah menulis surat kepada al Albani rahimahullah sebagai berikut, “Telah sampai sepucuk surat kepada Syaikh ‘Ubaidullah ar Rahmani, ketua Jami’ah as Salafiyah dan penulis Mir’aah al Mafaatih Syarah Misykah al Mashahib sebuah pertanyaan dari lembaga fatwa Riyadh Saudi Arabia tentang hadits yang sangat aneh lafaznya, agung maknanya dan memiliki korelasi erat dengan zaman kita. Maka, seluruh ulama di sini semua bersepakat untuk mengajukan pertanyaan tersebut kepada seorang ahli hadits yang paling besar abad ini, yaitu Syaikh al Albani rahimahullah, ‘alim Rabbani” (Hayatul Albani I/67, Majalah at Tauhid, Mesir th. 28 Edisi 8/Sya’ban/th. 1420 H, hal. 45)
 
  1. Sekali lagi, ucapan pendekar hadits asal India kelahiran Uttar Pradesh Dr. Muhammad al Mushthafa al A’zhami,“Bila Syaikh (al Albani) berbeda hukum denganku dalam masalah shahih dan dha’ifnya hadits, maka saya menetapkan pendapatnya, karena saya percaya kepadanya, baik dari segi ilmu dan agama” (Muqadimah Dr. Musthafa al A’zhami dalam Shahiih Ibni Khuzaimah I/6, 32)
 
  1. Dan pujian-pujian lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu disini, silahkan pembaca merujuk ke BukuBiografi Syaikh al Albani karya Ustadz Mubarak Ba Mu’alim hafizhahullaH.
 
Syaikh al Albani pribadi yang Rendah Hati
 
Pada halaman 124 sang professor menulis, “Kami tidak tahu persis, apakah tidak adanya kritik itu –selain dari al Habsyi- pada awalnya, telah menyebabkan al Albani –seperti dituduhkan banyak ulama- menjadi orang yangsangat sombong
 
Wahai professor, tahukah anda apakah sombong itu !?
 
Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam bersabda,
 
Al kibru bathrul haqqi wa ghamthun naasi” yang artinya “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim no. 91)
 
Apakah sang professor ingin mengatakan bahwa Syaikh al Albani menolak kebenaran dan meremehkan manusia !? Perhatikan ucapan Syaikh al Albani dalam memuji manusia dan rujuknya beliau terhadap pendapat-pendapat beliau yang keliru,
 
  1. Syaikh al Albani berkata, “Bumi ini tidak pernah sepi dari para ulama, tetapi pada zaman ini saya tidak mengetahui mereka kecuali hanya sedikit. Saya sebut secara khusus diantara mereka adalah al ‘Allaamah ‘Abdul Aziz bin Baz dan al Allamah Muhammad bin Shalih al Utsaimin” (Fatawa Ulama Akabir hal. 6 oleh Syaikh Abdul Malik ar Ramadhani)
 
  1. Pada akhir sebuah dialog dengan orang-orang yang membencinya Syaikh al Albani berkata, “Bagaimanapun, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Saya meminta maaf kepadamu bila saya berbuat salah dan saya mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan yang saya perbuat kepada seorang muslim”(Muhaddits ‘Ashr Muhammad Nashiruddin al Albani hal. 44-45 oleh Samir bin Amin az Zuhairi)
 
  1. Syaikh al Albani rahimahullah berkata, “Dalam cetakan-cetakan yang lalu tertulis … dengan huruf ba’, seharusnya yang benar dengan ya’. Hal itu termasuk kesalahan yang diingatkan oleh Syaikh yang mulia Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam surat yang beliau berkenan mengirimkannya kepada kami tanggal 20/2/1409 H. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikkan” (Shifat Shalat Nabi hal. 149)
 
  1. Syaikh al Albani berkata, “Perhatian, pada cetakan yang lalu, saya menyebut tentang hadits ini jalan lain dari Abu Said dengan menyandarkan pada al Muntakhab Minal Musnad oleh Ibnu Humaid, kemudian sebagian saudara kami mengingatkanku, diantaranya adalah Syaikh Abdur Rahim Shiddiq al Makki bahwasannya jalan itu untuk hadits lain. Saya bertaubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya” (Silsilah ash Shahihah I/619)
 
  1. Syaikh al Albani berkata, “Saya mengambil faidah hal ini dari saudara yang mulia ‘Abdullah ash Shalih dalam risalahnya at Ta’aqqubat al Malihah ‘alas Silsilah ash Shahihah. Sungguh dia telah mendapatkan taufiq dalam kebanyakan kritikannya itu” (Silsilah ash Shahihah I/655)
 
  1. Syaikh al Albani mengambil faidah dari muridnya sendiri Syaikh Masyhur Hasan, “Kemudian jelas bagiku bahwa tashhih Ibnu Qaththan pada hadits dari jalan pertama dari Ibnu Abbas syadz, demikian pula jalan ketiga. Sungguh saya telah mengambil faidah semua ini dari editor yang dilakukan oleh saudara yang mulia, Masyhur Hasan dalam ta’liqnya terhadap Kitab al Khilafiyat karya al Baihaqi I/366-393. Semoga Allah Ta’ala memudahkan penyempurnaannya dan memberikan banyak manfaat kepada para pembacanya”(Silsilah ash Shahihah I/903)
 
  1. Syaikh al Albani juga berterima kasih kepada muridnya Syaikh Ali al Halabi, “Tak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada saudara Ali al Halabi, karena saya telah mengambil faidah dari beberapa koreksiannya yang dia tulis pada asli tulisan tanganku, sebagiannya dia telah menulisnya puluhan tahun yang lampau atau dia menulisnya pada sebagian garapan yang memang saya minta padanya untuk menelitinya” (Silsilah ash Shahihah VI/8)
 
  1. Bahkan Syaikh al Albani dengan lapang dada mau diingatkan oleh seorang murid Jami’ah Islamiyah,“Kesalahan saya itu diingatkan kepadaku oleh seorang murid di Jamiah Islamiyah Madinah setelah saya usai menjalankan Umrah pada bulan Ramadhan tahun 1405 H. Semoga Allah membalas kebaikannya” (Silsilah ash Shahihah II/226)
 
  1. Silahkan pembaca merujuk ke buku-buku Syaikh al Albani seperti Silsilah ash Shahihah yang menunjukan ketawadhu’an beliau dalam menerima kritikan dan ralat.
 
Dari perkataan-perkataan Syaikh al Albani di atas maka tidak terbuktilah ucapan sang professor yang menyatakan bahwa al Albani sangat sombong kecuali sang professor mempunyai definisi lain tentang apa yang disebut sombong itu
 
Bila rumahmu terbuat dari kaca,
Maka jangan lempar rumah orang lain dengan batu
 
Wahai professor ! jika engkau ingin mengkritik dan membantah pendapat al Albani bantahlah secara ilmiah dan dengan adab yang mulia sebagaimana yang dilakukan para salafush shalih terdahulu bukan dengan kata-kata kurang beradab dan celaan-celaan dusta.
 
Khatimah
 
Demikianlah rangkuman sederhana ini, semoga menjadi setitik bayan bagi orang yang membenci Syaikh al Albanirahimahullah serta menuduhnya dengan tuduhan yang kurang pantas tanpa haq.
 
Sekali lagi jika pembaca ingin mengetahui pembelaan terhadap Syaikh al Albani lebih lengkap dan detail atas tuduhan Prof. Dr. Ali Mushthafa Yaqub maka silahkan membaca Buku Syaikh al Albani Dihujat karya Ustadz Abu Ubaidah hafizhahullaH, dimana aku banyak mengambil faidah dari buku tersebut.
 
Dan aku meminta ampun kepada Allah Ta’ala jika aku berbuat salah pada tulisan ini.
Maraji’:
 
Syaikh al Albani Dihujat, Ustadz Abu Ubaidah, Pustaka Abdullah Jakarta, Cetakan Pertama, 5 Oktober 2005, 1 Ramadhan 1426 H.

8 komentar:

  1. Semoga Allah memberi hidayah petunjuk kepada profesor tersebut...aamiin....

    BalasHapus
  2. Al Bani bukan ahli hadis tapi tukang jam betul tuh Profesor

    BalasHapus
  3. Seandainya Al Bani masih hidup kemudian diskusi hadis dengan Prof A M Y. insyallah Al Bani taubat atas kelalaian dan gegabahnya melemahkan hadis Imam Bukhari dan ulama hadis lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah banyak ulama sebelum Al Albani yang mengkritik hadits pada kitab shahihah.

      Contoh saja, Ibnu Hazm. beliau melemahkan banyak hadits shahih tentang keharaman musik di dalam shahihah.

      Kitab shahih Bukhari adalah kitab hadits tershahih menurut kebanyakan ulama, namun tidak terlepas dari kritik.

      Coba saja Anda baca Fathul Baari. pada lembaran2 pertama tentang hadits yg berhubungan dengan niat (''Tiap-tiap amal perbuatan harus disertai dengan niat, balasan bagi setiap amal ...") saja Ibnu Hajar dan ulama lainnya berkomentar sangat banyak karena ada bagian matan hadits yg hilang/ tidak disebutkan.

      dan perbincangan seperti itu adalah hal biasa di kalangan penuntut ilmu.
      Mungkin antum sebaiknya baca Kitab Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar

      Begitu banyak orang yg mengaku bermazhab Syafiiyah di bumi petiwi, tapi sedikit yg membacanya...

      Hapus
  4. من تكلم في غير فنه أتى بالعجائب

    BalasHapus
  5. Abu Salafy, itu syiah..., dia bertaqiyah dengan memakai nama "Abu salafy", untuk merusak reputasi Salafy

    BalasHapus
  6. saling menghebatkan para gurunya masing masing...

    BalasHapus