Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Kamis, 27 September 2012

Mahasiswa Mesir Ragukan Keilmuan Guru Besar IAIN Semarang Pengritik Hadits

Mahasiswa Mesir menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin –yang mengkritik hadits Shahih Bukhari karena dia anggap tidak rasional— adalah karena guru besar IAIN Semarang ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.
alam dialog umum di Kairo, Jum’at 11/12/09, di antaranya tampil Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.
Setelah para mahasiswa Indonesia di Mesir mendengar hujjah-hujjah Dr Muhibbin, maka mahasiswa menilai, yang sedang dipermasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu saja tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, tetapi pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.
Semua itu, menurut mahasiswa Mesir, karena hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.
Para mahasiswa tampak lebih geli ketika pengkritik hadits shahih Bukhari dari IAIN Semarang itu menjawab dengan perkataan: “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya.
Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.

Inilah berita selengkapnya dari eramuslim.com:
Mahasiswa Mesir Tolak Kritikan Dr. Muhibbin Terhadap Shahih Bukhari
Senin, 14/12/2009 13:16 WIB
Geliat aktifitas Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir) ternyata masih segar. Di tengah kesibukan mempersiapkan ujian, mereka masih antusias untuk menghadiri acara “ Dialog Umum ” yang diadakan oleh El-Montada, KPMJB dan FATIHA, Jum’at 11/12/09 di auditorium pesanggrahan KPMBJ.
Dialog ini diisi oleh dua nara sumber dari Indonesia yaitu Prof. Dr. Endang Soetari M. Si (Guru Besar UIN Sunan Gunung Jati Bandung) yang menyampaikan materi seputar Problematika Studi Hadits di Indonesia dan Prof. Dr Muhibbin M. Ag (Guru Besar IAIN Walisongo Semarang) yang menyampaikan materi tentang Urgensi Kritik Matan dalam Pembuktian Validitas Hadits. Hadir sebagai Pembanding Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl (Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Al-Azhar jurusan Hadits) dengan moderator Ust. Roni Fajar, Lc. (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Jurusan Hadits)
Di awal acara, Ust. Saifuddin M.A. selaku ketua El-Montada (organisasi mahasiswa program pasca sarjana dan doktoral) menyampaikan sambutan yang antara lain menyatakan bahwa antusias para masisir untuk mengkaji kegiatan yang bersifat keilmuan ternyata lebih tinggi daripada mengkaji tentang politik, terbukti dengan jumlah peserta yang hadir melebihi kapasitas auditorium yang disediakan.
Dr. Endang Soetari. M.Si yang mendapat giliran pertama dalam diskusi ini menyebutkan tentang Problematika Ilmu hadits di Indonesia. Hingga saat ini metode digunakan oleh beliau ialah penetapan keshahihan hadits dengan cara Takhrij.
Pemaparan kedua dilanjutkan oleh Dr. Muhibbin. M. Ag. yang pernah menulis buku tentang kritik kitab “Shahih Bukhari”. Beliau menyatakan tidak semua hadits dalam Shahih Bukhari itu shahih, bahkan terdapat beberapa hadits termasuk kategori lemah dan palsu.
Dinginnya kairo yang sempat terkena percikan gerimis sebelumnya berubah menjadi hangat setelah pemaparannya yang mengkritik matan hadits. Menurutnya ini untuk membela Nabi Muhammad sabda beliau yang telah melalui beberapa kurun waktu itu tidak ada yang bertentangan dengan akal.
Contohnya hadits tentang lalat dan tentang mayit yang disiksa karena tangisan keluarganya yang menurutnya tidak rasional. Semua kritikan itu bisa ditanggapi dengan baik oleh pemateri pembanding, Ust. Ahmad Ikhwani, Lc. Dipl.
Acara pun berlanjut ke sesi tanya jawab. Setelah moderator mempersilahkan para hadirin untuk bertanya bak gayung bersambut begitu banyak tangan-tangan yang mengacung ingin bertanya. Tanggapan pertama disampaikan Ust Zulfi Akmal, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Tafsir Univ. Al-Azhar) menyampaikan bahwa seorang mahasiswa Al-Azhar tingkat dua pun sanggup mengkonter hadits tersebut dari syubuhat yang disampaikan oleh Dr. Muhibbin tadi. Ust. Zulfi juga menolak adanya proses belajar hadits tanpa guru, seperti yang dilakukan oleh Dr. Muhibbin.
Kemudian Ust Bukhari, Lc. Dipl. (Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Hadits Univ. Al-Azhar) angkat bicara membantah pernyataan keraguan Dr. Muhibbin terhadap hadits pada Shahih Bukhari. Ia menjelaskan secara gamblang status beberapa hadits yang dikritik berikut dalil tentang kedudukan hadits tersebut. Ust. Bukhari Lc menganggap hasil penelitian Dr. Muhibbin ini kurang referensi dan juga kurang pemahaman bahasa Arab.
Pertanyaan-pertanyaan beserta tanggapan-tanggapan yang ditanyakan akhirnya dijawab oleh Dr. Muhibbin dengan berusaha membela argumen beliau. Beliau menganggap hadits-hadits itu diragukan karena irrasional. Sebab mengkaji hadits tidak hanya dari matan dan sanad saja, tapi perlu memperhatikan aspek rasionan, sejarah dan sirah. “Apabila naql bertentangan dengan akal, maka yang didahulukan adalah akal.” tegasnya. Sontak mahasiswa yang hadir pada saat itu seakan tertawa meringis akan tanggapan yang diuraikan oleh beliau.
Acara yang mulai beranjak malam tersebut tidak mengendurkan semangat para hadirin, terbukti dengan antusias para penanya pada sesi ke dua yang semakin membuat hangat suasana. Diantara pernyataan yang paling menyentak disampaikan oleh Riyadh, Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Dirasat Islamiyah konsentrasi Ushuluddin yang menanyakan standarisasi tesis kandidat doktor di Indonesia, karena begitu mudahnya hanya tinggal mengangkat sesuatu yang berbenturan antara nash Al-Quran dengan nash Hadits bisa lulus membondong gelar doktor. “Kalau gitu saya ingin cepat-cepat pulanglah ke Indonesia melihat segampang itu bapak menjadi Doktor” ungkap Riyadh. Sontak seluruh hadirin riuh seketika.
Kemudian disusul dengan pernyataan Umarulfaruq Abubakar, Mahasiswa Fakultas Darul Ulum Universitas Kairo, yang menyebutkan bahwa yang sedang dipermasalahkan saat ini tidak murni kritik matan. Yang terjadi adalah mengkritik matan hadits karena belum bisa dipahami oleh si pengkritik. Hal ini tentu saja tidak menurunkan derajat sebuah hadits shahih, pemahamannyalah yang perlu dikaji kembali.
Antusias masisir dalam menanggapi dialog ini masih berlanjut. “Bahkan sampai pagi pun masih siap” ungkap salah seorang hadirin. Namun karena waktu pula, sesi tanya jawab berakhir setelah adanya kata penutup dari kedua nara sumber. Kedua nara sumber ini adalah anggota bagian dari rombongan para Doktor yang sedang menjalankan studi singkat di Mesir dalam rangka meningkatkan kompetensi selaku dosen di universitas masing-masing. (sn/fjr)
Modal aneh atau sesat
Tokoh-tokoh Indonesia yang bicara aneh bahkan sesat menyesatkan tentang Islam dan kemudian dibantah para mahasiswa di Mesir kadang justru ketika kembali ke Indonesia diangkat jadi pejabat tinggi. Contohnya Prof Dr Quraish Shihab, tahun 1990-an dia berbicara tentang tidak wajibnya pakai jilbab bagi wanita Muslimah. Padahal para ulama menyatakan wajib berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-Ahzab/ 33 ayat 59 dan QS An-Nur/ 24 ayat 31. Maka dibantah oleh mahasiswa Mesir, kata Dr Daud Rasyid sewaktu masih berada di Mesir.
Berita itupun kemudian jadi ramai di media massa Islam, di antaranya di Majalah Media Dakwahterbitan Dewan Dakwah di Jakarta.
Namun apa yang terjadi selanjutnya? Justru Quraish Shihab diangkat jadi menteri agama oleh Presiden Soeharto. Walaupun hanya berumur 70 hari, karena Presiden Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, namun artinya bersuara aneh dan dibantah oleh mahasiswa Mesir, justru tampaknya jadi modal untuk naik pangkat atau menduduki jabatan tinggi.
Ayat Al-Qur’an telah memperingatkan:
وَآمِنُواْ بِمَا أَنزَلْتُ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَكُمْ وَلاَ تَكُونُواْ أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلاَ تَشْتَرُواْ بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ ﴿٤١﴾
041. Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa. (QS Al-baqarah: 41).
Apakah pengkritik hadits shahih Bukhari dengan hujjah yang srampangan ini juga nantinya akan diangkat jadi pejabat tinggi, wallahu a’lam.
Bahkan kalau berhasil menyebarkan keanehan dan kesesatan, maka sudah mati pun masih dipuja puji dengan diadakan acara resmi, dihadiri menteri agama. Contohnya, Harun Nasution yang menyebarkan keraguan aqidah Islam dengan tidak mempercayai taqdir sebagai rukun iman, dan juga Nurcholish Madjid yang menyatakan bahwa iblis kelak akan masuk surga dan surganya tertinggi karena tak mau sujud kepada Adam; maka mereka ini sudah mati pun diberi anugerah. Dekan FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bahtiar Effendy,mengadakan acara penganugerahan kepada mendiang Nurcholish Madjid dan mendiang Harun Nasution atas apa yang disebutnya sebagai sumbangannya kepada ilmu pengetahuan di Indonesia, Senin (14/12). Menteri Agama Suryadharma Ali hadir dalam acara itu. (lihat Republika Newsroom, Senin, 14 Desember 2009 pukul 11:35:00).
Untuk mengetahui kesesatan-kesesatan dan bahayanya pemikiran Harun Nasution dan Nurcholish Madjid bisa dibaca buku-buku kritikan terhadap dua mendiang itu, tulisan Prof. Dr. HM Rasjidi, tempo dulu. Adapun buku-buku yang beredar sekarang tentang bahaya dan kesesatan Harun Nsution, Nurcholish Madjid, dan bahkan pengajaran di IAIN, UIN, STAIN, STAIS dan sebagainya bisa dibaca buku-buku Hartono Ahmad jaiz. Di antaranya buku Ada Pemurtadan di IAIN; Menangkal Bahaya JIL dan FLA; Aliran dan Paham Sesat di Indonesia; Islam dan Al-Qur’an pun Diserang;Rekayasa Pembusukan Islam; Pangkal Kekeliruan Golongan Sesat dan lain-lain.
Bantahan mahasiswa Mesir terhadap keanehan dan kesesatan pemikiran dan pemahaman tokoh-tokoh seperti tersebut juga menjadi bukti sejarah tentang masih ditegakkannya amar ma’ruf nahi munkar. Sehingga janji Allah dan peringatannya berikut ini cukup menjadi pegangan dalam menghadapi kesesatan mereka.
Asalkan amar ma’ruf ditegakkan di Ummat Islam ini, maka orang-orang sesat itu tidak akan membahayakan apabila kita telah mendapat petunjuk.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٠٥﴾
105. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Al-Maaidah: 105).
(nahimunkar.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar