Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Rabu, 10 Juli 2013

Mengapa Laporan dari Cakung Ditolak?

  • Memang Cakung dari tahun ketahun mengambil sikap beda dengan pemerintah alias yang penting beda dengan pemerintah padahal di wilayah lainnya selain Cakung tidak bisa melihat hilal, ini adalah hal yang muskil dan aneh, dan yang lebih menggelikan lagi ketika ditanya kepada mereka apa yang menjadikan mereka seringnya bisa melihat hilal kemudian salah seorang dari mereka menjawab kami tidak hanya melihat dengan kasat mata tetapi juga dengan mata bathin, subhaanallah nas’alullaha al’aafiyah
 hilal
Tim rukyat Husainiyah Cakung mengaku berhasil melihat hilaal pada Senin 8 Juli 2013 pukul 17:52 WIB di titik observasi mereka, di kawasan Cakung (Jakarta). Mereka (terdiri dari tiga orang) mengaku menyaksikan hilaal selama 1,5 menit dengan mata saja (tanpa alat bantu optik). Namun laporannya kemudian tidak diterima dalam forum sidang isbat penetapan awal Ramadhan 1434 H di Indonesia.

Mengapa ditolak? Sederhana saja. Karena pada jam dan menit yang mereka nyatakan sebagai saat hilaal terlihat, ternyata Bulan sudah terbenam alias tidak lagi berada di atas cakrawala. Jadi tidak butuh analisis yang rumit-rumit untuk menyatakan bahwa obyek yang mereka lihat jelas bukan Bulan.
Simulasi berbasis Starry Night (yang telah terbukti akurasinya kala dibandingkan dengan fenomena alamiah seperti gerhana Matahari dan Gerhana Bulan) dengan titik amat Jakarta pada elevasi 10 m dari paras air laut rata-rata menunjukkan, saat sebagian Matahari mulai memasuki cakrawala barat (pada pukul 17:45 WIB), di langit Jakarta memang masih ada Bulan, meski ketinggiannya sangat rendah. Dan Bulan kemudian menyusul terbenam sempurna pada pukul 17:48 WIB. Sehingga jika ada yang menyatakan melihat hilaal pada pukul 17:52 WIB dan penglihatan berlangsung selama 1,5 menit (yang berarti terjadi antara pukul 17:50 hingga 17:52 WIB), maka jelas, bukan Bulan yang mereka lihat.
Sebagai pembanding dari tim Husainiyah ini, pada titik rukyat Cakung juga terdapat dua tim rukyat lain yang berbeda, masing-masing dari Kementerian Agama dan LAPAN. Kedua tim memperlengkapi diri dengan teleskop berpenjejak otomatik dan instrumen-instrumen pendukung. Namun keduanya melaporkan, tak ada obyek yang serupa seperti yang dilihat tim lainnya. Ini sekaligus sebagai verifikasi bahwa apa yang disaksikan tim Husainiyah bukanlah Bulan.
Jadi mengapa laporan Cakung ditolak? Karena yang dilihat bukan Bulan
Adapun kesaksian di Cakung yang katanya 3 orang melihat Hilal, yaitu HM.Labib, S.Pdi, Nabil, dan Afriyanto, ana sudah pernah bertemu dengan 3 orang tersebut tetapi sangat disayangkan demi Allah ana menyaksikan sendiri bahwa mereka masih suka merokok dan minum dengan tangan kiri sambil berdiri jelas ini bukan adab islam bagaimana mungkin kesaksiannya akan diterima sedangkan Imam Bukhori Rohimahullah ketika akan mengambil hadits dari seorang perawi namun karena ahlaqnya buruk beliau tidak jadi mengambil hadits darinya apalagi yang suka merokok yang sudah jelas-jelas keharamannya lebih tidak diterima lagi. Memang Cakung dari tahun ketahun mengambil sikap beda dengan pemerintah alias yang penting beda dengan pemerintah padahal di wilayah lainnya selain Cakung tidak bisa melihat hilal, ini adalah hal yang muskil dan aneh, dan yang lebih menggelikan lagi ketika ditanya kepada mereka apa yang menjadikan mereka seringnya bisa melihat hilal kemudian salah seorang dari mereka menjawab kami tidak hanya melihat dengan kasat mata tetapi juga dengan mata bathin, subhaanallah nas’alullaha al’aafiyah
Ana ingatkan dengan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa sumpah atau kesaksian seseorang tidak menjamin keabsahan suatu perkara, apalagi sumpah atau kesaksian dari 3 orang petugas ru’yatul hilal di Cakung
صحيح مسلم ٤٦٠١: و حَدَّثَنِي الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ سَعْدٍ السَّمَّانُ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ فَلَا أَدْرِي فِي الثَّالِثَةِ أَوْ فِي الرَّابِعَةِ قَالَ ثُمَّ يَتَخَلَّفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ
Shahih Muslim 4601: Dan telah menceritakan kepadaku Al Hasan bin ‘Ali Al Hulwani; Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Sa’ad As Samman dari Ibnu ‘Aun dari Ibrahim dari ‘Abidah dari ‘Abdullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya lagi, -aku tidak tahu- beliau menyebutkan generasi setelah beliau tiga kali atau empat kali.- lalu beliau bersabda lagi: ‘kemudian akan datang generasi setelah mereka yang mana persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya, atau sumpahnya mendahului persaksiannya“. (sumber dari :ma’rufin sudibyo, Prof. thomas jamaluddin &akhi supriyadi ) PETRUS GOLOSAE • a day ago dalam komen di http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/07/08/25775/pemerintah-abaikan-saksi-hilal-di-Cakung-meski-telah-disumpah/
(nahimunkar.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar