Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Biografi Ibnul Qayyim al-Jauziyah

Nasab dan Kelahiran Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah

Beliau adalah Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad bin Hariiz bin Maki Zainuddin az-Zura’I ad-Dimasyqi al-Hanbali. Yang lebih terkenal dengan panggilan Ibnul Qayyim al-Jauziyah.
Perjalanan beliau dalam Menuntut Ilmu
Ibnul Qayyim rahimahullah tumbuh berkembang di keluar yang dilingkupi dengan ilmu, keluarga yang religius dan memiliki banyak keutamaan. Ayahanda, Abu Bakar bin Ayyub az-Zura’i beliau adalah pengasuh di al-Madrasah al-Jauziyah. Disinilah al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah belajar dalam asuhan dan bimbingan ayahanda beliau dan dalam arahannya yang ilmiyah dan selamat.

Selasa, 21 Januari 2014

Biografi Singkat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Biografi Singkat Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr

Nama Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr tentu tidak asing lagi bagi segenap para penuntut ilmu Indonesia karena beliau aktif memberikan kajian ilmiah di Radio Rodja. Selain itu, beliau juga sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia dalam rangka berdakwah.
Sejatinya, kunjungan beliau ke tanah air ini harus disyukuri dan disambut gembira karena manfaatnya sangat besar seperti semakin semaraknya syi’ar dakwah, bertambahnya ilmu syar’i, bertemu dan melihat langsung akhlak para ulama. Coba bayangkan, dalam acara tabligh akbar yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta saja, diberitakan bahwa jumlah yang hadir lebih dari seratus ribu peserta, belum lagi di tempat-tempat kajian lainnya. Bukankah ini harus kita syukuri, wahai saudaraku?! Lantas, mengapakah ada sebagian kalangan yang justru sesak dada dengan kunjungan beliau dan malah berkomentar merendahkan beliau?!!

Minggu, 27 Oktober 2013

Imam Nawawi, Waktunya Selalu Sibuk dengan Belajar

Yahya bin Syarf An Nawawi, atau lebih dikenal denganImam Nawawiadalah ulama Syafi’iyah yang sudah sangat ma’ruf di tengah-tengah kita. Keseharian aktivitas beliau menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang menjaga waktu dengan baik, diisi dengan hal-hal yang manfaat. Sampai di jalan pun, beliau masih sempat baca dan muthola'ah (mengkaji) kitab, bahkan waktu makan pun dikurangi gara-gara ingin belajar. Masya Allah ...
Sebagaimana diceritakan oleh murid Imam Nawawi, Ibnu ‘Athoor, ia menceritakan perkataan gurunya sendiri bahwasanya beliau adalah orang yang tidak pernah menyia-nyiakan waktu, baik saat malam atau siang hari. Waktunya hanya disibukkan dengan ilmu. Sampai pun di jalan beliau terus mengulang-ngulang pelajaran atau menelaah beberapa bahasan. Beliau terus punya kebiasaan seperti itu selama 6 tahun. Kemudian setelah itu, beliau lebih banyak menghabiskan waktu untuk menulis, mengambil faedah, memberi nasehat dan menyebarkan kebenaran.

Jumat, 19 April 2013

Keberanian al Imam an Nawawi Dalam Menyampaikan Kebenaran

Di antaranya, riwayat yang menyebutkan bahwa Azh-Zhohir Bibars tatkala hendak memerangi tartar di Syam, dia mengambil fatwa dari ulama tentang bolehnya mengambil harta rakyat (pajak) sebagai penyokong untuk memerangi mereka. Maka fuqoha’ Syam menulis surat kepadanya tentang hal itu, lalu mereka membolehkannya.
Dia bertanya, “Apakah masih ada orang lagi?”
Dikatakan kepadanya, “Ya, tinggal Syaikh Muhyiddin An-Nawawi.”
Dia pun memintanya untuk hadir.
Ketika hadir, dia mengatakan kepadanya, “Tulislah dengan tulisanmu bersama para fuqoha’ lainnya.” An-Nawawi menolak.
Dia mengatakan, “Mengapa engkau menolak?”

Rabu, 10 April 2013

24 Jam Bersama Syaikh Bin Baz Rahimahullah

1. Beliau bangun pagi kurang lebih 1 jam sebelum shubuh. Kemudian shalat tahajjud 11 raka’at dengan khusyu’ dan rendah diri kepada Allah. Sebagaimana pula beliau banyak berdoa, di antaranya mendoakan umat Islam dan kebaikan para penguasa mereka, berzikir, membaca al-Qur’an, dan beristighfar.
2. Setelah azan subuh (terkadang sebelumnya), beliau pergi ke masjid dengan tenang dan penuh penghambaan kepada Allah dengan membaca doa keluar rumah (dan doa menuju masjid, -pen.) sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah n. Sesampainya di masjid, beliau masuk dengan mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa masuk masjid dan shalat sunnah qabliyah. Kemudian memperbanyak doa hingga iqamat. Setelah itu menunaikan shalat shubuh berjama’ah. Selepas shalat, beliau membaca zikir-zikir yang khusus dibaca setelah shalat, kemudian membaca wirid-wirid doa dan zikir yang dituntunkan untuk dibaca di setiap pagi.

Rabu, 27 Maret 2013

Biografi: Syaikh Ihsan Ilahy Dzahir Rahimahullah

Menelusuri Jejak atsar dari Ulama Pakistan,Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir
Nama dan nasab beliau, Ihsan Ilahi Zhahir bin Zhuhur Ilahi bin Ahmduddin bin Nizhamuddin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang saudara beliau yang bernama Syaikh Fadhl Ilahi menjelaskan bahwa Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir lahir pada tahun 1940  di kota Siyalkut. Yaitu sebuah kota tua di Pakistan, di sebelah utara kota Propinsi Punjab. Kota ini terkenal dengan kelahiran tokoh-tokoh dan ulama. Dan lingkungan yang sangat subur dengan ulama, tentu sangat kondusif bagi perkembangan seorang anak. Demikian juga dengan keberadaan Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir disana.
Keluarga besarnya sangat populer dengan perniagaan berbagai macam kain. Ketinggian tingkat keilmuan dan semangat juang untuk membela agama serta kelimpahan harta benda juga menjadi penghias yang melekat pada keluarga besarnya.
Ayahnya seorang pedagang kain yang terkenal dengan amanahnya, dan juga termasuk orang yang mencintai ulama dan giat mendakwahkan aqidah salaf, dengan menyibukkan diri berceramah di beberapa masjid. Ia telah memilihkan jalan bagi anak-anaknya agar menjadi para penyeru (da’i) di jalan Allah. Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan proses pendidikan anak-anaknya dengan baik.

Selasa, 05 Februari 2013

Ijazah Hadits Imam Al-Albany

Syaikh Al-Albany memiliki ijazah hadits dari ‘Allamah
Syaikh Muhammad Raghib at-Tabbagh
 yang kepadanya beliau mempelajari ilmu
hadits, dan mendapatkan hak untuk menyampaikan hadits darinya. Syaikh
Al-Albany
 menjelaskan tentang ijazah beliau ini pada kitab Mukhtasar
al-‘Uluw
 (hal 72) dan Tahdzir as-Sajid (hal 63). Beliau memiliki
ijazah tingkat lanjut dari Syaikh Bahjatul Baytar(dimana isnad dari
Syaikh terhubung ke Imam Ahmad). Keterangan tersebut ada dalam buku
Hayah al-Albany (biografi Al-Albany) karangan Muhammad
Asy-Syaibani. Ijazah ini hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar ahli dalam hadits dan dapat dipercaya untuk membawakan hadits secara teliti.  Ijazahserupa juga dimiliki murid Syaikh Al-Albany, yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi. Jadi, adalah tidak benar jika dikatakan bahwa Syaikh hanya
belajar dari buku, tanpa ada wewenang dan tanpa ijazah.
Dalam pembahasan ini, saya pikir tidak mengapa untuk memberikan
sedikit gambaran tentang kehidupan dan pekerjaan Syaikh Al-Albany agar
kita lebih yakin perihal kedudukan beliau dalam bidang ilmu hadits, semisal
penghormatan dari ulama-ulama lain yang ditunjukan kepada beliau. Mungkin satu atau dua penjelasan pendek belumlah mencukupi, meski begitu, saya berharap informasi ini cukup menarik dan dapat memberi semangat kepada para pembaca:

Kamis, 31 Januari 2013

Abu Darda’ (Wafat 32H)

Nama lengkapnya adalah Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, ia hapal al-Quran dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Dalam perang Uhud Rasulullah bersabda mengenai dirinya “ Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir” Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Dia mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud.
Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman, Abu Darda’ diangkat menjadi Hakim di daerah Syam, Ia adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan ahli Fiqh penduduk Palestina.
Ia meriwayatkan hadits dari Sayyidah Aisyah dan Zaid bin Tsabit, sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah anaknya sendiri Bilal dan istrinya Ummu Darda’. Hadits yang dia riwayatkan mencapai 179 hadits. Tentang dia Masruq berkata:” Aku mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada enam orang diantaranya dari Abu Darda“.
Ia wafat pada tahun 32 H di dasmaskus.

( disalin dari Biografi Abu Darda’ dalam Al-Ishabah no.6119 karya Ibn Hajar Asqalani)

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/03/abu-darda-wafat-32h/

Sa’ad bin Abi Waqqash (wafat 55 h)

Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash bin Uhaib Az-Zuhri dengan julukan “Abu Ishaq”, Ia adalah salah seorang diantara sepuluh orang sahabat yang mendapat kabar gembira bakal masuk surga, dan orang yang pertama dalam melontarkan panah dalam perang Sabillillah, ia orang yang ke empat lebih dulu masuk Islam melalui tangan Abu Bakar ketika umurnya 17 tahun.
Sa’ad bin Abi Waqqash mengikuti banyak peperangan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dalam peperangan itu ia bergabung dalam pasukan berkuda. Ia berasal dari bani Zuhrah seasal dengan ibu Nabi (Aminah).
Khilafah Umar bin Khaththab mengangkatnya menjadi komandan pasukan yang dikirimkan untuk memerangi orang Persia dan berhasil mengalahkannya pada tahun 15 H di Qadisiyah. Setahun setelahnya 16 H di Julailak ia menaklukan Madain dan Bani al-Kuffa pada tahun 17 H.

Abu Dzarr Al-Ghifari (wafat 32 H)

Abu Dzaar al-Ghifari Nama aslinya adalah Jundab bin Junadah dinisbatkan kepada kakeknya Junadah yang berasal dari Ghifar, ia seorang Kinani. Abu Dzarr orang yang ahli ibadah sebelum diutusnya Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Ia adalah sahabat kelima yang lebih dulu masuk Islam, Ia baru bisa Hijrah setelah perang Khandaq.
Abu Dzarr seorang yang zuhud tidak pernah menyimpan makanan untuk hari esok. Namun dimasa pemerintahan Utsman, ia mengajak orang orang untuk mendirikan semacam baitul mal, hal ini didorong rasa kemanusiaan namun Utsman bin Affan tidak tertarik akan gagasan itu dan selanjutnya ia mengasingkan ke Rabadzah dan menetap disitu sampai wafatnya. Pada saat wafatnya yang kebetulan Ibnu Mas’ud lewat ke Rabadzah dan menshalatkannya jenazahnya.

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu (Wafat 18 H)

Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus al-Khazraji, dengan nama julukan “Abu Abdurahman”, dilahirkan di Madinah. Ia memeluk Islam pada usia 18 tahun, Ia mempunyai keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar dan berdedikasi tinggi. Dari segi fisik, ia gagah dan perkasa. Allah juga mengaruniakan kepadanya kepandaian berbahasa serta tutur kata yang indah, Muadz termasuk di dalam rombongan yang berjumlah sekitar 72 orang Madinah yang datang berbai’at kepada Rasulullah. Setelah itu Muadz kembali ke Madinah sebagai seorang pendakwah Islam di dalam masyarakat Madinah. Ia berhasil mengislamkan beberapa orang sahabat yang terkemuka seperti misalnya Amru bin Al-Jamuh.
Pada waktu Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah, Muaz senantiasa berada bersama dengan Rasulullah sehingga ia dapat memahami Al-Qur’an dan syariat-syariat Islam dengan baik. Hal tersebut membuatnya di kemudian hari muncul sebagai seorang yang paling ahli tentang Al-Qur’an dari kalangan para sahabat. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal.” (Hadist Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ia meriwayatkan hadist dari Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan meriwayatkan darinya ialah Anas bin Malik, Masruq, Abu Thufail Amir bin Wasilah. Selain itu, Muadz merupakan salah satu dari enam orang yang mengumpulkan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah.

Abu Sa’id Al-Khudri (wafat 74 H)

Abu Sa’id Al-Khudri adalah orang ke tujuh yang banyak meriwayatkan hadist dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Telah meriwayatkan 1.170 hadits. Orang orang pernah memintanya agar mengizinkan mereka menulis hadits hadits yang mereka dengar darinya. Ia menjawab “ Jangan sekali kali kalian menulisnya dan jangan kalian menjadikan sebagai bacaan, tetapi hapalkan sebagaimana aku menghapalnya”.
Abi Sa’id lebih dikenal dengan nama aslinya adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan. Ayahnya Malik bin Sinan syahid dalam peperangan Uhud, Ia seorang Khudri nasabnya bersambung dengan Khudrah bin Auf al-Harits bin al-Khazraj yang terkenal dengan julukan “Abjar”.
Ketika perang Uhud pecah ayahnya (malik) membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan meminta agar anaknya diikutkan dalam peperangan. Pada waktu itu Jabir masih berusia 13 tahun, namun ayahnya menyanjung kekuatan tubuh anaknya:” Dia bertulang besar ya Rasulullah” tetapi, Rasulullah tetap menganggapnya masih kecil dan menyuruh membawanya pulang.

Jabir bin Abdullah (wafat 74H)

Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 hadist, Ayahnya bernama Abdullah bin Amr bin Hamran Al-Anshari as-Salami. Ia bersama ayahnya dan seorang pamannya mengikuti Bai’at al-‘Aqabah kedua di antara 70 sahabat anshar yang berikrar akan membantu menguatkan dan menyiarkan agama Islam, Jabir juga mendapat kesempatan ikut dalam peperangan yang dilakukan pleh Nabi, kecuali perang Badar dan Perang Uhud, karena dilarang oleh ayahku. Setelah Ayahku terbunuh, aku selalu ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
Jabir bin Abdullah pernah melawat ke Mesir dan Syam dan banyak orang menimba ilmu darinya dimanapun mereka bertemu dengannya. Di Masjid Nabi Madinah ia mempunyai kelompok belajar , disini orang orang berkumpul untuk mengambil manfaat dari ilmu dan ketakwaan.
Ia wafat di Madinah pada tahun 74 H. Abbas bin Utsman penguasa madinah pada waktu itu ikut mensholatkannya.
Sanad terkenal dan paling Shahih darinya adalah yang diriwayatkan oleh penduduk Makkah melalui jalur Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Jabir bin Abdullah.

(biografi jabir dalam Al-Ishabah 1/213 dan Tahdzib al-Asma 1/142)
–ooOoo–
http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/02/jabir-bin-abdullah-wafat-74h/

Abu Hurairah (wafat 57 H)

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist Nabi Shallallahu alaihi wassalam , ia meriwayatkan hadist sebanyak 5.374 hadist.
Abu Hurairah memeluk Islam pada tahun 7 H, tahun terjadinya perang Khibar, Rasulullah sendirilah yang memberi julukan “Abu Hurairah”, ketika beliau sedang melihatnya membawa seekor kucing kecil. Julukan dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam itu semata karena kecintaan beliau kepadanya.
Allah Subhanahu wa ta’ala mengabulkan doa Rasulullah agar Abu Hurairah dianugrahi hapalan yang kuat. Ia memang paling banyak hapalannya diantara para sahabat lainnya.
Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah, Abu Hurairah menjadi pegawai di Bahrain, karena banyak meriwayatkan hadist Umar bin Khaththab pernah menetangnya dan ketika Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wassalam :” Barangsiapa berdusta mengatasnamakanku dengan sengaja, hendaklah ia menyediakan pantatnya untuk dijilat api neraka”. Kalau begitu kata Umar, engkau boleh pergi dan menceritakan hadist.

Zaid bin Tsabit (wafat 45 H)

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.
Perjalanan hidupnya.
Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada ‘Imarah sebagai komandan perang Tabuk, lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka Imarah bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan kepadaku?. Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al-Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menguasai bacaan Al-Quran daripadamu”.

Anas bin Malik (Wafat 93 H)

Anas bin Malik urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist,Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits.
Anas adalah (Khadam) pelayan Rasulullah yang terpercaya, ketika ia berusia 10 tahun, ibunya Ummu sulaiman membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk berkhidmat. Ayahnya bernama Malik bin an-Nadlr. Rasulullah sering bergurau dengan Anas bin Malik, dan Rasulullah sendiri tidaklah bersikap seperti seorang majikan kepada hambanya.
Anas sendiri pernah berkata:” Rasulullah Shallallahu alaihi wasssalam tidak pernah menegur apa yang aku perbuat, beliau juga tidak pernah menanyakan tentang sesuatu yang aku tidak kerjakan, akan tetapi beliau selalu mengucapkan Masya’allahu kan wa ma lam yasya”.

Rabu, 26 September 2012

Kecerdasan Imam Al-Muhaddits Muhammad Al-Albani rahimahullah didalam berdebat.

Kecerdasan Imam Al-Muhaddits Muhammad Al-Albani rahimahullah didalam berdebat.

Kisah Syaikh Albani Dengan Seorang Dukun

oleh Amrullah Akadhinta pada 24 September 2012 pukul 18:17 ·

Semalam, sebelum dimulai rapat RadioMuslim di Masjid Al Hasanah, guru kami, Ust Abu Saad menceritakan sebuah kisah Syaikh Albani dengan seorang dukun. Konon, dukun ini hendak menantang debat dengan Syaikh Albani meng
enai pengetahuannya tentang ilmu gaib. Bahkan sang dukun pun menantang untuk mendatangkan media massa, TV, radio dan lain-lain.

Kamis, 26 Juli 2012

PEMBELAAN SYAIKH MUHAMMAD HASSAN TERHADAP AL-‘ALLAMAH AL-MUHADDITS AL-ALBANI

دفاع الشيخ محمد حسان عن العلامة المحدث الألباني رحمه الله
Transkrip bebas ucapan Syaikh Muhammad Hassân hafizhahullâhu :
Datang sebuah pertanyaan dari Yordania, yang menyesakkan dada dan menyedihkan jiwa, yaitu ada beberapa masyaikh yang menuduh Syaikh al-Albânî dengan tuduhanirjâ` (berpemahaman murji`ah), bahkan mencela dan menvonis syaikh al-Albânî dengan kesesatan. Saya berlindung kepada Allôh dan saya berlindung kepada Allôh! Kami memohon kepada Allôh Subhânahu agar melimpahkan rahmat-Nya kepada guru kami, Abû ‘Abdirrahman, asy-Syaikh al-Albânî, dengan rahmat-Nya yang luas, dan mengganjar beliau dengan sebaik-baik balasan atas (jerih payahnya) terhadap Islam dan kaum muslimin.
Namun ironinya, sungguh ironi! Banyak manusia yang berlomba-lomba untuk mencari ketenaran dan popularitas. Ketahuilah wahai saudaraku! Semoga Allôh memberikan taufik-Nya kepadaku dan Anda kepada keridhaan Allôh, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang takut dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa. Ketahuilah, bahwa darah para ulama itu beracun! Ketahuilah bahwa darah para ulama itu beracun!! Dan sudah menjadi hal yang lazim bagi Allôh bahwa Ia akan membongkar aib orang-orang yang gemar merendahkan orang lain, barangsiapa yang melepaskan kendali lisannya dengan mencela para ulama, niscaya Allôh akan menimpakan kematian bagi hatinya sebelum datang ajalnya.

SEKALI LAGI TENTANG SYAIKH MUHAMMAD HASSAN AL-MISHRI

Berikut ini adalah transkrip percakapan seorang penuntut ilmu dengan Asy-Syaikh al-Muhaddits ‘Abdullâh bin Shâlih al-‘Ubailân hafizhahullâhu via telepon. Dalam percakapan ini, Syaikh mendukung pendapat Syaikh ‘Ali al-Halabî dan masyaikh Syam akan kesalafiyahan Syaikh Muhammad Hassân.
Syaikh : Na’am (iya)*
[Catatan : Ini adalah adab seorang ulama yang patut ditiru, yaitu beliau berupaya menghindarkan diri dari tasyabbuh (menyerupai) kaum kafir dengan sering mengawali percakapan di telepon dengan kata “hallo”, dan lebih memilih untuk mengucapkan “iya”, pent.]
Penanya : Assalâmu ‘alaikum warohmatullâhi wabarokâtuh
Syaikh : Wa’alaikum as-Salâm warohmatullâhu wabarokâtuh

Syeikh Mustafa al-'Adawi, Lulusan Teknik Mesin Yang Menjadi Ulama'

Di antara dai ahli sunnah dan ulama yang cukup terkenal dari Mesir adalah Mushthofa al Adawi. Beliau lahir di sebuah kampung bernama Maniah Samnud. Sebuah kampung di provinsi al Daqhaliah pada tahun 1945. Beliau pernah mengenyam pendidikan di fakultas teknik tepatnya jurusan teknik mesin di tahun 1977.
Beliau adalah di antara orang yang sangat perhatian dengan al Qur’an oleh karenanya tiga puluh juz dari al Qur’an sudah ada di luar kepala beliau.
Sebagaimana kebiasaan para ulama terdahulu, beliau pernah melakukan rihlah ilmiah (perjalanan dalam rangka menuntut ilmu). Beliau tinggalkan kampung halaman tercinta menuju Yaman tepatnya untuk belajar dengan Syeikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i. Selama kurang lebih rentang waktu empat tahun terhitung dari 1400H sampai 1404 H beliau hadiri berbagai pelajaran ilmiah yang disampaikan oleh Syeikh Muqbil. Selama jangka waktu yang sebenarnya tidak begitu lama ini beliau merasa mendapat ilmu yang demikian banyak.