Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Rabu, 27 Juni 2012

JIL memang belum mati, tapi sekarat

admmuslimmenjawab.multiply.com
Di masa jaya-jayanya JIL (Jaringan Islam Liberal), dedengkot JIL ditanya kerabatnya, kenapa kamu pilih di jalur yang nyempal dari Islam?
Dijawab dengan singkat: yo sik to kang, tak golek duit disik. (ya biarin saja dulu to Mas, saya mau cari duit dulu).

Blak-blakan seperti itu ternyata tidak menguntungkan pula, karena sehabis itu lembaga kafir dari Amerika –yang mendanai JIL bersama 44 lembaga liberal lainnya di Indonesia–  tidak lagi memasok dana. Begitu mereka yang netek dana dari lembaga kafir itu tiba-tiba disapih tahun 2005-an, tampaknya agak lesu darah pula gerombolan liberal itu. Sementara itu gebukan yang bertubi-tubi dari Muslimin yang masih punya ghirah Islamiyah semakin gencar. Sedang dana dari lembaga kafir tampaknya pilih dikucurkan lewat lembaga resmi Departemen Agama (kini kementerian agama) untuk menatar 160-an doctor dari perguruan tinggi Islam se-Indonesia tiap tahun. Yang ini tampaknya lebih dipilih, karena walaupun lewat jalur departemen paling korup menurut KPK namun mungkin bagi lembaga kafir Amerika yang mengucuri dana untuk meliberalkan Muslimin Indonesia lewat para dosen kepada mahasiswa Islam itu lebih efektif.
Akibatnya, JIL dan yang mengasong lainnya untuk jualan faham liberal yang telah diharamkan MUI dalam fatwanya tahun 2005, tidak didanai lagi.
Dalam keadaan tak dikucuri dana seperti itu, masih pula gerombolan liberal itu mendapatkan hantaman dari para pembela Islam. Lebih sakit lagi bagi JIL dan gerombolan libera lainnya, karena sesama liberal kadang saling menyalahkan. Ketika sebagian dari gerombolan liberal itu berloncatan ke partai politik, maka seakan diteriaki. Pantesan, kerjaannya untuk meliberalkan selama ini menjadi tidak beres. Lha wong asyik meloncat ke partai politik…
Di balik itu, mereka masih disemprot pula, masuk politik juga tidak ada gunanya. Justru menambah kentalnya orang politik dalam beragama.
Untuk menangkis semprotan dari teman segerombolan liberal semacam itu, maka jawabannya pun sudah tersedia, dengan membuka kartunya pula: kita masuk partai kan sudah benar, karena yang kita masuki partai sekuler, bukan partai agama.
Rupanya berpayah-payah menjadi orang liberal bahkan sampai jadi dedengkotnya, ketika duit sudah tidak mengucur lagi, cukup hanya “mensyukuri” bahwa bisa berjalan pada jalur yang benar menurut aturan liberal, yaitu kalau masuk partai jangan sampai partai agama. Harus partai sekuler. Itu yang benar menurut aturan liberal, maka “wajib disyukuri”, karena tidak salah jalan.
Di kala JIL telah ketahuan belangnya, dan menjadikan partai sekuler sebagai sarangnya atau tempat pelariannya, sedang Ummat Islam yang gerah dengan lontaran-lontaran JIL yang mengusik Islam itu cukup banyak jumlahnya, berarti JIL menjadi penyakit tersendiri bagi partai yang dimasukinya. Karena akan dimusuhi oleh musuh-musuh JIL.
Ya seperti itu kurang lebihnya nasib JIL di dunia ini, belum lagi di akherat kelak bila sampai nyawa mereka dicabut belum sempat bertaubat.
Inilah gambaran kondisi deritanya.
***
JIL & Kelompok Liberal Mulai Kere-Meredup, Kini Mulai Saweran
Kamis, 08 Mar 2012
JAKARTA (VoA-Islam) - Benar adanya, jika JIL telah meredup, setelah desas-desus mereka tidak lagi mendapat bantuan asing. Ini disitir dari pendapat Ulil Abshar Abdala yang mengklaim bahwa dana asing itu terakhir diterima oleh JIL pada tahun 2004.
Bicara soal dana kegiatan, diakui Novriantoni, koordinator program JIL, dulu JIL memperolehnya dari The Asia Foundation (TAF) dari tahun 2001-2005. Pertengahan 2005 tidak dapat lagi dari TAF. Jadi sekarang JIL dananya dari voluntary (sumbangan sukarela). Misalnya Goenawan Mohamad saweran (sumbangan dana) buat JIL perbulan, dan beberapa orang lain simpatisan yang juga saweran untuk JIL.
“Jadi ada beberapa orang yang support JIL terus menerus. Funding asing tidak kita pakai lagi, kecuali ada yang mengajak kerjasama, misalnya kedutaan ajak kerjasama program diskusi kampus, pengadaan buku dan sebagainya. Secara umum bukan funding yang menentukan program kita, mereka mau support oke, tidak mau juga gak apa apa. Kita yang menentukan program, bukan funding,” kata Novri.
Kendati kere, diakui Novriantoni, donatur domestic kecil-kecilan tetap ada. Yang memberi sejuta perbulan ada tiga juta. “Untuk kaya, JIL memang tidak bisa, tapi sekedar untuk survive saja. JIL itu NGO yang berdana kecil tapi kerjanya banyak. Hanya dengan 400jutaan JIL bisa bikin 50-an diskusi dalam setahun,” ungkap Novri.
Yang pasti, Koordinator JIL Ulil Abshar Abdalla sempat mengakui, bahwa JIL didanai oleh The Asia Foundation (TAF). Perihal jumlahnya, seperti diakui Ulil, setiap tahun JIL mendapat sekitar Rp. 1,4 milyar. “Selain itu, JIL juga mendapatkan dana dari sumber-sumber domestic, Eropa dan Amerika. Tapi yang paling besar berasal dari TAF,” kata Ulil.
Para pengasong paham Sepilis tak lebih dari budak-budak kuffar yang ikut dalam gerbong imprealisme Barat untuk menaklukkan negeri-negeri Muslim. Keberadaannya tak hanya mengancam umat Islam, tapi juga bangsa ini secara keseluruhan.
Sekularisme, Pluraslisme dan Liberalisme adalah tiga ide besar yang hingga saat ini terus dijajakan AS dan sekutunya, dengan bantuan para pengasong di negeri-negeri Muslim, seperti Indonesia. Mereka yang menjadi budak Barat itu adalah Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang dimotori oleh Siti Musdah Mulia, Freedom Institute yang dimotori oleh Luthfi Asy-Syaukanie, the Wahid Institute yang dimotori oleh Yeni Abdurrahman Wahid.
Siapa lagi? Setara Institute yang dimotori oleh Hendardi, International Center for Islam and Pluralism yang dimotori oleh M. Syafi’i Anwar, Komunitas Salihara yang dimotori oleh Goenawan Mohammad dan Guntur Romli, LibforAll Foundation yang dimotori oleh C. Holland Taylor (orang yang seringkali mengajak tokoh-tokoh sekular Indonesia ke Israel), dan masih banyak lagi LSM-LSM komprador yang bekerja sebagai “babu asing” dan menjalankan aksinya untuk merusak akidah dan keyakinan umat Islam.
Sekalipun meredup, nama JIL yang tenar akan kenyelenehannya, kini dibantu media massa untuk kembali menjadi populer pasca meledaknya Bom Utan Kayu dan seakan memberitahukan bahwa JIL memang belum mati, tapi sekarat. Desastian/ voaislam
(nahimunkar.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar