Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Senin, 27 Desember 2010

Bid'ah dan Dampak Jelek Terhadap Umat

Penulis: Abu Abdillah R. Agus Hermawan
dikutip dari: www.muslim.or.id


Di antara nikmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang besar kepada umat Islam yang tidak diberikan kepada umat lain yang terdahulu adalah Alloh telah menyempurnakan agama Islam ini. Oleh karena itu, tidaklah diperlukan tambahan ataupun pengurangan. Kewajiban umat ini hanyalah mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam. Akan tetapi, sebagian kaum muslimin, bahkan yang menyatakan dirinya sebagai da’i yang menyeru ke jalan Alloh berusaha mengotak-atik ajaran Islam tersebut dengan berbuat bid’ah. Ia menyatakan bahwa hal ini adalah untuk kepentingan dakwah atau suatu kebaikan??? Bukankah Islam telah mengajarkan kebaikan????


Pengertian Bid’ah

Secara bahasa bid’ah adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumya. Sedangkan secara istilah (syariat) adalah sebagaimana perkataan Imam Asy-Syatibi, “Bid’ah adalah suatu cara yang diada-adakan di dalam agama yang menyerupai agama dengan tujuan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.” Sehingga bukan termasuk bid’ah jika sesuatu itu diada-adakan di luar agama untuk kemaslahatan dunia seperti pengadaan teknologi dalam transportasi, industri atau yang lainnya. Maka hal ini bukanlah bid’ah secara istilah syariat.

Semua Bid’ah Adalah Sesat

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhoi Islam sebagai agamamu.” (Al-Maidah: 3)

Imam Malik berkata, “Barangsiapa mengada-adakan suatau bid’ah lalu menganggap baik bid’ah tersebut berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah berkhianat, karena Alloh telah berfirman, ’Pada hari ini telah kusempurnakan……’ (Al-Maidah: 3)”

Maka segala sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang hamba di dalam hidupnya telah tercakup di dalam Islam. Barangsiapa yang mencari jalan keselamatan selain Islam maka dia telah menyatakan bahwa Islam tidak sempurna baik sengaja ataupun tidak sengaja. Padahal jalan itulah yang menghantarkannya pada kebinasaan yang sesungguhnya. Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa salam bersabda, “Tidaklah tersisa suatu amalan yang dapat memasukkan seseorang ke surga dan menjauhkannya dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian semua.” (HR. At Thabrony, shohih). Maka jelaslah tentang batilnya bid’ah di dalam agama walau dengan dalih apa pun juga.

Setiap bid’ah di dalam agama adalah sesat karena banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut. Di antaranya adalah:

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan yang lainnya, dishohihkan oleh Al Albani)
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Nasa’i dengan sanad shohih)
Abdulloh bin ‘Umar berkata, “Setiap bid’ah adalah sesat walaupun dipandang baik oleh manusia.”
Lafadz “setiap bid’ah adalah sesat” menunjukkan keumuman, dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya sehingga tetap berlaku umum. Dengan demikian jelaslah bagi orang yang berakal bahwa pembagian bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) dan Bid’ah Sayyiah (bid’ah yang buruk) adalah pembagian yang bertentangan dengan dalil yang ada dan bahkan pembagian ini termasuk bid’ah yang sesat dan seburuk-buruk bid’ah.

Sebagian orang untuk melegalkan perbuatan bid’ahnya berdalil dengan perkataan Umar rodhiyallohu ‘anhu, “Sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini” (yakni sholat tarawih berjamaah pada bulan Romadhon) (HR. Bukhori). Maka yang dimaksud bid’ah dalam ucapan Umar tersebut adalah bid’ah secara bahasa yaitu bid’ah (hal yang baru) yang tidak ada pada zaman Abu Bakar As-Shidiq. Sedangkan sholat tarawih berjamaah telah ada pada zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian orang yang lain berdalil dengan perkataan Imam Syafi’i rohimahulloh, “Bid’ah ada dua macam, Bid’ah Mahmudah (terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (tercela). Apa saja yang sesuai dengan sunnah maka termasuk bid’ah mahmudah dan apa yang menyelisihi sunnah maka termasuk bid’ah madzmumah.” Maka maksud perkataan ini adalah bid’ah secara bahasa, karea bid’ah dalam istilah syariat adalah yang tidak ada landasan dalil syar’inya. Adapun Bid’ah Mahmudah, yaitu bid’ah yang sesuai dengan sunnah nabi dan memiliki landasan syar’i, maka jelaslah yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa bukan secara istilah. Sehingga dalih apa pun atau perkataan siapa pun yang digunakan oleh seseorang untuk membela bid’ahnya, tetaplah tidak dapat merubah ketetapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bahwa setiap bid’ah adalah sesat.

Bid’ah Hakikiyah Dan Bid’ah Idhofiyah

Bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu Bid’ah Hakikiyah dan Bid’ah Idhofiyah.

1. Bid’ah Hakikiyah adalah bid’ah yang sama sekali tidak ada dalil syar’i yang memerintahkannya, baik dari Al-Qur’an atau pun As-Sunnah ditinjau dari seluruh sisinya. Sebagai contohnya adalah mendekatkan diri kepada Alloh dengan bertapa atau mengisolasi diri dari masyarakat dengan pergi ke gunung dan mencampakan kehidupan dunianya. Contoh yang lain adalah mengharamkan makanan yang telah Alloh halalkan dalam rangka beribadah kepada Alloh.

2. Bid’ah Idhofiyah memiliki dua sisi. Dari satu sisi amalan tersebut disyariatkan, namun dari sisi yang lain, ada unsur yang baru (bid’ah) yang dimasukkan ke dalam ibadah tersebut, baik dalam caranya, waktu pelaksanaannya, ataupun yang lainnya. Di antara contohnya adalah puasa dengan berdiri di tengah terik matahari, puasa tanpa berbuka, melakukan dzikir secara berjamaah dengan dikomando oleh satu suara/pemimpin, perayaan maulid Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan contoh bid’ah yang lain yang asalnya diperintahkan tapi dilaksanakan dengan cara yang tidak dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dampak Perbuatan Bid’ah

Dampak perbuatan bid’ah di dalam agama sangatlah banyak dan dahsyat, walaupun banyak orang yang menyukainya. Maka di sini akan kami sebutkan beberapa dampak yang ditimbulkan agar kita semakin berhati-hati dan takut untuk terjerumus dalam perbuatan ini.

1. Seluruh bid’ah adalah sesat, sedangkan setiap kesesatan itu didalam neraka.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dan setiap perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di dalam neraka.” (HR. Nasa’i)

2. Amalannya Tertolak.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu amalan itu tertolak.” (HR. Bukhori-Muslim). Maka ketika Allah menjelaskan tentang orang yang paling merugi, Alloh berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang berbuat kesesatan tatkala hidup di dunia sedangkan mereka mengira berbuat kebaikan.” (Al Kahfi: 104) dan inilah ciri khas dari bid’ah, yaitu seseorang meyakini berbuat suatu kebaikan yang dapat menghantarkannya ke surga tetapi pada hakikatnya dia telah menempuh jalan kesesatan yang menghantarkan ke dalam jurang neraka.

3. Termasuk orang yang dilaknat.

Berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah maka dia akan mendapatkan laknat Allah, para malaikat dan manusia semuanya.” (HR. Bukhori-Muslim)

4. Alloh menutup pintu taubat bagi pelaku bid’ah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa salam, “Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah). Sufyan Ats Tsaury berkata, “Bid’ah lebih dicintai iblis daripada maksiat, orang terkadang bertaubat dari maksiat tetapi seseorang akan sulit bertaubat dari perbuatatan bid’ah”. Hal ini dikarenakan pelaku bid’ah menganggap bid’ah yang dilakukannya itu sebagai amal sholih yang mendekatkan diri pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu dia tidak akan pernah berpikir untuk bertaubat dari perbuatan bid’ahnya tersebut dan bahkan sebaliknya ia berusaha melanggengkan amalan bid’ah tersebut.

5. Kegelapan bid’ah menutupi cahaya sunnah.

Abdulloh bin Mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata, “Tidaklah datang suatu zaman kecuali orang-orang yang berbuat bid’ah pasti mematikan –menghilangkan- sunnah sehingga tumbuhlah bid’ah dan matilah sunnah.”

6. Ahli bid’ah menanggung dosanya sendiri dan dosa orang yang mengikutinya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menyeru kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa sebagaimaana dosa orang-orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim). Sedangka bid’ah merupakan kesesatan sebagaimana yang telah dinyatakan Rosululloh dalam hadits di atas. Inginkah ahlu bid’ah menanggung seluruh dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat?!

7. Ahli bid’ah akan dihalangi untuk memasuki telaga Nabi pada hari kiamat.

Sahl bin Sa’id berkata, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku mendahului dan menanti kamu di telaga. Barangsiapa yang melewatiku pasti dia minum, dan barangsiapa yang minum niscaya dia tidak akan haus selama-lamanya. Sesungguhnya sekelompok orang akan mendatangiku, aku mengenal mereka dan mereka mengenalku kemudian dihalangi antara aku dan mereka”. Dalam riwayat lain disebutkan tambahan, “Aku (Nabi) berkata, ’Sesungguhnya mereka dari pengikutku’, tetapi muncul jawaban, ’Engkau tidak tahu bid’ah apa yang mereka lakukan sepeninggalmu’. Aku pun berkata, ’Sungguh celaka, sungguh celaka orang yang berbuat bid’ah sepeninggalku’.” (HR. Bukhori-Muslim)

Itulah beberapa bahaya yang dahsyat dan mengerikan yang ditimbulkan dari perbuatan bid’ah. Maka belum datangkah waktunya bagi para pelaku bid’ah dan pembelanya untuk menghentikan perbuatan bid’ahnya dan bertaubat pada Alloh Subhanahu wa Ta’ala . Hanya Alloh lah yang memberikan petunjuk ke jalan yang lurus yang penuh dengan cahaya sunnah dan menyelamatkan dari kegelapan bid’ah yang sesat. Wallohul musta’an.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar