Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Senin, 11 Februari 2013

Barangsiapa yang Tidak Punya Guru, Maka Gurunya adalah Setan !!!


Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah
( ketua majelis fatwa kerajaan saudi)
pernah mengomentari perkataan tersebut sebagai berikut :

“Adapun perkataan mereka : ‘barangsiapa yang tidak punya guru (syaikh), maka gurunya adalah setan’; maka perkataan ini adalah bathil. Tidak ada asalnya. Bukan pula hadits. Tidak boleh bagimu untuk mengikuti jalan seorang syaikh apabila ia menyelisihi syari’at. Bahkan wajib bagimu untuk mengikuti Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam shalatmu, doamu, dan seluruh keadaanmu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu’ (QS. Al-Ahzaab : 21). Allah subhaanahu wa ta’ala juga berfirman : ‘Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik’ (QS. At-Taubah : 100).

Maka wajib bagimu untuk mengikuti mereka dengan baik, dengan mengikuti syari’at yang dibawa oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam; serta mencontoh mereka dalam hal tersebut. Juga wajib bagimu untuk tidak berbuat bid’ah yang diada-adakan oleh Shuufiyyah dan non-Shuufiyyah. Wallaahul-musta’aan” [selesai].


PENJELASAN :

belajar yang paling baik adalah dengan berguru kepada seseorang (baik ulama, ustadz, atau orang yang berilmu lain). Para ulama dulu bahkan mencela orang-orang yang tidak keluar mencari ilmu dan mendatangi para ulama. Belajar dari guru lebih praktis dan lebih terhindar dari kekeliruan.

Namun jika kemudian dimutlakkan bahwa orang yang tidak punya guru, maka gurunya adalah setan - sebagaimana perkataan ini beredar di kalangan shuufiy - ini juga tidak betul. 
Perkataan ini sebenarnya lebih dilatarbelakangi agar orang memegang dan menyandarkan ilmu pada orang-orang tertentu dan berfanatik kepadanya. 
Bukan dilatarbelakangi oleh dorongan dan anjuran untuk menuntut ilmu. Itulah yang dimaksud oleh Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah di atas.

Anyway,.... menuntut ilmu melalui perantaraan kitab itu tidaklah mutlak mesti keliru out put-nya. Meskipun tetap harus kita katakan, belajar kitab pada ulama/ustadz/ahli ilmu lebih baik daripada belajar secara otodidak. Yang jadi tolok ukur kebenaran tetaplah kesesuaian terhadap kebenaran itu sendiri (yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah 'alaa fahmis-salaf). 

Betapa banyak orang yang berguru namun ternyata malah sesat ?. Apakah kita pikir Bisyr Al-Maarisiy itu tidak punya guru ?. 
Apakah kita pikir Al-Khomeiniy itu tidak punya guru ?. 
Apakah kita pikir Ulil Abshar itu tidak punya guru ?.
Betapa banyak pula orang yang berbangga dengan sanad, namun ilmu dan amal mereka ternyata menyelisihi sunnah ?. 

Hanya mengingatkan, punya silsilah sanad guru itu tidaklah jaminan bahwa ilmu yang didapat itu benar. 
Dalam ilmu sanad, bukankah kita mengenal rantai periwayatan lemah atau bahkan palsu, karena ternyata perawinya ada yang pendusta, dan lemah.

Belajar dari buku, kaset/rekaman, internet, atau sumber-sumber lain itu boleh dan tetap mempunyai keutamaan. Allah akan memahamkan siapapun yang dikehendaki-Nya melalui media apapun. 
Namun hanya menyandarkan ilmu dari media-media tersebut tanpa mendatangi guru, sementara kita mampu adalah kerugian yg sangat besar.

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=3790159292694&set=a.1305309292997.41769.1838485187&type=1&theater

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar