Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Kamis, 07 Februari 2013

Anthony Vatswaf Galvin Green akhirnya muallaf "Saya Tak Percaya Tuhan Bisa Mati


:::Anthony Vatswaf Galvin Green akhirnya muallaf  "Saya Tak Percaya Tuhan Bisa Mati":::

Namanya Anthony Vatswaf Galvin Green, dan mengubah namanya setelah masuk Islam menjadi Abdur Raheem Green.  Kelahiran kelahiran Dar Es-Salaam, Tanzania. Sejak kecil ia sering mempertanyakan konsep ajaran sebelumnya yang menurutnya banyak tak masuk akal.
 
Ibu Green yang asli Polandia merupakan penganut Katolik Roma yang taat, membesarkan Green dan anak-anaknya yang lain dengan didikan ala Katolik. Green bahkan sempat disekolahkan di sebuah keuskupan Katolik Roma di Yorkshire di utara Inggris.
 
Hal pertama yang mengusik pikirannya tentang ajarannya terdahulu adalah ketika ia mendengar ibunya berdoa dan menyebut "Bunda Maria, ibu dari Tuhan Yesus!". Green merasa aneh dengan doa itu, bagaimana bisa Tuhan punya ibu? Karena Yesus yang ia kenal selama dalam konsep ajarannya terdahulu adalah Tuhan, bukan nabi seperti dalam ajaran Islam.
 
"Aku duduk dan memikirkan tentang hal ini ibu dari tuhan. Jika Bunda Maria adalah ibu dari Tuhan (Yesus), ia pastilah lebih juga Tuhan yang lebih baik dari Tuhan itu sendiri. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya," tutur Green mengenang pengalaman masa kecilnya.
 

    Saat masuk sekolah di keuskupan, Green mulai lebih banyak memikirkan banyak hal, mempelajarinya dan melakukan studi dan penelitian terhadap ajaran sebelumnya yang dianutnya. Salah satunya tentang "kewajiban" pengakuan dosa yang ditetapkan oleh para imam di keuskupannya. Green masih ingat, seluruh siswa diwajibkan paling tidak sekali setahun untuk melakukan pengakuan dosa.

 

    Bagi Green, doktrin pengakuan dosa adalah doktrin aneh dan tidak lebih dari konspirasi besar untuk mengendalikan orang lain. "Mengapa? Mengapa saya harus mengakui dosa-dosa saya pada para imam itu? Tidak bisakah saya meminta pada Tuhan saja untuk mengampuni saya? Apalagi menurut Alkitab Yesus berkata, berdoalah pada Tuhan untuk meminta ampunan atas dosa-dosa kita. Jika demikian, mengapa saya harus datang pada seorang pastur untuk meminta pengampunan dosa?" papar Green.

 
Green merasa ada persoalan besar dengan ini. Saya juga punya masalah nyata dengan doktrin gereja, doktrin inkarnasi dimana 'Tuhan menjelma menjadi manusia.''
 
Mencari Jawaban
 
Ketika usia 11 tahun, ayah Green mendapat pekerjaan sebagai Manajer Umum di Bank Barclays di Kairo. Sejak itu, sampai 10 tahun kemudian, Mesir menjadi tempat Green menghabiskan liburan sekolah, karena Green tetap bersekolah di Inggris.
 
Green selalu menikmati liburannya di Mesir, dan ketika ia kembali ke Inggris, banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya. Doktrin kehidupan Barat yang ia kenal selama ini, selalu mengukur kebahagiaan hidup dengan materi. Membandingkannya dengan kehidupan masyarakat Muslim di Mesir, Green jadi bertanya-tanya, mengapa ia harus tinggal di sini (Inggris)? Dan Green mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan: Apa tujuan hidup? Untuk alasan apa manusia ada? Apa arti semua ini? apa artinya cinta? hidup itu untuk apa? ...
 
Green berfikir dan merenungi semua pertanyaan itu dalam benaknya. 'Bukan!, hidup bukan hanya untuk sekolah, lulus ujian dengan nilai bagus, kuliah, dapat gelar sarjana, kemudian dapat pekerjaan yang bisa memberikannya banyak uang. Lalu menikah, punya anak, mengirim mereka ke sekolah terbaik, agar mereka mendapat pekerjaan dan uang untuk mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah dan seterusnya dan seterusnya....
 
Dan aku lalu berpikir,". itu sajakah?  Itukah tujuan dari hidup ini?  Semua ini hanya untuk itu ??..."
 
Saya berkata pada diriku sendiri : " Tidak mungkin!, saya tidak percaya bila kita ini hidup hanya demi alasan yang seperti itu." tukas Green.
 
Termotivasi untuk mencari jawaban sesungguhnya. Ia-pun mulai mencari tahu tentang ajaran agama lain, yang ia pikir bisa memberikan pandangan dan pemahaman tentang apa tujuan hidup itu dan apa tujuan hidup sebenarnya...
 
Sebuah peristiwa penting terjadi. Selama 10 tahun bolak-balik berlibur di Mesir, Green hanya mengenal satu orang yang mau ngobrol dengannya secara terbuka tentang Islam. Suatu hari Green terlibat perbincangan dengan orang itu, dan ia merasa seperti "mendapatkan" tinju pukulan seorang Mike Tyson mendarat di mukanya..
 
Dalam percakapan selama 40 menit, "Orang itu bertanya kepada saya beberapa pertanyaan sederhana yang "menusuk" dikepala saya sampai hari ini." kata Green.
 
"Kamu percaya Yesus itu Tuhan?"
 
Aku menjawab, "Ya."
 
Lalu orang itu bertanya lagi, "Kamu percaya Yesus mati di kayu salib?"
 
Aku menjawab, "Ya."
 
"Jadi kamu percaya Tuhan itu mati," tanya orang itu lagi.
 
Pertanyaan itu seakan menampar muka Green, dan ia tiba-tiba menyadari bahwa fakta itu sangat bodoh dan irrasional, "Bagaimana Tuhan bisa mati, mana mungkin manusia bisa membunuh Tuhan. Tentu saja saya tidak percaya bahwa Tuhan mati. 'You can't kill God '  Anda tidak dapat membunuh Tuhan." ujarnya.
 
Dalam usia muda, antara 19-20 tahun, Green menjalani kehidupannya sebagai hippis. "Saya berkata pada diri sendiri, lupakan soal agama, soal spiritualitas, lupakan semuanya. Mungkin hidup itu tidak ada maknanya, tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali menjadi orang kaya," ujar Green.
 
Persoalannya kala itu, Green tidak punya uang banyak. Ia lalu berpikir untuk mendapatkan uang banyak. Ia berpikir tentang negara-negara yang dianggapnya kaya dan mudah untuk mendapatkan uang, mulai dari Inggris, Amerika yang menjadi negeri impian, Jepang si negara kaya dari hasil kemajuan teknologinya, sampai Arab Saudi yang juga salah satu negara kaya.
 
Di titik Arab Saudi, Green mulai berpikir tentang apa agama yang dianut orang Arab, apa kitab suci mereka? Green langsung mengingat Al-Quran dan ia pun pergi ke sebuah toko buku untuk membeli Al-Quran yang dilengkap dengan terjemahannya.
 
"Saya adalah seorang yang bisa membaca dengan cepat. Saya masih ingat dengan jelas, saat itu saya naik kereta, duduk dekat jendela dan membaca terjemahan Al-Quran. Saya memandang ke luar jendela sejenak, lalu membaca lagi. Saya bisa mengatakan inilah momen ketika saya menyadari dan memercayai bahwa Quran berasal dari Allah. Saya berkata pada diri sendiri, "Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, Inilah buku itu(Al Quran)..!"  tutur Green.
 
Tak sekedar membaca, Green ingin mencoba apa yang diajarkan dalam Al-Quran. Pulang ke rumah, Green mencoba menunaikan salat meski ia tak tahu caranya. Ia cuma ingat pernah melihat juru masak keluarganya di Mesir menunaikan salat, dan Green mencoba meniru gerakan salat yang pernah dilihatnya itu.
 
Menjadi Seorang Muslim
 
Di hari selanjutnya, Green pergi ke sebuah toko buku yang merupakan bagian dari sebuah bangunan masjid. Ia melihat buku-buku tentang Nabi Muhammad dan buku tentang salat yang memang ia sedang mencarinya. Ketika melihat buku-buku itu Green berdecak kagum, "Wow, fantastis !"
 
Seorang lelaki lalu menyapanya, "Maaf, apakah Anda muslim?"
 
Saya berpikir, "Apakah aku seorang Muslim?? 'What does he mean by that?'  Apa yang dia maksud dengan itu? " fikirnya.
 
Saya lalu berkata padanya, "Dengar, saya percaya hanya ada satu Tuhan dialah Allah dan saya percaya Muhammad adalah utusan-Nya,"
 
Lalu orang itu berkata, "Anda adalah seorang Muslim!"
 
Aku berkata "Oh, terima kasih!"
 
Orang itu lalu berkata lagi, "Ini hampir masuk waktu salat, Kamu mau salat bersama-sama?"
 
Hari itu hari Jumat, karenanya masjid penuh dengan jamaah yang akan salat Jumat. Green ikut shalat meski masih bingung dan gerakannya banyak yang salah. Tapi hari itu menjadi hari bersejarah bagi Green, hanya dalam waktu lima menit, ia mendapatkan banyak saudara baru, yang bersedia mengajarinya tentang Islam. Ya, hari itu juga, Green secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat yang menandai kemuslimannya.
 
sumber,
http://www.onislam.net/english/reading-islam/my-journey-to-islam/contemporary-stories/454098-i-could-not-believe-god-died.html (I Couldn't Believe God Died! Why Abdur Raheem Green Embraced Islam)
eramuslim,
 
Bila "ada" yang ingin melihat videonya, silahkan dapat dilihat di sini ;
http://www.youtube.com/watch?v=wF8joJaOVJw (Why Abdul Raheem Green Came to Islam)
 
semoga bermanfaat ..,
----------------------------------------------------
وَما أُمِروا إِلّا لِيَعبُدُوا اللَّهَ مُخلِصينَ لَهُ الدّينَ حُنَفاءَ وَيُقيمُوا الصَّلوٰةَ وَيُؤتُوا الزَّكوٰةَ ۚ وَذٰلِكَ دينُ القَيِّمَةِ
 
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Qs. 98. Al Bayyinah 5)

.
Namanya Anthony Vatswaf Galvin Green, dan mengubah namanya setelah masuk Islam menjadi Abdur Raheem Green. Kelahiran kelahiran Dar Es-Salaam, Tanzania. Sejak kecil ia sering mempertanyakan konsep ajaran sebelumnya yang menurutnya banyak tak masuk akal.

Ibu Green yang asli Polandia merupakan penganut Katolik Roma yang taat, membesarkan Green dan anak-anaknya yang lain dengan didikan ala Katolik. Green bahkan sempat disekolahkan di sebuah keuskupan Katolik Roma di Yorkshire di utara Inggris.

Hal pertama yang mengusik pikirannya tentang ajarannya terdahulu adalah ketika ia mendengar ibunya berdoa dan menyebut "Bunda Maria, ibu dari Tuhan Yesus!". Green merasa aneh dengan doa itu, bagaimana bisa Tuhan punya ibu? Karena Yesus yang ia kenal selama dalam konsep ajarannya terdahulu adalah Tuhan, bukan nabi seperti dalam ajaran Islam.

"Aku duduk dan memikirkan tentang hal ini ibu dari tuhan. Jika Bunda Maria adalah ibu dari Tuhan (Yesus), ia pastilah lebih juga Tuhan yang lebih baik dari Tuhan itu sendiri. Itulah pertanyaan pertama yang muncul di kepala saya," tutur Green mengenang pengalaman masa kecilnya.


Saat masuk sekolah di keuskupan, Green mulai lebih banyak memikirkan banyak hal, mempelajarinya dan melakukan studi dan penelitian terhadap ajaran sebelumnya yang dianutnya. Salah satunya tentang "kewajiban" pengakuan dosa yang ditetapkan oleh para imam di keuskupannya. Green masih ingat, seluruh siswa diwajibkan paling tidak sekali setahun untuk melakukan pengakuan dosa.



Bagi Green, doktrin pengakuan dosa adalah doktrin aneh dan tidak lebih dari konspirasi besar untuk mengendalikan orang lain. "Mengapa? Mengapa saya harus mengakui dosa-dosa saya pada para imam itu? Tidak bisakah saya meminta pada Tuhan saja untuk mengampuni saya? Apalagi menurut Alkitab Yesus berkata, berdoalah pada Tuhan untuk meminta ampunan atas dosa-dosa kita. Jika demikian, mengapa saya harus datang pada seorang pastur untuk meminta pengampunan dosa?" papar Green.


Green merasa ada persoalan besar dengan ini. Saya juga punya masalah nyata dengan doktrin gereja, doktrin inkarnasi dimana 'Tuhan menjelma menjadi manusia.''

Mencari Jawaban

Ketika usia 11 tahun, ayah Green mendapat pekerjaan sebagai Manajer Umum di Bank Barclays di Kairo. Sejak itu, sampai 10 tahun kemudian, Mesir menjadi tempat Green menghabiskan liburan sekolah, karena Green tetap bersekolah di Inggris.

Green selalu menikmati liburannya di Mesir, dan ketika ia kembali ke Inggris, banyak pertanyaan yang menghantui pikirannya. Doktrin kehidupan Barat yang ia kenal selama ini, selalu mengukur kebahagiaan hidup dengan materi. Membandingkannya dengan kehidupan masyarakat Muslim di Mesir, Green jadi bertanya-tanya, mengapa ia harus tinggal di sini (Inggris)? Dan Green mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan: Apa tujuan hidup? Untuk alasan apa manusia ada? Apa arti semua ini? apa artinya cinta? hidup itu untuk apa? ...

Green berfikir dan merenungi semua pertanyaan itu dalam benaknya. 'Bukan!, hidup bukan hanya untuk sekolah, lulus ujian dengan nilai bagus, kuliah, dapat gelar sarjana, kemudian dapat pekerjaan yang bisa memberikannya banyak uang. Lalu menikah, punya anak, mengirim mereka ke sekolah terbaik, agar mereka mendapat pekerjaan dan uang untuk mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah dan seterusnya dan seterusnya....

Dan aku lalu berpikir,". itu sajakah? Itukah tujuan dari hidup ini? Semua ini hanya untuk itu ??..."

Saya berkata pada diriku sendiri : " Tidak mungkin!, saya tidak percaya bila kita ini hidup hanya demi alasan yang seperti itu." tukas Green.

Termotivasi untuk mencari jawaban sesungguhnya. Ia-pun mulai mencari tahu tentang ajaran agama lain, yang ia pikir bisa memberikan pandangan dan pemahaman tentang apa tujuan hidup itu dan apa tujuan hidup sebenarnya...

Sebuah peristiwa penting terjadi. Selama 10 tahun bolak-balik berlibur di Mesir, Green hanya mengenal satu orang yang mau ngobrol dengannya secara terbuka tentang Islam. Suatu hari Green terlibat perbincangan dengan orang itu, dan ia merasa seperti "mendapatkan" tinju pukulan seorang Mike Tyson mendarat di mukanya..

Dalam percakapan selama 40 menit, "Orang itu bertanya kepada saya beberapa pertanyaan sederhana yang "menusuk" dikepala saya sampai hari ini." kata Green.

"Kamu percaya Yesus itu Tuhan?"

Aku menjawab, "Ya."

Lalu orang itu bertanya lagi, "Kamu percaya Yesus mati di kayu salib?"

Aku menjawab, "Ya."

"Jadi kamu percaya Tuhan itu mati," tanya orang itu lagi.

Pertanyaan itu seakan menampar muka Green, dan ia tiba-tiba menyadari bahwa fakta itu sangat bodoh dan irrasional, "Bagaimana Tuhan bisa mati, mana mungkin manusia bisa membunuh Tuhan. Tentu saja saya tidak percaya bahwa Tuhan mati. 'You can't kill God ' Anda tidak dapat membunuh Tuhan." ujarnya.

Dalam usia muda, antara 19-20 tahun, Green menjalani kehidupannya sebagai hippis. "Saya berkata pada diri sendiri, lupakan soal agama, soal spiritualitas, lupakan semuanya. Mungkin hidup itu tidak ada maknanya, tak ada yang lebih penting dalam hidup kecuali menjadi orang kaya," ujar Green.

Persoalannya kala itu, Green tidak punya uang banyak. Ia lalu berpikir untuk mendapatkan uang banyak. Ia berpikir tentang negara-negara yang dianggapnya kaya dan mudah untuk mendapatkan uang, mulai dari Inggris, Amerika yang menjadi negeri impian, Jepang si negara kaya dari hasil kemajuan teknologinya, sampai Arab Saudi yang juga salah satu negara kaya.

Di titik Arab Saudi, Green mulai berpikir tentang apa agama yang dianut orang Arab, apa kitab suci mereka? Green langsung mengingat Al-Quran dan ia pun pergi ke sebuah toko buku untuk membeli Al-Quran yang dilengkap dengan terjemahannya.

"Saya adalah seorang yang bisa membaca dengan cepat. Saya masih ingat dengan jelas, saat itu saya naik kereta, duduk dekat jendela dan membaca terjemahan Al-Quran. Saya memandang ke luar jendela sejenak, lalu membaca lagi. Saya bisa mengatakan inilah momen ketika saya menyadari dan memercayai bahwa Quran berasal dari Allah. Saya berkata pada diri sendiri, "Jika saya pernah membaca buku yang berasal dari Tuhan, Inilah buku itu(Al Quran)..!" tutur Green.

Tak sekedar membaca, Green ingin mencoba apa yang diajarkan dalam Al-Quran. Pulang ke rumah, Green mencoba menunaikan salat meski ia tak tahu caranya. Ia cuma ingat pernah melihat juru masak keluarganya di Mesir menunaikan salat, dan Green mencoba meniru gerakan salat yang pernah dilihatnya itu.

Menjadi Seorang Muslim

Di hari selanjutnya, Green pergi ke sebuah toko buku yang merupakan bagian dari sebuah bangunan masjid. Ia melihat buku-buku tentang Nabi Muhammad dan buku tentang salat yang memang ia sedang mencarinya. Ketika melihat buku-buku itu Green berdecak kagum, "Wow, fantastis !"

Seorang lelaki lalu menyapanya, "Maaf, apakah Anda muslim?"

Saya berpikir, "Apakah aku seorang Muslim?? 'What does he mean by that?' Apa yang dia maksud dengan itu? " fikirnya.

Saya lalu berkata padanya, "Dengar, saya percaya hanya ada satu Tuhan dialah Allah dan saya percaya Muhammad adalah utusan-Nya,"

Lalu orang itu berkata, "Anda adalah seorang Muslim!"

Aku berkata "Oh, terima kasih!"

Orang itu lalu berkata lagi, "Ini hampir masuk waktu salat, Kamu mau salat bersama-sama?"

Hari itu hari Jumat, karenanya masjid penuh dengan jamaah yang akan salat Jumat. Green ikut shalat meski masih bingung dan gerakannya banyak yang salah. Tapi hari itu menjadi hari bersejarah bagi Green, hanya dalam waktu lima menit, ia mendapatkan banyak saudara baru, yang bersedia mengajarinya tentang Islam. Ya, hari itu juga, Green secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat yang menandai kemuslimannya.

sumber,
http://www.onislam.net/english/reading-islam/my-journey-to-islam/contemporary-stories/454098-i-could-not-believe-god-died.html (I Couldn't Believe God Died! Why Abdur Raheem Green Embraced Islam)
eramuslim,

Bila "ada" yang ingin melihat videonya, silahkan dapat dilihat di sini ;
http://www.youtube.com/watch?v=wF8joJaOVJw (Why Abdul Raheem Green Came to Islam)

semoga bermanfaat ..,
----------------------------------------------------
وَما أُمِروا إِلّا لِيَعبُدُوا اللَّهَ مُخلِصينَ لَهُ الدّينَ حُنَفاءَ وَيُقيمُوا الصَّلوٰةَ وَيُؤتُوا الزَّكوٰةَ ۚ وَذٰلِكَ دينُ القَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Qs. 98. Al Bayyinah 5)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar