Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Selasa, 02 November 2010

Nasihat dari Bumi Perantauan Kepada Sanak Saudaraku di Kampung Halaman (1)

Berikut ini kami nukilkan nasehat al-Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra yang beliau tulis untuk kampung halaman beliau (Ranah Minang) jauh-jauh hari sebelum gempa besar menimpa Sumatera Barat. Nasehat ini beliau tulis pada tanggal 29 Safar 1426 H (Bertepatan dengan 8 April 2005 M) ketika beliau masih menyelesaikan S3 di Universitas Islam Madinah. Semoga nasehat ini bermanfaat bagi kita semua…

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra hafidzohulloh
[Sumber : www.muslim.or.id]

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta, shalawat dan salam buat Nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia, semoga shalawat dan salam juga terlimpahkan buat keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk Mereka sampai hari kiamat.

Bermacam cobaan dan bencana telah menimpa negeri tercinta ini namun kesadaran masih juga belum kunjung datang pada diri kita masing-masing. Kita masih saling menyalahkan, bahkan kita mengira bahwa semua bencana tersebut disebabkan oleh dosa orang lain. Adapun diri kita sendiri tidak pernah bersalah dan tidak pernah berdosa. Diawali dari kesemberawutan ekonomi dan politik, datang banjir yang menenggelamkan berbagai kota besar di nusantara, lalu musim kemarau panjang dan kebakaran hutan serta kabut yang menyelimuti berbagai daerah, disertai kekurangan pangan dan kelaparan di mana-mana, gempa dan tsunami yang telah memporak-porandakan Aceh dan beberapa negara lainnya disusul oleh gempa Nias yang memakan korban cukup banyak pula. Masihkah belum cukup untuk kita berpikir dan mengambil ‘ibroh dari segala kejadian tersebut? Kita mengeluh kemiskinan melanda negeri kita tapi parabola menjamur di atas gubuk-gubuk yang hampir reok! Kita mengeluh atas tersebarnya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat, tapi berbagai media informasi dua puluh empat jam menampilkan acara yang berbau porno dan sex (yang diperhalus dengan istilah pornoaksi dan pornografi), yang kesemuanya disantap oleh anak-anak yang baru bisa merangkak sampai kakek-kakek yang sudah pikun. Berbagai berita maksiat tersebar; ada kakek yang memerkosa anak di bawah umur, ada guru SD yang melacur, banyak siswi SMK yang hamil, ada… ada… ada… dan seterusnya.

Kerusakan tidak hanya sampai di situ bahkan sampai kepada titik memperolok-olokkan agama, menghujat Allah, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat al-Qur’an, membikin model ibadah-ibadah baru dan seterusnya. Yang seharusnya pelakunya mendapat hukuman justru sebaliknya mendapat sanjungan sebagai intelektual dan segudang sanjungan lainnya.



Sangat nyata apa yang dikatakan Allah dalam firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah muncul kerusakan di darat dan di laut dengan sebab ulah perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian (dari) akibat perbuatan mereka, agar Mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41)

Itu hanya sekelumit persoalan yang sedang menimpa negara kita. Tapi pernahkah kita bertanya dan memikirkan kenapa semua ini terjadi? Bagaimana caranya kita selamat dari bencana ini? Yaitu bencana kehidupan dan keimanan.

Bila dua pertanyaan ini bisa terjawab dengan benar dan baik, maka penyelesaian dan kesembuhan akan bisa diharapkan. Karena dengan mengetahui sebab-sebab penyakit dari situ akan bisa merencanakan terapi yang jitu. Mengetahui sebab-sebab kehancuran supaya dihindari. Kemudian berusaha mencari jalan keluar dari kehancuran ini agar bisa membangun kembali puing-puing yang sudah roboh tanpa mengesampingkan pengalaman pahit yang berlalu untuk dijadikan sebagai pelajaran dan bahan pertimbangan dalam membangun kehidupan yang baru.

Oleh sebab itu Allah berulang kali menceritakan tentang kaum-kaum yang dihancurkan dalam kitab-Nya yang mulia, supaya umat manusia mengambil ‘ibroh dan pelajaran dari kisah mereka, mengapa mereka ditimpa azab dan bencana? Apakah karena mereka miskin? Atau karena tidak punya angkatan perang yang cukup? Atau karena sistem politik dan ekonomi Mereka yang lemah? Atau karena hal lain yaitu karena kufur kepada Allah, tidak mau bersyukur kepada Allah, serta menolak kebenaran yang diturunkan Allah??

Dalam tulisan singkat ini kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas sesuai dengan apa yang dituangkan dalam Al Quran dan Sunnah. Karena keselamatan dan kebahagiaan hanya bisa digapai dengan mengamalkan keduanya, selama penyelesaian tidak berpedoman kepada wahyu Ilahi selama itu pula penyelesaian yang menjadi impian tidak akan datang.

Tulisan ini sebagaiimbauan nasihat dari perantauan ilmu yaitu kota Nabi (kota Madinah) kepada sanak saudaraku di kampung halaman (Ranah Minang khususnya dan Tanah air pada umumnya -ed).

Imbauan Nasihat ini di latar belakangi oleh beberapa hal:

1. Musibah yang tidak putus-putusnya menimpa negara kita tercinta, mulai dari sengketa politik, krisis ekonomi sampai pada musibah tsunami dan gempa Nias.
2. Maraknya berbagai maksiat di tengah-tengah masyarakat khususnya di Ranah Minang, mulai maraknya pembunuhan yang lebih menyayat hati seorang anak tega menyembelih ibu kandungnya sendiri, maraknya perzinaan dan perjudian bukan hanya di kalangan masyarakat umum tapi justru sudah merambah ke lembaga pendidikan.
3. Mendangkalnya rasa keagamaan, mulai dari gerakan permurtadan, maraknya perbuatan syirik, kebiasaan meninggalkan shalat dan melakukan praktek-praktek ibadah yang tidak ada dalam Islam.
4. Dan banyak lagi hal-hal lain yang tidak bisa diungkapkan satu persatu dalam pesan ringkas ini.

Imbauan ini sudah lama terbetik dalam hati kami, tapi selalu ragu untuk menulisnya dengan pertimbangan dan alasan ini dan itu; seperti masalah keikhlasan dalam menyampaikan nasihat, masalah masih banyaknya orang yang jauh lebih berilmu di Ranah Minang ini yang lebih berhak untuk berbicara, keberadaan penulis yang jauh dari kampung yang bila bicara akan dianggap tidak mengetahui persoalan kampung. Dan banyak lagi yang selalu menjanggal untuk dimulainya penulisan nasihat ini.

Tapi pada tanggal 7 April 2005 perasaan sedih bercampur haru semakin mengganggu sehingga membuat tidurpun tidak enak apalagi setelah membuka padang ekspres lewat internet, sebuah berita mengejutkan sekaligus mengherankan tentang pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah di lapangan Taman Budaya Padang dengan bacaan dikeraskan, disertai iqamah segala. Dengan seketika kami terkesima; “Wah ini memang sudah kebablasan dan tidak tau lagi siapa yang harus diikut dalam beragama, ke mana ulama Ranah Minang yang dulu katanya sebagai gudang ulama?”

Karena takut akan diancam azab Allah, kami mencoba mengikhlaskan niat dan memberanikan diri untuk menulis nasihat ini, sekalipun tidak ada yang mau menerima tapi kewajiban sebagai seorang muslim kami harus menunaikan amanah yang berat ini. Serta mensyukuri rahmat Allah kepada kami yang telah memberi nikmat untuk menimba ilmu dari ulama di kota Nabi tepatnya di Universitas Islam Madinah yang sekarang dalam menyelesaikan S3 di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin -Jurusan Aqidah.

Semoga Allah menjadikannya sebagai nasihat yang ikhlas, dan menjadikannya bermanfaat bagi penulis dan pembacanya. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Kewajiban untuk Saling Menasihati

Banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang mewajibkan kita untuk saling menasihati sesama muslim, saat kewajiban ini telah diabaikan maka saat itulah bencana dan kehancuran akan datang, karena sudah tidak ditegakkannya kewajiban ini kebinasaan telah melanda dalam segala aspek kehidupan kita. Saya masih ingat waktu saya kecil bagaimana adanya saling nasihat antara sesama muslim, bila saya ditemui seseorang di tengah jalan atau masih main-main pada jam enam sore, ia dengan spontan menegur: “Oii wa ang ndak ka surau”, saya tidak kenal siapa dia, tapi begitulah kehidupan pada masa itu, semua orang merasakan bahwa anak saudaranya adalah anaknya sendiri yang harus dibimbing dan dinasihati. Begitu pula bila melihat seorang berjalan bergandengan dengan lawan jenis akan disapa dan di tegur bahkan merupakan aib yang amat besar bila dilihat orang kampung berjalan dengan lawan jenis (bukan suami istri). Bahkan orang tua atau mamaknya akan memberikan ganjaran tertentu, seperti ancaman; bila diulangi kalau dia perempuan akan di gundul kepalanya. Begitulah penerapan nasihat dulu di Ranah Minang, tetapi sekarang bila anaknya tidak bisa membawa pacar pulang ke rumah, orang tuanya akan merasa gengsi dengan tetangga. Bila anaknya ditegur dari tindakan yang merusak moral dengan spontan ia akan membanggakan diri dan merasa dihina. Sehingga bila kita menasihati berarti kita telah menghina dan melanggar hak kebebasannya. Sedangkan agama hanya memberi kebebasan dalam melakukan perbuatan yang baik, adapun dalam berbuat kerusakan Islam tidak memberikan kebebasan kepada siapapun, itulah arti kebebasan dalam Islam, bukan sebagaimana yang diinginkan oleh orang-orang kafir yaitu kebebasan hutan belantara.

Berikut kita sebutkan beberapa ayat dan hadits yang mewajibkan untuk saling menasihati dalam menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran;

Firman Allah:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Keberuntungan yang disebutkan pada akhir ayat di atas adalah bersifat umum mencakup keberuntungan di dunia dan keberuntungan di akhirat.

Sebagaimana perintah Lukman kepada anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (Mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17)

Dalam ayat di atas ada satu hal yang amat penting untuk di ketahui yaitu rahasia mengapa perintah untuk bersikap sabar setelah perintah untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar? Karena perintah menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar itu tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki kesabaran, baik dalam menyampaikan kebenaran itu sendiri maupun dalam menerima cobaan dan tantangan dari pelaku kemungkaran. maka oleh sebab itu tidak ada seorang rasulpun yang diutus kecuali mendapat perlawanan dari kaumnya, baik berbentuk perlawanan fisik maupun mental.

Kemudian menyampaikan nasihat sesama muslim adalah ciri-ciri manusia yang beruntung dalam kehidupannya. Sebagaimana yang terdapat dalam surat Al ‘Ashr:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasihat- menasihati dengan kebenaran dan saling nasihat-menasihati dengan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Dalam ayat yang mulia di atas ditegaskan bahwa manusia itu merugi dalam sepanjang masa kecuali orang yang mengisi masanya dengan empat hal; yaitu beriman, beramal saleh, memberi nasihat dengan kebenaran dan memberi nasihat dengan kesabaran.

Begitu pula disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Agama itu adalah nasihat, (Beliau mengulanginya ucapan tersebut sampai tiga kali), Para sahabat bertanya: untuk siapa (ya Rasulullah)? Beliau menjawab: Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” (HR. Imam Muslim no. 55)

Kandungan hadits ini menerangkan tentang wajibnya menyampaikan nasihat dalam agama untuk pemimpin dan masyarakat umum, yaitu dalam hal wajibnya membina kehidupan bermasyarakat untuk taat kepada Allah serta menjunjung tinggi perintah dan hukum-hukum yang diterangkan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nasihat untuk Allah yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah nasihat untuk menaati perintah Allah dalam segala aspek kehidupan bernegara, baik politik, ekonomi maupun pendidikan, maka pendidikan hendaknya harus mengacu dan memacu untuk mendidik para peserta didik untuk tunduk dan taat kepada Allah, bukan sebaliknya.

Nasihat untuk kitab Allah adalah nasihat untuk menjadikan kitab tersebut sebagai landasan dan pola dalam segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat, baik yang berhubungan dengan hukum ataupun peraturan dan undang-undang.

Nasihat untuk Rasul-Nya adalah menjadikan ajarannya sebagai acuan dalam menunaikan hak dan kewajiban bermasyarakat dan bernegara, baik yang berbentuk hubungan Vertikal antara rakyat dengan penguasa, maupun hubungan Horizontal antar sesama rakyat termasuk hubungan antar umat beragama dalam satu negara, serta menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut sebagai Uswah dalam kepemimpinan.

Adapun nasihat untuk pemimpin adalah supaya Mereka berbuat adil dan menjadikan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum, melakukan tugas yang diamanahkan Allah kepada Mereka dengan penuh tanggung jawab dan pengorbanan demi kesejahteraan rakyat banyak, bukan sebaliknya untuk kesejahteraan pribadi. Bila Mereka melakukan tugas tersebut sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Mereka akan dibalasi dengan balasan yang sangat istimewa pada hari kiamat. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam sabda beliau: Bahwasanya Mereka termasuk salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah. (HR. Imam Bukhari no. 628 dan Imam Muslim no. 1031)

Dan Mereka akan ditinggikan di atas podium yang terbuat dari cahaya yang terletak di sebelah kanan Allah. (HR. Imam Muslim no. 1827)

Adapun nasihat untuk kaum muslimin secara umum adalah hendaklah Mereka selalu berbuat ketaatan kepada Allah dan meninggalkan perbuatan maksiat. Terutama sekali meninggalkan perbuatan syirik, seperti meminta kepada kuburan, bebatuan, pepohonan dan sebagainya. Serta menciptakan hubungan yang harmonis dengan penguasa. Menaati Mereka dalam segala hal yang ma’ruf untuk mencapai kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Dr. Ali Musri Semjan Putra
Artikel www.muslim.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar