Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Minggu, 17 Juni 2012

Menepis Kerancuan Pemikiran Habib Rizieq Shihab (3)

“Mengetahui kesesatan adalah untuk menghindarinya”
Ini adalah tulisan kami yang ketiga yang berkaitan dengan menepis kerancuan pemahaman Habib Rizieq Shihab 
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat Islam dan nikmat di atas Sunnah dan menghindarkan kita dari jalan kesesatan. Semoga Allah menetapkan kita di atas kebenaran, di atas jalan yang ditempuh Rasulullah dan Sahabatnya.
Shalawat dan salam kita mohonkan kepada Allah agar tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarganya dan semua sahabatnya.
Ini adalah tulisan kami yang ketiga yang berkaitan dengan menepis kerancuan pemahaman Habib Rizieq Shihab (semoga Allah memberi petunjuk kepadanya). Kami berharap tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan kaum muslimin. Kami juga berharap agar Allah menjadikan kita ikhlash dalam seluruh amalan kita.
Berkaitan dengan pernyataan Habib Rizieq Shihab pada suatu ceramahnya, yang berisi kerancuan yang banyak. Maka mari kita lihat perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: “Kebenaran itu apabila semakin ditentang dengan syubhat (kerancuan) maka Allah akan membangkitkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan dengan bukti-bukti kuat. Kebenaran itu ibaratnya emas murni, semakin teruji semakin tampak keasliannya, sedangkan kebatilan itu seperti emas palsu, semakin diuji semakin tampak kepalsuannya.”1

Dalam buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” pada Bab 13, Ustadz Yazid menyebutkan:2“Penulis bawakan sebagian firqah-firqah sesat, golongan atau aliran-aliran, dan pemahaman-pemahaman sesat agar umat Islam tidak mengikuti pemahaman ini.
Prinsip disyari’atkannya mengkaji tentang firqah-firqah sesat dasarnya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah.
Allah Ta’ala menyebutkan tentang keyakinan kufur dari Yahudi, Nasrani, para penyembah berhala dan lainnya, supaya umat Islam berhati-hati tidak mengikuti agama dan keyakinan mereka…
Sebagian Sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan kejelekan karena khawatir jatuh dalam kejelekan. Rasulullah telah memberitahukan kepada Hudzaifah Ibnul Yaman tentang berbagai macam fitnah…
Tidak diragukan lagi bahwa pembahasan tentang firqah, aliran, pemahaman sesat, madzhab-madzhab yang menyesatkan dan menyingkap kesesatan serta penyimpangan-penyimpangan mereka merupakan penjelasan tentang jalannya orang-orang yang berdosa.
Allah Ta’ala berfirman:
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآَيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat al-Qur’an, (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang shalih) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’aam: 55).
Imam al-Qurthubi berkata, ‘Apabila sudah jelas jalan orang-orang yang berdosa, maka akan jelas jalan orang-orang yang beriman.’3
Umar bin al-Khaththab berkata, ‘Sesungguhnya tali Islam akan terurai apabila bertambah di dalam Islam orang yang tidak kenal Jahiliyyah.’4
(Sampai di sini perkataan Ustadz Yazid).
Pembahasan tentang firqah-firqah sudah dilakukan oleh ulama sejak zaman dahulu dan terdapat kitab-kitab tantang firqah-firqah tersebut. Di antara ulama yang menulis tentang firqah-firqah adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah (wafat th. 324 H)5. Kitab-kitab yang membahas firqah-firqah:6
  1. Maqaalatul Islamiyyiin karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari (wafat th. 324 H).
  2. Al-Fishal fil Milal fil Ahwa’ wan Nihal karya Imam Ibnu Hazm (wafat th. 456 H).
  3. Al-Farqu bainal Firaq karya Imam Abdul Qahir bin Thahir bin Muhammad al-Baghdadi (wafat th. 429 H).
  4. Al-Milal wan Nihal karya Abul Fathi Muhammad bin Abul Qasim bin Abdul Karim bin Abu Bakar, yang terkenal dengan asy-Syahrastani (wafat th. 548 H).
  5. Majmu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dan kitab-kitab lainnya.
Di antara kitab-kitab para ulama dan masyayikh pada zaman sekarang yang membahas dan menjelaskan firqah-firqah, aliran, dan pemahaman yang menyimpang dari shirathal mustaqim, menyimpang dari pemahaman para sahabat, menyimpang dari aqidah dan manhaj Salafush Shalih adalah:7
  1. Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha, karya Dr. Nashir bin Abdil Karim al-‘Aql.
  2. Karya-karya Syaikh Dr. Ihsan Ilahi Zhahir tentang bantahan terhadap firqh-firqah sesat.
  3. Al-Muujaz fil Adyaan wal Madzahib al-Mu’aashirah, karya Dr. Nashir bin Abdullah al-Qafari dan Dr. Nashir bin Abdil Karim al-‘Aql.
  4. Al-Jamaa’aatul Islamiyyah fii Dhau-il Kitab was Sunnah bi Fahmi Salafil Ummah, karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali. Dan kitab-kitab lainnya.
Faedah: Dari pembahasan di atas kita mendapatkan faedah, yaitu:
  1. Seorang yang tidak mengenal kesesatan dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalamnya.
  2. Memperingatkan manusia dari jalan kejelekan dan kesesatan ada dasarnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.
  3. Menjelaskan kesesatan firqah-firqah, golongan, dan aliran telah dicontohkan oleh para ulama, termasuk di dalamnya adalah Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah.
  4. Menjelaskan kesesatan suatu kelompok bukanlah untuk memecah belah umat, akan tetapi agar kita terhindar dari kesesatan sehingga kita bisa bersatu di atas kebenaran.
Di antara manfaat mempelajari firqah-firqah sesat adalah:8
  1. Supaya kita selamat dari kesesatan dan penyimpangan. Sebagaimana disebutkan dalam sya’ir: Aku mengetahui kejelekan, bukan untuk kejelekan, tetapi untuk menjaga diri. Dan siapa saja yang tidak tahu kejelekan, maka dia akan terjatuh padanya.
  2. Kita mengajak mereka kepada pemahaman yang benar serta berusaha menyelamatkan mereka dari kesesatan.
  3. Kita akan mengetahui cara dan metode menjaga diri kita, keluarga, dan umat Islam supaya terhindar dari kejelekan mereka, rencana-rencana mereka, dan juga konspirasi mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.
  4. Kita membahas masalah ini dengan tujuan untuk ishlah (memperbaiki) keadaan umat agar kembali kepada agama yang benar.
MENEBAS SYUBHAT HABIB RIZIEQ SHIHAB
Tebasan Pertama.
Di sebagian ocehannya, Habib Rizieq Shihab menggambarkan bahwa membantah atau menjelaskan pemikiran sesat adalah bentuk memecah belah umat. Maka syubhat ini telah terjawab pada pembahasan di atas dan pada tulisan kami sebelumnya. Insya Allah.
Menjelaskan pemikiran sesat adalah bagian dari dakwah kepada kebenaran, bukan memecah belah umat. Bahkan menjelaskan pemikiran sesat adalah untuk menyatukan umat di atas kebenaran.
Kami akan berikan urutan proses bersatunya kaum muslimin:
  1. Kaum muslimin mengetahui jalan kesesatan dan jalan kebenaran.
  2. Kemudian menghindari jalan kesesatan dan menuju jalan yang benar.
  3. Selanjutnya mereka akan berada di atas kebenaran, mereka akan berada dalam satu manhaj, mereka akan berada di atas al-Qur’an dan Sunnah, berada di atas agama Rasulullah dan Sahabatnya.
  4. Hasilnya mereka bersatu dalam jalan kebenaran. Maka akan terwujud Ukhuwah Islamiyah. Pahamilah hal ini!
Jika tidak ada yang menjelaskan jalan kesesatan, maka urutannya adalah:
  1. Kaum muslimin tidak mengetahui jalan kesesatan.
  2. Kaum muslimin akan terjerumus kepada kesesatan yang banyak. Kaum muslimin akan terjerumus ke dalam kubangan kesesatan yang bermacam-macam. Kaum muslimin akan terdiri dari berbagai macam pemikiran sesat yang berbeda-beda.
  3. Akibatnya mereka berpecah belah. Pahamilah hal ini!
Tebasan Kedua.
Di sebagian ocehannya, Habib Rizieq Shihab memberikan gambaran kepada kaum muslimin bahwa buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” adalah buku yang mengkafirkan sesama muslim dan mengkafirkan ulama.
Maka kami katakan: Kami mempersilahkan kepada Habib Rizieq Shihab dan orang-orang yang sepemikiran dengannya untuk menunjukkan ‘pernyataan’ yang ada dalam buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” yang menunjukkan pengkafiran sesama muslim dan pengkafiran ulama.
Jika tidak ada ‘pernyataan’ pengkafiran tersebut, maka jangan sekali-kali mengadakan kebohongan, jangan memberikan gambaran jelek kepada buku yang menjelaskan tentangmanhaj salaf. Jangan menipu kaum muslimin! Takutlah kepada Allah!
Jangan menjauhkan kaum muslimin dari kebenaran! Jangan menjauhkan kaum muslimin dari manhaj Rasulullah dan Sahabatnya! Jangan menjauhkan kaum muslimin dari ahli ilmu!
Jangan menjauhkan kaum muslimin dari buku yang bermanfaat!
Bahkan, jika kita mau jujur kita akan mengakui manhaj salaf adalah manhaj yang memuliakan ulama. Kita akan dapati di dalam ceramah dan buku bermanhaj salaf pujian kepada ulama. Kita akan dapati buku yang berisi biografi ulama yang ditulis oleh seorang Salafi. Di dalam buku bermanhaj salaf akan didapati perkataan ulama. Penulis yang bermanhaj salaf mendo’akan ulama dalam bukunya. Jadi, bagaimana mungkin manhaj salaf mengkafirkan ulama?
Segala tuduhan tanpa bukti, maka pelontarnya hanya pembual semata.
Tebasan Ketiga.
Di sebagian ocehannya, Habib Rizieq Shihab memberikan gambaran kepada kaum muslimin bahwa Salafi suka mengkafirkan.
Kami katakan: Ini adalah tuduhan semata! Ini menunjukkan ketidakpahaman Habib Rizieq tentang manhaj Salaf. Maka kami mempersilahkan kepada Habib Rizieq agar membaca buku“Mulia dengan Manhaj Salaf”. Andai saja Habib Rizieq mau meluangkan waktunya untuk membaca buku ini (dari awal sampai akhir), maka (Insya Allah) akan menghilangkan syubhat yang ada pada dirinya.
Manhaj salaf adalah manhaj (metode) yang benar dalam beragama. Manhaj salaf adalah manhaj Rasulullah dan Sahabatnya. Bagaimana mungkin manhaj Rasulullah dan Sahabatnya adalah suka mengkafirkan? Hanya kepada Allah kami adukan kebodohan orang yang bodoh!
Tebasan Keempat (Penyebutan macam-macam firqah sesat).
Pada bab 13 buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” disebutkan judul “Firqah-Firqah Sesat dan Menyesatkan”. Di dalam bab 13 ini disebutkan sejumlah firqah sesat.
Ketahuilah wahai Saudara-Saudariku, penyebutan berbagai macam firqah sesat dalam satu bab, bukan berarti setiap firqah sesat adalah sama dalam hal kesesatannya.
Ambil contoh: Di antara firqah sesat yang disebutkan dalam buku ini adalah jama’ah tabligh dan ahmadiyah. Maka penyebutan jama’ah tabligh dan ahmadiyah ini dalam satu bab, bukan berarti kedua firqah ini adalah sama dalam kesesatannya. Mohon diperhatikan!
Jadi jika kita mengatakan Ahmadiyah adalah kafir bukan berarti jama’ah tabligh langsung kita katakan adalah kafir. Karena kesesatan keduanya ada perbedaan. Pahamilah ini!
Begitu juga penyebutan firqah Asy’ari satu bab dengan JIL (Jaringan Iblis) maka bukan berarti kita menyamakan Asy’ari dengan JIL. Karena keduanya ada perbedaan.
Mari kita lihat hadits Nabi tentang pembatal Shalat!
Apabila seseorang shalat, lalu dilewati oleh salah satu dari tiga, maka shalatnya batal, yaitu
  1. Wanita yang sudah baligh,
  2. Keledai, dan
  3. Anjing hitam.
Dari Abu Dzarr al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallambersabda, “Jika seorang muslim tidak menggunakan sutrah seperti pelana unta dalam shalatnya maka shalatnya akan terputus jika lewat di hadapannya seorang wanita, seekor keledai, dan anjing hitam.’” Al-Hadits. Dalam hadits tersebut disebutkan: “Anjing hitam itu adalah setan.” (HR. Muslim).9
Di dalam buku Sifat Shalat Nabi karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani disebutkan Rasulullah bersabda, “Yang memutuskan shalat seseorang, apabila di hadapannya tidak terdapat sesuatu setinggi kayu yang terdapat pada ujung pelana adalah dilewati perempuan (yang haidh)10, keledai, dan anjing hitam.” Abu Dzar berkata: Aku bertanya: “Wahai Rasulullah! Apa bedanya anjing hitam dengan anjing merah?” “Anjing hitam adalah syaithan,” jawab beliau.11  
Penyebutan wanita yang sudah baligh dan keledai dalam satu pembahasan bukan berarti kita menyamakan wanita dengan keledai. Begitu juga penyebutan Asy’ari, jama’ah tabligh, Ahmadiyah dan JIL dalam satu pembahasan, bukan berarti kita menyamakan keempat firqah tersebut. Karena masing-masing firqah memiliki kesesatan yang berbeda.
Ambil contoh: Jika kita mengatakan Ahmadiyah dan JIL memiliki keyakinan kufur. Bukan berarti kita langsung mengatakan Asy’ari dan jama’ah tabligh juga memiliki keyakinan kufur yang sama dengan Ahmadiyah dan JIL (Jaringan Iblis).
Walhasil, dalam pembahasan kesesatan dan kekafiran hendaklah kita merujuk kepada ahli ilmu. Oleh sebab itu jangan serampangan dalam pembahasan kesesatan dan kekafiran. Allahu a’lam.
Mudah-mudahan bisa dimengerti. Semoga Allah memberikan pemahaman agama kepada kita.
Tebasan Keenam (Penggunaan kata ‘sesat’ dan ‘kafir’).
Penggunaan kata ‘sesat’ dan ‘kafir’ ada perincian. Jika kita katakan suatu firqah adalah sesat bukan berarti firqah itu langsung dikatakan kafir. Maka dilihat dulu apakah kesesatannya menyebabkan kekafiran atau tidak. Akan tetapi jika suatu firqah dikatakan adalah kafir maka tidak diragukan lagi kesesatannya. Jadi ‘sesat’ belum tentu ‘kafir’, dan ‘kafir’ sudah jelas ‘sesat’. Mohon dipahami!
Oleh sebab itu Habib Rizieq Shihab jangan memukul rata istilah ‘sesat’ dan ‘kafir’!!!
Mari kita ambil pelajaran dari perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau berkata,“Siapa saja yang berbicara bukan pada bidangnya, niscaya dia akan melontarkan keanehan-keanehan.” (Fathul Bari).12
Allahu a’lam.
Disusun oleh Abu Aslam bin Syahmir Marbawi
Footnote:
  1. Thariqul Wushul hlm. 194 oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Lihat buku “Meluruskan Sejarah Wahhabi” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman xiii.
  2. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas (semoga Allah menjaganya) halaman 497.
  3. Tafsir al-Qurthubi (IV/281) cet. Darul Kutub al-Ilmiyyah. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 498.
  4. Majmuu’ Fataawaa (XV/54), Minhaajus Sunnah (II/398, IV/590), dan Madaarijus Saalikiin (I/373). Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 498.
  5. Lahir pada tahun 260 H. Lihat buku “Al Ibanah, Buku Putih Imam al-Asy’ari” halaman 18. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 519.
  6. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 498-499.
  7. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 499.
  8. Lihat buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” halaman 500.
  9. Shahih: HR. Muslim (no. 510), Abu Dawud (no. 702), an-Nasa-i (no. 750), dan Ibnu Majah (no. 952). Lihat buku “Sifat Shalat Nabi” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas halaman 66-67.
  10. Maksudnya adalah wanita yang sudah baligh. Yang dimaksud dengan putus di sini, shalatnya batal.
  11. Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah (I/95/2). Lihat kitabTahdziirus Saajid min Ittikhaadzil Qubuuril Masaajid dan kitab Ahkaamul Janaa-iz wa Bida’uhakarya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Lihat buku “Sifat Shalat Nabi” karya Syaikh al-Albani halaman 114 (bahasa Indonesia). Lihat juga kitab Shifatu Shalaatin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam minat Takbir ilat Taslim ka annaka taraahaa karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani halaman 74.
  12. Fathul Bari 3/466. Kalimatul Haq halaman 131 oleh Syaikh Ahmad Syakir. Lihat buku “Meluruskan Sejarah Wahhabi” karya Ustadz Yusuf Abu Ubaidah halaman xxiii.
April 26, 2012muslimsumbar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar