Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Senin, 30 Juli 2012

Hukum-Hukum I’tikaf

Di antara amalan sunnah di dalam bulan ramadhan adalah i’tikaf. I’tikaf adalah berdiam di dalam masjid guna menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Hukumnya adalah sunnah berdasarkan firman Allah Ta’ala:
ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد
“Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kalian) itu, sedang kalian beri’tikaf di dalam masjid-masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Ayat di atas memberikan beberapa hukum:
a.    Disyariatkannya i’tikaf.
b.    Tidak syah i’tikaf kecuali di masjid.
c.    Tidak boleh melakukan jima’ dalam keadaan i’tikaf walaupun di malam hari.
Asal i’tikaf disyariatkan kapan saja, akan tetapi waktu yang paling dianjurkan adalah 10 hari terakhir ramadhan berdasarkan kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri Beliau beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 1886 dan Muslim no. 2004)
Hadits ini juga menunjukkan bolehnya para wanita melakukan i’tikaf dengan syarat mereka jauh dari fitnah.
Dari Shafiyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia bercerita:
أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي الْمَسْجِدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ بَابَ الْمَسْجِدِ عِنْدَ بَابِ أُمِّ سَلَمَةَ مَرَّ رَجُلَانِ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ فَقَالَا سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَبُرَ عَلَيْهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنْ الْإِنْسَانِ مَبْلَغَ الدَّمِ وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا
“Bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masa-masa i’tikaf Beliau di masjid pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dia berbicara sejenak dengan Beliau lalu dia berdiri untuk pulang. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun berdiri untuk mengantarnya hingga ketika sampai di pintu masjid yang berhadapan dengan pintu rumah Ummu Salamah, ada dua orang dari kaum Anshar yang lewat lalu keduanya memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada keduanya: “Kalian berdua jangan tergesa-gesa. Sungguh wanita ini adalah Shafiyah binti Huyay”. Maka keduanya berkata: “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”. Kejadian ini menjadikan berat bagi keduanya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Sesungguhnya setan mendatangi manusia lewat aliran darah dan aku khawatir setan telah memasukkan sesuatu pada hati kalian berdua.” (HR. Al-Bukhari no. 1894)
Hadits ini juga menunjukkan boleh wanita mengunjungi mahramnya yang tengah i’tikaf, dan bahwa hal itu tidak mengurangi nilai i’tikaf seseorang.
Dan telah shahih dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)
I’tikaf syah dilakukan di semua masjid berdasarkan keumuman ayat di atas. Hanya saja i’tikaf yang paling utama adalah yang dilakukan di salah satu dari 3 masjid suci kaum muslimin, sebagaimana shalat yang paling utama adalah shalat yang dilakukan pada salah satu dari ketiganya.
Dan siapa saja yang ingin i’tikaf di 10 hari terakhir maka hendaknya dia masuk ke tempat i’tikafnya sebelum matahari terbenam pada tanggal 21 ramadhan dan dia keluar darinya setelah terbenamnya matahari di malam id.
I’tikaf batal dengan keluar dari masjid tanpa udzur. Dan di antara bentuk udzur adalah untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (seperti makan, minum, mandi, buang air, dan semacamnya) jika memang semua itu tidak bisa dilakukan di masjid. Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila beri’tikaf, maka dia mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisirnya (dari luar masjid), dan beliau tidak masuk rumah kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.” (HR. Muslim no. 445)
Hadits ini juga menunjukkan bolehnya orang yang i’tikaf mengeluarkan sebagian anggota tubuhnya dari masjid dan itu tidak membatalkan i’tikafnya.
I’tikaf juga batal jika seseorang membatalkan niatnya untuk i’tikaf berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap amalan itu syah atau tidaknya tergantung dengan niat-niatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 3530)
Dan juga batal dengan seseorang melakukan jima’ berdasarkan ayat dalam surah Al-Baqarah di atas.
Boleh bagi orang yang i’tikaf untuk menanyakan keadaan orang yang sakit -sambil dia berlalu- tanpa dia harus berhenti di dekatnya. Hal ini berdasarkan ucapan Aisyah radhiallahu anha:
إِنْ كُنْتُ لَأَدْخُلُ الْبَيْتَ لِلْحَاجَةِ وَالْمَرِيضُ فِيهِ فَمَا أَسْأَلُ عَنْهُ إِلَّا وَأَنَا مَارَّةٌ
“Sungguh, aku masuk rumah untuk suatu keperluan sementara di dalam ada orang yang sedang sakit, dan aku tidak bertanya tentangnya kecuali sambil lewat saja.” (HR. Muslim no. 446)
Disunnahkan untuk menjalankan i’tikaf dengan sungguh-sungguh sesuai dengan asal pensyariatannya yaitu berdiam di masjid untuk ibadah. Karenanya hendaklah orang yang beri’tikaf menyibukkan dirinya dengan ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur`an, dzikir dan selainnya, serta menjauhkan dirinya dari semua urusan duniawiah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar