Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Senin, 18 Juni 2012

Kasus Sampang dan Para Tokoh yang Nadanya Membela Aliran Sesat Syi’ah

Dari setiap peristiwa boleh jadi akan menghasilkan sesuatu yang membuat mata kita semakin terbuka tentang sesuatu yang tadinya gelap atau samar-samar. Demikian juga kiranya dari kasus Sampang, Madura, yang terjadi di penghujung tahun 2011. Sebuah kasus perusakan, pembakaran yang terjadi pada 29 Desember 2011, terhadap sejumlah aset milik sekte Syi’ah di Sampang, Madura. Melalui kasus tersebut kita bisa melihat jelas bahwa pendukung Syi’ah kian berani membela kesesatannya, sementara itu, sosok atau kelompok yang selama ini diposisikan sebagai bukan Syi’ah justru tidak tegas, takut-takut menyatakan kesesatan Syi’ah dan hanya mempermasalahkan kasus kekerasan yang terjadi belakangan. Padahal itu hanya ekses.
Pagi itu sekitar jam 09:00 waktu setempat, Iklil AlMilal (39 tahun) melihat adanya gerakan massa dalam jumlah cukup besar, sekitar 500-an orang, lengkap dengan senjata tajam, menuju areal kediaman adiknya,Tajul Muluk (38 tahun). Di areal kediaman Tajul Muluk selain berdiri rumah tinggal Tajul dan keluarganya, juga berdiri sebuah Mushalla, madrasah, asrama santri, juga warung.

Begitu tiba di lokasi, massa langsung melakukan aksi perusakan, dan membakar aset yang ada di tempat kejadian. Untungnya, Iklil AlMilal sempat memerintahkan sejumlah wanita yang masih berdiam di rumah tinggal Tajul Muluk untuk hengkang ke sebuah tempat yang dianggap aman. Saat kejadian, Tajul Muluk dan keluarga masih berada di Malang, Jawa Timur, konon dalam rangka mengungsi untuk menghindari ancaman dibunuh, karena ia menyebarkan ajaran sesat Syi’ah.
Dari areal kediaman Tajul Muluk, massa kemudian bergerak menuju areal kediaman Iklil AlMilal di Desa Blu’uran kampung Geding Laok, sekitar satu kilometer dari areal sebelumnya. Di tempat ini, massa juga melakukan penyerangan, perusakan dan pembakaran. Aksi berlanjut ke kediaman Ummu Hani (27 tahun), adik Tajul Muluk, warga kampung Solong Berek desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura.
Kejadian itu, seperti biasa, diberitakan media massa pada bagian ujungnya saja. Hampir tidak diberitakan rangkaian penyebabnya yang sudah terbangun sejak sekitar tujuh tahun sebelumnya (2004). Menurut Abuya Ali Karrar Sinhaji (Pimpinan PP Daruttauhid, Desa Lenteng, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura), Tajul Muluk dan adiknya Roisul Hukama yang kala itu masih berpaham sesat Syi’ah mulai menyebarkan ajarannya ke tengah-tengah masyarakat Islam di madura. Masyarakat menolak, dan melaporkan aktivitas Tajul-Rois kepada ulama setempat.
Semenjak Tajul Muluk dan Roisul Hukama menyebarkan paham sesat Syi’ah, masyarakat yang mayoritas Islam sudah mulai memprotes, dan ada kalanya terjadi keributan atau bentrokan. Agar tidak berkelanjutan, maka ulama setempat menasihati Tajul agar tidak menyebarkan paham sesat Syi’ah ke tengah-tengah masyarakat yang cenderung menolaknya. Tapi Tajul maju terus.
Karena Tajul pantang mundur menyebarkan paham sesat Syi’ah, maka para ulama setempat disaksikan Kapolres Sampang, pada pertengahan April 2011 membuat kesepakatan bahwa Tajul Muluk dan kawan-kawan harus angkat kaki dari Madura; tidak menyebarkan fahamnya di kalangan masyarakat di Madura; dan semua pengikutnya harus kembali bergabung dengan majelis ta’lim NU Sunni untuk dapat dibina kembali.
Tajul Muluk dan keluarganya akhirnya memang keluar dari kawasan Madura, namun sekedar mengungsi ke Malang, Jawa Timur. Sementara itu, geliat menyebarkan paham sesat Syi’ah berlangsung terus. Karena terus-terusan mengingkari kesepakatan, puncaknya terjadilah bentrokan 29 Desember 2011. Maka, media massa pun gencar memberitakan peristiwa tersebut. Bagaimana dengan sikap para tokoh masyarakat?
Memanfaatkan Kasus Sampang
Bagi tokoh yang selama ini dikenali sebagai pendukung dan penyebar paham sesat Syi’ah, kasus Sampang dijadikan tunggangan memperkenalkan Syi’ah dan diklaim sebagai salah satu madzhab Islam yang diterima masyarakat dunia. Antara lain sebagaimana dilakoni oleh Umar Shihab.
Umar Shihab SM/dok
Menurut dia, sesuai konferensi internasional Ulama Islam di Mekkah, dua tahun silam, Syiah diakui sebagai bagian dari Islam. “Keberadaan mazhab Syiah sebenarnya sejak awal Islam. Sama juga dengan keberadaan mazhab ahlussunnah wal jamaah.” Begitu penjelasan Umar Shihab kepada Liputan6.com edisi 02/01/2012 04:58.
Ketika mempropagandakan Syi’ah, dengan memanfaatkan kasus Sampang, Umar Shihab mengatasnamakan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Padahal, menurut KH Ahmad Cholil Ridwan Lc. (Ketua MUI Pusat), Umar Shihab tidak berhak berbicara mewakili MUI Pusat, sebab ia bukan ketua umum dan bukan koordinator pengurus harian MUI.
KH Ahmad Cholil Ridwan Lc. juga menjelaskan, bahwa MUI sudah mengeluarkan rekomendasi agar mewaspadai masuknya Syi’ah. Dengan adanya rekomendasi itu, menurut Cholil, menujukkan bahwa Syi’ah justru lebih dari sekedar paham sesat tapi juga berbahaya.
Kepada voa-islam edisi Selasa, 03 Jan 2012, KH Ahmad Cholil Ridwan Lc. menjelaskan: “Itu memang bukan fatwa, tetapi ada rekomendasi yang bunyinya; umat Islam agar mewaspadai supaya aliran Syi’ah tidak masuk ke Indonesia, itu kan lebih dari pada sesat. Ngapain diwaspadai jangan masuk ke Indonesia kalau itu tidak sesat…”
Said Agil Siradj/ .lensaindonesia.
Begitu juga tentunya dengan KH Said Agil Siradj, yang berusaha meyakinkan masyarakat awam bahwa konflik Sampang bukan karena perbedaan akidah antara Suni dengan Syi’ah, tetapi merupakan konflik keluarga, rebutan pengaruh, santri, pesantren ataupun tanah wakaf. Sebagaimana dikatakan Said Agil kepada Republika edisi Selasa, 03 Januari 2012 15:00 WIB: “Sebenarnya masalah ini konflik keluarga bukan Sunni-Syiah. Buktinya di Jawa Barat di Jawa Tengah, tidak terjadi (konflik) Sunni-Syiah apalagi NU-Syiah…”
Sebelumnya, Tajul Muluk memang pernah mengatakan kepada media massa bahwa ia terlibat perselisihan dengan adik kandungnya sendiri, Roisul Hukama, yang sudah tidak lagi berpaham Syi’ah. Perselisian dengan sang adik diakui Tajul memperuncing pertikaian antara Sunni-Syiah yang ada di daerah tersebut. Sebagaimana diberitakan tempo.co edisi Senin, 02 Januari 2012 | 16:08 WIB, Tajul mengatakan: “Perselisihan dengan adik saya dimulai 2009 lalu, memang masalah perempuan. Pacar atau tunangan dia saya ambil…”
Rupanya Said Aqil Sitadj ingin menafikan (meniadakan) fakta: Karena terus-terusan Tajul Muluk mengingkari kesepakatan (tidak menyebarkan fahamnya yakni Syi’ah di kalangan masyarakat di Madura; dan semua pengikutnya harus kembali bergabung dengan majelis ta’lim NU Sunni), puncaknya terjadilah bentrokan 29 Desember 2011.
Jalaluddin Rakhmat/ fanabis.blogdetik
Bagaimana dengan Jalaluddin Rakhmat? Dengan caranya sendiri, Kang Jalal berusaha ‘menyadarkan’ kita bahwa kekerasan yang dilakukan atas nama agama, sebagaimana terjadi di Sampang, hanya akan mengakibatkan seseorang memilih jadi ateis. Barangkali Kang Jalal ingin berpesan, seolah-olah menjadi Syi’ah masih lebih baik daripada menjadi ateis. (http://www.detiknews.com/read/2012/01/04/083526/1806073/103/agama-dan-kekerasan). Padahal, keduanya sama-sama tidak baik.
Ketiga tokoh di atas selama ini memang dikenal sebagai pendukung dan misionaris Syi’ah yang gigih. Namun ada juga yang selama ini tidak terdeteksi sebagai pendukung Syi’ah, tiba-tiba, pasca kasus Sampang, suaranya lebih condong berpihak kepada Syi’ah. Antara lain sebagaimana bisa ditemukan pada pernyataan Slamet Effendy Yusuf, politisi Partai Golkar yang juga Ketua PBNU dan salah satu Ketua MUI Pusat.
Menurut Slamet Effendy, sebagaimana dikutip okezone.com edisi Senin, 2 Januari 2012 06:31 wib, meski memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang namun Syi’ah diakui sebagai bagian dari aliran beberapa mazhab yang ada di dalam Islam. Sebagaimana Said Agil, Slamet Effendy juga mengaitkan bentrokan Sampang berlatar belakang urusan pribadi, antara Tajul Muluk dan adiknya, Roisul Hukama mantan penganut Syi’ah.
Pernyataan Slamet Effendy Yusuf jelas bertentangan dengan rekomendasi MUI Pusat sebagaimana dikemukakan oleh Cholil Ridwan di atas. Juga, bertentangan dengan surat PBNU nomor 724/A. II. 03/10/1997 bertanggal 12 Rabiul Akhir 1418 H (bertepatan dengan tanggal 14 Oktober 1997 M). Surat yang ditandatangani Rais Aam KH. M. Ilyas Ruhiat dan Katib Aam KH. M. Drs. Dawam Anwar, pada intinya mengingatkan kita agar tidak terkecoh oleh para propagandis Syi’ah. Juga, agar umat Islam Indonesia mengetahui perbedaan prinsipil ajaran Syi’ah dengan Islam. Sayangnya, propagandis Syi’ah itu kini tidak sekedar bercokol di NU, bahkan berhasil menduduki kursi Ketua Umum.
Takut-takut
Bila pendukung Syi’ah begitu berani dan kreatif membela kesesatannya, sebaliknya, mereka yang (maunya diakui) bukan Syi’ah, ternyata takut-takut mengeluarkan pernyataan sesat secara tegas, mereka hanya berani mempermasalahkan kasus kekerasannya saja. Barangkali ini merupakan sebuah fenomena runtuhnya keimanan dan keilmuan seseorang akibat bergesekan dengan dunia politik, bergesekan dengan harta-tahta-wanita.
Abdul Hakim/ tribun
Salah satu contohnya sebagaimana bisa dilihat pada sosok Abdul Hakim (Sekretaris Fraksi PKS dan anggota Komisi VIII Bidang Agama DPR RI). Menurut Abdul Hakim, sebagaimana dikutip vivanews.com edisi Kamis, 29 Desember 2011: “Saya mengecam tindakan anarkisme seperti itu. Perbedaan pandangan agama harus dihargai.”
Bahkan Abdul Hakim mengatakan, perbedaan pandangan agama termasuk dalam hak asasi manusia (HAM).
Jadi, perkataan politisi yang ini mengandung virus, yakni urusan akidah dan menjaga kemurnian akidah dari serangan paham sesat direduksi menjadi persoalan HAM. Bukankah justru merusak akidah orang yang sudah bertauhid itu merupakan pelanggaran HAM yang paling berat, ya Abdul Hakim?
Hidayat Nur wahid/ Tribunnews
Bila Abdul Hakim mengecam aparat polisi yang dinilainya lamban mencegah terjadinya bentrokan, maka senior Abdul Hakim, Hidayat Nur Wahid (HNW) mepermasalahkan PBNU, dan pemerintah dan karakter orang Madura yang temperamental. HNW sama sekali tidak mempermasalahkan mengapa Syi’ah bisa eksis di Madura untuk meracuni akidah umat Islam, dan mengapa misionaris Syi’ah berani mempertahankan diri di tengah-tengah kecaman warga yang menolak Syi’ah? Siapa di belakang mereka?
Ketika HNW baru pulang dari Saudi, ia begitu tegas terhadap paham sesat Syi’ah. Bahkan HNW menjadi salah satu pemakalah pada sebuah forum yang mengupas Syi’ah di Masjid Istiqlal pada tahun 1997. Namun belakangan, di tahun 2006, HNW mengatakan bahwa ia bukan berasal dari mazhab yang suka mengkafirkan sesama muslim, dan sama sekali tidak terkait dengan peristiwa vonis sesat secara in absentia terhadap aliran Syi’ah di Masjid Istiqlal tahun 1997. Menurut HNW, ia tidak menandatangani rekomendasi Istiqlal itu. Jadi, HNW itu menganggap Syi’ah sama dengan Islam, tidak sesat? Astaghfirullah…
Suryadharma Ali/ foto voaislam
Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) yang juga ketua PPP (Partai Persatuan Pembangunan), juga terkesan tidak berani alias takut-takut menyatakan secara tegas bahwa Syi’ah itu sesat. Pernyataannya seperti orang yang sekedar menghindar dari guyuran hujan, sekenanya. “Kemudian pertanyaan apakah Syiah itu sesat atau tidak sesat, jadi itu kita serahkan sepenuhnya kepada Majelis Ulama Indonesia, karena MUI itu memiliki ahli-ahli yang tentu memiliki kompetensi di bidangnya dan memiliki kredibilitas lebih tinggi untuk memberikan penilaian terhadap suatu ajaran agama.” (okezone.com edisi Rabu, 4 Januari 2012 05:43 wib).
SDA juga lebih cenderung menyoroti hanya aspek kekerasan fisiknya saja (perusakan, pembakaran), namun sama sekali tidak menyinggung perusakan akidah sebagaimana dijajakan propagandis Syi’ah sejak bertahun-tahun di kawasan Madura yang mayoritas penduduknya beragama Islam. “Prinsip dasarnya adalah tidak dibenarkan adanya tindak kekerasan dengan dalil apapun dan siapapun itu…”
SDA sama sekali mengabaikan surat edaran yang pernah diterbitkan Departemen Agama (surat edaran No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal 5 Desember 1983, Tentang Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah), yang pada butir ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam: “Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiyah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan takhayul yang menyimpang dari ajaran Islam.”
Begitulah faktanya: pendukung Syi’ah, pembela Syi’ah kian berani, agresif dan kreatif membela paham sesatnya. Sementara itu, dengan jelas terlihat ada sesosok makhluk yang terlihat gamang, takut-takut menyatakan kesesatan Syi’ah. Mereka berputar-putar mengemukakan argumentasi dengan dalih HAM, anti kekerasan, dan sebagainya, sementara itu mereka tidak peduli dengan perusakan akidah yang dilakukan propagandis Syi’ah. Sesungguhnya, mereka yang mendukung kesesatan secara langsung atau tak langsung, juga tergolong orang yang sesat. Astaghfirullah…
Syafii Maarif /tempo.co
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif mengutuk keras aksi pembakaran terhadap pondok pesantren Syiah di Kecamatan Karang Penang, Sampang. Terlebih jika aksi pembakaran tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan keagamaan.
Menurutnya, kebenaran bukanlah milik individu apalagi kelompok. Syafii mengatakan, Syiah telah diakui sebagai mazhab kelima dalam Islam. Dia pun menyatakan bahwa setiap orang, sekalipun atheis berhak hidup. Terpenting, katanya, bisa hidup rukun dan toleran.  (Voa-IslamRabu, 04 Jan 2012).
Biarlah Syafii Maarif berkata begitu, karena dia tidak mengemukakan dalil apa-apa, hanya berdasarkan akalnya. Tetapi, kalau akalnya genap, mungkin dia dapat berfikir dan mencari informasi, bahwa faktanya adalah: Ada 22 Kesesatan Syi’ah yang Dibawa Tajul Muluk  (Temuan Ulama Madura)
  • Mereka (ajaran Syi’ah Tajul Muluk Ma’mun, red) menganggap bahwa Kitab Suci Al-Qur’an yang ada pada tangan Muslimin se-alam semesta tidak murni diturunkan Allah, akan tetapi sudah terdapat penambahan, pengurangan dan perubahan dalam susunan Ayat-ayatnya.
Mereka menganggap bahwa semua ummat Islam – selain kaum Syi’ah – mulai dari para Shahabat Nabi hingga hari qiamat – termasuk didalamnya tiga Khalifah Nabi (Abu Bakar, Umar, Utsman) dan imam empat Madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’ie, Ahmad) termasuk pula Bujuk Batu Ampar – adalah orang-orang pendusta, bodoh lagi murtad karena membenarkan tiga Khalifah tersebut di dalam merebut kekhalifaan Ali bin Abi Thalib.( 4 January 2012 | Filed under: Aliran Sesat,Dunia Islam,Featured,Headline,Indonesia,Syi’ah | Posted by:nahimunkar.com,http://nahimunkar.com/10517/10517/).
Din Syamsudin
Din Syamsudin, Ketua Umum Muhammadiyah/ surya.co.id
Pada Konferensi Persatuan Islam Sedunia yang berlangsung 4-6 Mei 2008 di Teheran, Iran, Din Syamsuddin pernah mengatakan, bahwa Sunni dan Syi’ah ada perbedaan, tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Menurut Din, Sunni dan Syi’ah berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, yakni Ali bin Abi Thalib.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini juga mengatakan, sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini (Sunni dan Syi’ah) bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini yaitu kemiskinan dan keterbelakangan. (Detikcom 5 Mei 2008)
Dikatakan Din, seandainya tidak dicapai titik temu, maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi. Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan “kalimat sama” (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak perlu sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut. (Voa-Islam, Rabu, 04 Jan 2012).
Sebagai tokoh, ketika berbicara mestinya pakai dalil dan bukti. Apa yang Din katakan itu bertentangan dengan fakta dari kitab Syi’ah sendiri, bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).
Apakah itu bukan masalah pokok lagi prinsip? Betapa beraninya orang ini dalam berdusta untuk mendukung dusta pula!
Sadarilah wahai orang-orang yang terpeleset!
Perlu diingatkan, bagaimana pertanggungan jawab di akherat kelak, ketika kini mereka begitu entengnya membela syiah yang merusak Islam. Padahal di antara ajarannya itu sangat menjijikkan, contohnya ini:
  • Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).
Bahkan Syiah itu merusak Islam dari pangkalnya. Di antaranya ini:
  • Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).
Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232). (Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007. Fadly  /arrahmah.com  Sabtu, 31 Desember 2011 19:04:46).
Mari kita ulangi lagi, Peringatan keras secara resmi sudah ada dari Depag (kini Kemenag) dan dari MUI.
  • Surat edaran yang pernah diterbitkan Departemen Agama (surat edaran No: D/BA.01/4865/1983, Tanggal 5 Desember 1983, Tentang Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah), yang pada butir ke-5 tentang Syi’ah Imamiyah disebutkan sejumlah perbedaannya dengan Islam: “Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. “
  •  Rekomendasi MUI dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M di antaranya: Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.
Agar utuh, mari kita simak selengkapnya sebagai berikut:
Dalam buku yang berjudul “Mengawal Aqidah Umat, Fatwa MUI Tentang Aliran-Aliran Sesat di Indonesia”, pada halaman 44, MUI telah memasukkan Faham Syiah ke dalam “Daftar Inventaris Tentang Aliran Sesat Fatwa MUI Sejak 1971-2007”. Bahkan judul itu diberi  tanda bintang (*) dengan keterangan: Komisi Pengkajian & Pengembangan MUI Pusat. Data ini terus diperbaharui berdasarkan masukan dari MUI Provinsi&Daerah Kabupaten/Kota.
Sementara isi fatwa MUI tentang Paham Syiah dimuat dalam halaman 52- 53 sebagai berikut:
FAHAM SYIAH
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M merekomendasikan tentang faham Syi’ ah sebagai berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal Jamm’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu di antaranya :
1)               Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlu Bait, sedangkan ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis.
2)               Syi’ah memandang “Imam” itu ma‘sum (orang suci), sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan).
3)               Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’ tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.
4)               Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan umat.
5)               Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khatab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib).
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.
(shodiq ramadhan) Shodiq Ramadhan | Selasa, 03 Januari 2012 | 19:53:13 WIB (suara-islam.com) http://nahimunkar.com/10509/syiah-menurut-majelis-ulama-indonesia-mui/
Ketika di dunia ini saja orang-orang yang dipertanyakan aqidahnya karena membela syiah yang sesat itu kini sudah tampak nyata bahwa mereka terpeleset. Ini hanya untuk menghaluskan kata, mungkin hakekatnya lebih buruk dari itu. Maka seharusnya mereka itu kembali ke jalan yang benar. Sedang peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas:
1721 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ *
1721 . Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kalimah yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam Neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat  (Hadits Muttafaq ‘alaih).
 (haji/tede-nahimunkar.com)
catatan: kami tampilkan foto dlm posting ini , dalam rangka agar umat bisa mengenali tokoh ini jika berbicara di TV

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar