Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Selasa, 23 Agustus 2011

KRISTOLOGI, SENJATA DAKWAH YANG TERLUPAKAN


Pemurtadan dengan cara-cara Islam marak dilakukan propagandis Kristen. Al Quran dan Hadist dijadikan senjata. Perlu memahami Kristologi agar tidak tertipu.

Siang itu bus kota jurusan Blok M-Pulo Gadung agak lengang. Hanya dua-tiga orang yang berdiri. Halte Sunan Giri, Rawamangun baru saja dilalui. Dua pemuda yang baru saja naik tampak berdiri di samping sopir, menghadap seluruh penumpang. Dengan lantang, seorang yang bertopi hitam berkata, “Selamat siang, Assalamualaikum dan salam sejahtera para penumpang bus ko-ta. Hidup ini makin sulit. Kian susah dari hari ke hari. Kita semua memerlukan penghiburan sejati. Penghiburan yang benar. Kami membawakan untuk Anda satu penghiburan. Semoga ini bisa menuntun Anda semua ke jalan yang lurus menuju surga. Amin”


Seorang lagi tampak merogoh tas yang disandangnya. Segepok brosur full colour dibagikan pada semua penumpang. Bambang, sebut saja demikian, aktifis masjid daerah Rawamangun juga kebagian. Dilihatnya brosur yang ada di tangannya dengan seksama. Rahasia Jalan Ke Surga, demikian judul cetakan itu. Ayat-ayat kitab suci Al Qur’an bertebaran di sana-sini. Ada juga cuplikan Hadist Shahih Bukhari dan Muslim. Sepintas brosur yang diterbitkan Dakwah Ukhuwah (P.O.Box 1272/JAT Jakarta 13012) mirip lembaran dakwah yang lazim dikenal kalangan muslim. Namun yang satu ini isinya melulu mengkultuskan Isa Almasih sebagai Yang Maha Tinggi.


Sebagai remaja masjid yang sedikit banyak tahu soal akidah Islam, Bambang merasa aneh dengan brosur itu. Ia menyimpan brosur dajal itu. Selang beberapa hari, ia menyerahkan brosur tersebut pada seorang ustadz, yang kebetulan pernah meneri-ma brosur serupa. Sang Ustadz memberitahu Bambang bahwa brosur yang terkesan Islami itu ternyata berasal dari sebuah yayasan Kristen. “Lihat saja alamat P.O. Box-nya, sama dengan P.O. Box Christian Centre ‘Nehemia’ Jakarta,” ujar sang Ustadz.

Peristiwa lainnya dialami seorang da’i saat mengisi pengajian di sebuah hotel berbintang di utara Jakarta. Usai acara, seorang jama’ah menghampirinya. Tangannya memegang brosur yang sama. “Ini dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) ya Us-tadz?” tanyanya. Sang Ustadz yang juga kristolog beristighfar. “Ini provokasi misi Kristen. Banyak sudah orang Islam yang terti-pu oleh selebaran macam beginian, malah ada panitia pembangunan masjid di Padang minta bantuan pada Yayasan Dakwah Ukhuwah ini. Astagfirullah!” ujar sang Ustadz.

Kasus terbaru, tengah menimpa anak salah seorang Ketua Masjid di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Seorang muslimah yang Sarjana Hukum dan pernah menjabat sebagai Manajer Personalia sebuah bank swasta akhirnya melakukan perkawinan di gereja. “Dia diinjili melalui Al-Qur’an,” ujar Abu Deedad Shihabudin, Kristolog yang juga Sekretaris FAKTA Orang tua sang Muslimah menerangkan, anaknya menjadi ragu pada Islam setelah bertemu dengan seorang aktivis Kristen.

“Si aktivis Kristen itu menggunakan QS. Al-Baqarah ayat 62 dan QS. Al-Maidah ayat 68. Dan menurut orangtuanya, keraguan anaknya tersebut bertambah setelah mendengar ceramahnya Alwi Shihab di sebuah stasiun teve swasta yang mengatakan bahwa Yahudi dan Kristen itu akan masuk surga. Itu disebutnya sebagai penjelasan dari surat Al-Baqarah ayat 62. Itu kebohongan besar!” tandas Abu Deedad.

Pada sang Muslimah, penginjil tersebut mengatakan, terjemahan Al-Qur’an dari Departemen Agama itu tidak jujur, ada banyak tambahan. Dalam teks surat al-Maidah ayat 68 tidak ada kata ‘Al-Qur’an’ tapi kenapa dalam terjemahannya ada? Bahasa Arabnya tertulis, “Tidak dipandang beriman sedikitpun kecuali beriman kepada Taurat dan Injil” dan kata Al-Qur’an itu dikata-kannya tambahan. “Padahal, yang jelas dikatakan di situ, walau tidak secara lugas ditulis Al-Qur’an, tapi apa-apa yang diturun-kan kepadamu, maksudnya Nabi Muhammad, yaitu Qur’an. Hal-hal seperti itulah yang dijadikan senjata pemurtadan,” tutur Kristol-og yang juga Ketua Lembaga Dakwah Yayasan Bina Imtaq di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Abu Deedad menambahkan, “Saya sudah ketemu anak itu. Saya beri penjelasan. Kita akan coba untuk mengembalikan dia kepada Al-Islam.”

Di Bekasi, kasusnya lebih kasar lagi. Seorang Muslimah menikah dengan pria Kristen yang pura-pura masuk Islam. Pada malam pengantin, dengan diam-diam, dua kawan suaminya memotret sang Muslimah yang (maaf) dalam keadaan tanpa busana. Beberapa hari kemudian, si suami memperlihatkan foto tersebut kepada istrinya sembari mengancam agar sang istri mau masuk Kristen. Jika tidak mau, foto tersebut akan disebarluaskan. Dengan amat sangat terpaksa, akhirnya Muslimah itu tunduk pada ancaman sang sua-minya.

Kasus hampir serupa juga terjadi di Bekasi, Jakarta, Purwokerto, Sukabumi, Padang, dan lainnya. “Di Bintara Tiga, ada seorang Muslimah yang sedang kita tangani. Seorang anak Aliyah, pakai jilbab, sedang dipacari oleh pemuda Kristen, dan belakangan sudah dibawa-bawa ke gereja. Kalau kita menuding mereka, ini adalah sebuah program, mereka tak kan menga-ku. Tapi di lapangan, kenyataannya banyak sekali kita mendapati hal itu,” tutur Abu Deedad.

Kristolog yang sering berdebat dengan para pendeta ini juga menuturkan kejadian saat ia dan kawan-kawannya menguji Pdt. Muhammad Nurdin, yang kerap mengutip ayat Qur’an dalam buku-buku provokasinya. “Di bukunya, Pdt. Nurdin pernah menyatakan bahwa mahar pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah itu Alkitab. Dia bilang, ada ayat Qur’an yang mendukung pernyataannya. ingin tahu, ayat mana itu, kita undang dia,” ujar Abu Deedad.

Datanglah Pdt. Muhammad Nurdin, yang konon mengaku masih keturunan Kerajaan Islam Demak, ke Jalan Tenggiri Rawamangun. Bertemulah ‘Pangeran Demak’ itu dengan pimpinan Sekolah Tinggi Islam dan Dakwah ‘Al Ghuraba’ (STIDA). “Mana ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa mahar pernikahan Nabi Muhammad SAW yang diberikan kepada Khadijah itu adalah Alkitab. Bisa bacakan pada kami?” tanya Ust. Ramli Naway disaksikan Ust. Abuja-min Roham.

Ketika diberikan Al Qur’an kepada si pendeta, “Oh, bukan yang ini. Al Qur’an yang lain,” kilah Nurdin. Rupanya yang dimak-sud olehnya adalah Al Qur’an terjemahan. Qur’an terjemahan pun diberikan. Nurdin sibuk membolak-balik Al Qur’an itu. Fantastis, ternyata Nurdin tidak bisa baca huruf Arab. Akhirnya ia pun mengaku, pendapatnya tentang mahar itu hanya berasal dari logikanya semata. Menurut sejarah yang dibacanya, bukankah Khadi-jah anak kemenakan Waraqah bin Naufal? Dan, dalam anggapan Pdt. Nurdin yang bingung itu, tentunya Muhammad SAW menikahi istri pertamanya, bermaharkan Alkitab. “Saya baru belajar bahasa Arab,” aku Nurdin dengan muka merah.

Menanggapi kasus di atas, Abu Deedad mengatakan, “Sebenarnya, kasus-kasus di atas tidak perlu terjadi jika kita paham kristolo-gi.” Namun, bagaimana respon umat Islam sendiri terhadap ilmu tersebut?

“Tanggapan tokoh-tokoh umat terhadap kristologi masih minim sekali. Saya seperti orang ngamen, ke sana-sini menjajakan kristologi,” keluh Kodiran Salim, Kristolog yang tergabung dalam FAKTA dan juga mendirikan Yayasan Ulil Albab di Jakarta. “,Kita sudah memberi peringatan pada tokoh-tokoh umat, serangan ini sangat berbahaya. Tapi sayangnya, mereka seakan tidak peduli,” ujar KH. Abdullah Wasi’an, kristolog kawakan yang kini tinggal di Jawa Timur.

Lebih lanjut Abdullah Wasi’an men-gungkapkan, banyak orang menganggap para kristolog adalah orang-orang yang suka mengada-ada. Tak hanya itu, banyak di antara kita yang menganggap masalah ini belum membahayakan umat. “Kalau sudah nyata-nyata diserang, barulah terbuka mata kita” keluh Abdullah Wasi’an.

Ketidakpedulian sebagian besar tokoh umat memang menimbulkan kekhawatiran. Betapa tidak? Di kalangan Kristen, pengkajian Islamologi dilakukan amat intensif. Di STT Apostolos, Jakarta, milik murtadin Pdt. Jusuf Roni, Islamologi diajarkan hingga 20 SKS, luar biasa! Dibanding dengan IAIN dalam mata kuliah perban-dingan agama, Kristologi hanya diajarkan 2 SKS saja! “Itu pun mandul,” ujar salah seorang alumnus IAIN yang enggan disebut namanya.

Namun sejalan dengan perkembangan dakwah, perhatian umat Islam terhadap perlunya mengkaji Kristologi agaknya mengalami perkembangan yang cukup elegakan. “Perkembangan terakhir sudah menunjukkan perubahan,” ungkap Abu Deedad. Ia menambahkan, banyak kalangan dan kelompok masyarakat yang mengadakan pengkajian pada Kristologi, terutama dai-dai muda. “Belajar Kris-tologi adalah bagian dari upaya menuju Islam yang kaffah. Menga-pa? Sebab dalam Islam ada yang namanya rukun iman: iman kepada Kitab-Kitab Allah dan kepada Nabi-Nabi Allah. Sampai dimana batasan iman kepada Kitab-Kitab Allah, itu artinya kita harus mengimani Kitab-Kitab sebelum Al Qur’an,” ujarnya.

Abu Deedad menambahkan, “Rasulullah memberi pedoman bagi kita. Terhadap kitab-kitab sebelum Al Qur’an, jangan engkau salahkan seluruhnya dan jangan pula engkau benarkan seluruhnya. Jadikanlah Al Qur’an sebagai barometer terhadap Kitab-Kitab sebelumnya. Jika ada ayat di dalam Kitab-Kitab terdahulu sesuai dengan isi Al Qur’an, maka itu benar. Sedang jika ada isi Kitab-Kitab terdahulu bertentangan dengan isi Qur’an, maka Qur’an lah yang benar.”

Mempelajari kristologi adalah bagian dari usaha mengkaji Islam secara keseluruhan. Kristologi merupakan senjata dakwah yang amat tajam dalam menghadapi provokator-provokator iman. “Kita sebaiknya memahami kristologi,”
pesan KH. Abdullah Wasi’an

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar