Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Selasa, 17 Juli 2012

Habaib dan Situs Keramat

Habaib dan Situs Keramat
(Fitnah Agama)
Ada peristiwa yang mengandung pelajaran sangat berharga. Di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ada orang-orang kafir yang punya kebiasaan menggantungkan senjata di pohon bidara yang dikeramatkan, dan mereka beri’tikaf (duduk beribadah) di sekelilingnya dengan meyakini pohon keramat itu bertuah hingga senjata yang digantungkan padanya bisa ampuh untuk menyerang atau menghadapi musuh dan sebagainya. Pohon yang dikeramatkan itu disebut dzatu anwath (yang memiliki gantungan).
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam perjalanan ke Hunain, ada sahabat yang baru saja lepas dari kekafiran (baru saja masuk Islam) minta kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibuatkan pohon sesembahan seperti pohon keramatnya orang kafir yang dia lihat ketika sedang lewat itu, maka ditolak tegas oleh beliau.
Penolakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat itu telah tegas dan jelas, namun di zaman kita sekarang ini kita lihat di antara orang-orang yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (bahkan mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) ada yang jadi pelopor membuat kuburan sebagai tempat yang dikeramatkan, sebagaimana orang kafir membuat pohon dzatu anwath yang dikeramatkan.

Betapa bahayanya bagi aqidah / keyakinan Ummat Islam! Karena kelakuan itu menirukan orang kafir yang jelas-jelas menjadikan sesembahan selain Allah berupa tempat keramat.
Peristiwa orang kafir punya pohon keramat itu ada dalam hadits berikut ini:
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ
خَرَجَنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِبَلَ حُنَيْنٍ فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا هَذِهِ ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لِلْكُفَّارِ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ الْكُفَّارُ يَنُوطُونَ بِسِلَاحِهِمْ بِسِدْرَةٍ وَيَعْكُفُونَ حَوْلَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى
{ اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً } إِنَّكُمْ تَرْكَبُونَ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ (أخرجه أحمد تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين ؛ والترمذي قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ)
Dari Abu Waqid Al Laitsi, ia berkata: Kami pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke arah Hunain (dalam riwayat lain: sedang kami dalam keadaan baru saja lepas dari kekafiran –masuk Islam–), lalu kami melintasi sebuah pohon bidara lalu saya berkata: ‘Wahai Nabi Allah! buatkan kami Dzatu Anwath seperti orang-orang kafir juga punya Dzatu Anwath. Orang-orang kafir biasa menggantungkan senjata mereka di pohon bidara dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Allahu Akbar! Ini seperti yang dikatakan Bani Isra`il kepada Musa: Buatkan kami Tuhan seperti tuhan-tuhan milik mereka. Kalian benar-benar melakukan perilaku-perilaku orang-orang sebelum kalian.” (HR Ahmad – 20895 komentar Syu’aib Al-Arnauth: sanadnya shahih atas syarat syaikhoni. Dan riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadis ini hasan shahih).
Dalam hadits ini, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan perkataan sahabatnya itu dengan perkataan Bani Israel dengan kesamaan sifat bahwa masing-masing dari kedua perkataan itu adalah meminta supaya dibuatkan sesuatu yang dipuja dan disembah selain Allah. (Lihat Fathul Majid oleh Syaikh Abdul Rahman bin Hasan Alu As-Syaikh, bab orang yang mencari berkah kepada pohon atau batu dan semacamnya).
***
ADA sebuah fakta yang tidak bisa dielakkan, yaitu tentang keberadaan sosok habaib yang lekat dengan apa yang disebut situs keramat, misalnya makam atau kuburan keramat. Di Jakarta saja ada sejumlah makam keramat yang keberadaannya tidak lepas dari sosok bergelar habib (tunggal) atau habaib (jamak).
Keberadaan makam keramat ini, yang menjadi menarik perhatian bagi para penjaga kemurnian akidah adalah pengkeramatan yang dikaitkan dengan peristiwa mistis dan ajaib bernuansa kemusyrikan. Peristiwa mistis dan ajaib yang tidak masuk akal tersebut, selain terkait pada sosok habib (habaib) juga terkait dengan keberadaan makam keramat itu sendiri.
Citra habaib bagi sebagian kalangan yang kritis dan mempunyai semangat menjaga kemurnian akidah dan kemuliaan akhlaq, terkesan tidak terlalu bagus. Selama ini sebagian habaib selain dikesankan sebagai misionaris paham sesat syi’ah (yang merupakan induk kesesatan), juga diduga ada yang sebagai koordinator tindakan anarkis, dan diduga ada yang menjadi lokomotif pembodohan melalui cerita-cerita mistis di seputar situs keramat yang bernuansa kemusyrikan alias dosa paling besar.
Beberapa makam keramat yang cukup terkenal di Jakarta, berada di kawasan Jakarta Utara. Misalnyamakam keramat Kampung Bandan yang terdiri dari makam tiga habib yaitu habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi, habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi, habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri. Ketiganya berada di areal Masjid Jami’ Al Mukaromah di Kampung Bandan, Jakarta Utara. Juga ada makam keramat Luar Batang yang lekat dengan sosok habib bernama Husein bin Abi Bakar Al Idrus. Satu lagi, makam keramat yang akhir-akhir ini menjadi terkenal pasca Kerusuhan Priok 14 April 2010 yaitu makam keramat Mbah Priok yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Hasan Al Haddad.
Makam Keramat Kampung Bandan
Makam keramat Kampung Bandan ini menjadi bagian dari areal Masjid Jami’ Al Mukaromah yang menempati areal seluas 700 meter persegi. Areal ini terletak di tepi jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Di tempat ini terdapat tiga makam keramat, yaitu makam habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi, habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi, dan habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri (meninggal pada 18 Muharram 1326 H).
Dari ketiga habib tadi, konon yang menjadi pendiri cikal bakal Masjid Jami’ Al Mukaromah adalah habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri. Ia mendirikan tempat ibadah tersebut pada tahun 1789 masehi, masih berupa surau tanpa nama. Dorongan mendirikan surau konon karena habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri mendapat pencerahan dari Allah untuk merawat dua makam wali penyebar agama Islam di Jawa yang berada di daerah tersebut, yaitu makam habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (meninggal dunia pada 23 Muharram 1118 H), dan habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi (meninggal pada 15 Ramadhan 1122 H).
Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri mendirikan surau ketika itu selain untuk digunakan tempat shalat juga dijadikan semacam tempat persinggahan dan berteduh bagi para peziarah kubur yang konon kian hari kian banyak berdatangan. Surau itu dibangun di samping makam kedua habib tadi.
Pada tanggal 15 Ramadhan 1122 H, habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri meninggal dunia. Maka kepengurusan surau dilanjutkan oleh anak keturunannya, hingga jatuh ke tangan habib Alwi Asy-Sathri. Jenazah habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri dikuburkan di samping kedua makam sebelumnya hingga kini.
Barulah pada tahun 1947 surau tersebut dibangun menjadi bangunan masjid dengan 12 tiang penopang oleh Habib Alwi Asy Syathri, salah seorang anak keturunan habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri. Dan sejak itulah tempat ibadah ini menyandang nama resmi Masjid Jami’ Al Mukaromah.
Sebagaimana layaknya situs keramat, dari areal masjid dan makam para habib tadi muncul cerita tentang keajaiban-keajaiban yang mengusik akal sehat. Misalnya, di tahun 1994, ketika itu pemerintah berencana membangun jalan layang (jalan tol) yang tak jauh dari kawasan situs keramat Kampung Bandan. Rencana semula, sebagian halaman masjid akan terkena penggusuran, dan bila kelak jalan layang itu selesai dibangun, maka posisi masjid akan berada di bawah jalan layang. Namun, sebuah keajaiban terjadi: ketika tiang penyangga bakal jalan layang tersebut didirikan, justru patah dan ambruk. Setelah kejadian itu, konon pengerjaan tiang penyangga dilakukan secara manual, namun tetap saja tidak bisa berdiri kokoh.
Masih ada cerita keajaiban lainnya, yaitu ketika para pekerja tidak menghiraukan imbauan pengurus masjid untuk tidak beraktivitas pada hari Jum’at, tiba-tiba semua beton dan tiang penyangga yang sedang dikerjakan hancur sehingga menewaskan banyak pekerja. Setelah kejadian itu, barulah pimpian proyek jalan layang itu bersilaturahim ke Masjid. Mereka selama ini mengaku tidak tahu keberadaan masjid yang dikeramatkan sejumlah orang. Konon, akhirnya disepakati untuk menggeser lokasi jalan tol ke sebelah selatan, sehingga lokasi makam dan masjid keramat tetap pada tempatnya.
Cerita pembodohan seperti ini nampaknya mujarab dalam meyakinkan orang-orang jahil (bodoh) untuk mempercayai kehebatan yang dimiliki sang habib.
Makam Keramat Luar Batang
Luar Batang adalah nama sebuah perkampungan (kini menjadi nama jalan) yang terletak di kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Di sini konon terletak sebuah makam sesosok anak manusia yang dipercaya sebagai wali Allah, bernama habib Husein Abubakar Alaydrus. Lebih sering disebut sebagai Habib Keramat Luar Batang.
Sosok habib Husein Abubakar Alaydrus ini kelahiran Migrab, Hadramaut, tiba di Betawi sekitar tahun 1746 M dan meninggal dunia pada tanggal 24 Juni 1756 M (bertepatan dengan 17 Ramadhan 1169 Hijriyah), di kawasan yang kemudian bernama Luar Batang. Ia meninggal pada usia 35 tahun.
Ada berbagai versi berkenaan dengan asal-usul nama luar batang. Salah satu di antaranya adalah: “…saat habib Husein meninggal, jenazahnya berubah menjadi batang pisang saat ditandu. Perubahan ini diketahui orang-orang yang hendak memasukkan jenazah ke liang lahat. Warga tetap mengubur batang pisang itu dan menganggapnya sebagai jenazah habib Husein Abubakar Alaydrus…” (Koran Tempo25 April 2010)
Sedangkan versi lain, menurut penuturan para pemuja habib Husein Abubakar Alaydrus, konon sewaktu habib Husein masih hidup, ia pernah berkata kepada seorang opsir Belanda: “Suatu saat kamu akan jadi orang besar.” Namun, opsir Belanda itu sama sekali tidak mengindahkan kata-kata habib Husein, sampai kemudian ia kembali ke negeri asalnya.
Barulah ketika sang opsir Belanda itu kembali ditugaskan ke Hindia Belanda dengan jabatan tinggi, ia teringat ‘ramalan’ sang habib tempo hari. Dari situlah konon sang opsir Belanda itu tergerak hatinya untuk memberikan sejumlah hadiah berupa uang, emas dan sebagainya. Namun habib Husein tidak bersedia menerimanya.
Namun, akhirnya terjadi kesepakatan, bahwa habib Husein mau menerima hadiah dari opsir Belanda bila itu berupa kepemilikan areal (yang kemudian menjadi situs keramat). Areal ini pada masa itu merupakan kawasan terendam air bila laut pasang. Setelah kesepakatan dicapai antara habib Husein dengan sang opsir Belanda, maka dibuatlah sejumlah patok dari batang kayu sebagai tanda dan batas wilayah kepemilikan untuk sang habib. Dari sinilah kawasan itu dinamakan luar batang. Karena, seolah-olah dari laut keluar sejumlah batang (pohon).
Menurut penuturan para pengagumnya, habib Husein ini pernah bersikap tidak patuh kepada Belanda sehingga ia harus ditangkap dan dijebloskan ke penjara Glodok. Konon, habib Husein hanya terlihat berada di dalam sel tahanan pada siang hari saja, sedangkan pada malam hari sang habib seperti menghilang tanpa jejak. Keadaan yang bernuansa mistis ini membuat sipir penjara menjadi ketakutan, sehingga sang habib pun disuruh pulang. Namun habib Husein tidak menghiraukan, sampai akhirnya ia sendiri yang memutuskan keluar dari sel tahanan Glodok.
Kehebatan habib Husein juga dapat dirasakan melalui penuturan berikut ini: “… pada suatu waktu, ada seorang warga pergi ke pasar untuk membeli daging (mentah). Ketika menuju rumah, ia mendengar kabar bahwa habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus meningal dunia. Maka ia pun bergegas menuju masjid untuk ikut bersama-sama sejumlah orang melaksanakan shalat jenazah.
Tak hanya ikut melaksanakan shalat jenazah, ia juga ikut hingga ke pemakaman. Usai itu, ia pun kembali ke rumahnya dan menyerahkan daging mentah yang dibelinya di pasar untuk dimasak oleh istrinya di rumah. Namun, hingga beberapa saat daging itu tidak juga matang dan masih terlihat seperti daging segar.
Peristiwa ganjil itu membuat ia menjadi teringat sebuah pesan yang diterimanya ketika ia mengikuti majlis ta’lim yang dipimpin habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus. Konon, pada suatu ketika habib Husein bin Abi Bakar Al Idrus dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan, “… barangsiapa yang menshalati aku sewaktu aku meninggal dunia nanti, maka dia tidak akan bisa tersentuh oleh api neraka.”
Jadi, daging mentah itu tak kunjung matang meski sudah digodok beberapa lama, karena daging mentah yang dibeli di pasar tadi ikut terbawa ketika ia melaksanakan shalat jenazah hingga ke pemakaman. Cerita pembodohan seperti ini nampaknya mujarab dalam meyakinkan orang-orang jahil (bodoh) untuk mempercayai kehebatan yang dimiliki sang habib, sampai-sampai meski hanya sepotong daging, karena ikut terbawa (tanpa sengaja) dalam shalat jenazah dan pemakaman sang habib sehingga daging itu kebal api dan kebal panas.
Cerita kehebatan seperti di atas jelas mengusik akidah. Karena, keputusan masuk neraka atau tidak hanya berada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang habib, meski ia punya garis keturunan langsung dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun, sama sekali tidak punya kewenangan membebaskan umat manusia dari ancaman api neraka. Yang memprihatinkan, banyak orang yang percaya akan hal itu. Sehingga, makam habib Husein tidak pernah sepi selama 24 jamdikunjungi para peziarah yang selalu membaca Al Qur’an atau sekedar berzikir.
Peziarah yang mendatangi makam habib Husein berasal dari berbagai daerah di tanah air bahkan dari mancanegara. Saat-saat favorit berziarah biasanya jatuh pada hari Kamis malam Jum’at kliwon atau pada saat perayaan tertentu seperti maulid nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang selalu diadakan setiap akhir minggu di bulan Rabiul Awwal, serta pada saat haul habib husein yang diadakan setiap akhir minggu di bulan Syawwal. Itu semua sama sekali tidak ada tuntunannya. Tidak hanya tergolong bid’ah tetapi juga sesat menyesatkan, karena diliputi keyakinan batil berlandaskan cerita pembodohan seperti tersebut.
Menurut Zainuddin (petugas penjaga makam), makam ini menjadi langganan pejabat, antara lain Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Presiden RI. Hingga kini, SBY masih rutin berziarah ke makam ini. Biasanya, kata Zainuddin, SBY datang pada pukul 02 pagi. Selain SBY, menurut Zainuddin, hal serupa juga dilakukan oleh Fauzi Bowo, Gubernur Pemprov DKI Jakarta (Koran Tempo25 April 2010).
Selain pejabat, menurut Zainuddin para artis seperti Tarzan Srimulat, Ayu Azhari, Camelia Malik, dan beberapa nama artis lainnya termasuk peziarah tetap makam ini.
Seandainya berziarahnya para artis (perempuan) itu tanpa ada niat-niat dan keyakinan batil –misalnya niat minta berkah karena berkeyakinan bahwa kuburan dan isinya berupa mayat itu memberi berkah dan manfaat— pun telah dilaknat. karena dalam hadits telah ditegaskan:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (وَفِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ) زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam (dalam sebuah lafadz Allah melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur”.(Sunan Al-Baihaqy 4/6996, Sunan Ibnu Majah no.1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655).
Dalam hal artis jadi peziarah tetap kuburan ini, Zainuddin petugas kuburan itu mengatakan, kedatangan mereka juga saat tengah malam. Selain berdzikir, para artis ini juga memberikan sedekah yang jumlahnya cukup untuk digunakan merawat dan membangun kompleks pemakaman serta masjid yang menaunginya.
Pada bulan Ramadhan 2007 lalu, SBY dan isteri beserta rombongan pernah mengadakan acara buka puasa di makam keramat bernuansa kemusyrikan ini, sebagaimaan diberitakan detik.com edisi 21 September 2007Selengkapnya sebagai berikut:
SBY Buka Puasa di Makam Keramat Luar Batang
Luhur Hertanto – detikcom Jakarta – Bulan puasa betul-betul dimanfaatkan oleh Presiden SBY menyapa rakyatnya. Kali ini SBY beserta ibu Ani Yudhoyono berbuka puasa bersama ribuan warga Penjaringan, Jakarta Utara.
SBY datang pukul 17.15 WIB, Jumat (21/9/2007) dengan mengenakan baju batik. Terlihat sejumlah menteri mendampingi SBY, antara lain Menag Maftuh Basyuni, Mensos Bachtiar Chamsyah, dan Seskab Sudi Silalahi.
Acara dipusatkan di Masjid Jami’ Makam Keramat Luar Batang, tempat makam penyebar Islam pertama di Jakarta Habib Husain Abu Bakar. Makam ini sudah berusia tua, karena Habib Husain Abu Bakar meninggal 24 Juni 1756.
SBY akan memberikan pidato sambutan dalam acara ini, setelah Dirjen Bimas Islam Prof Nasarudin Umar menyampaikan kultum.
Masyarakat Penjaringan terlihat antusias menyambut kedatangan SBY dan Ibu Ani Yudhoyono. Bahkan banyak warga yang tidak dapat tempat duduk, mereka rela menggelar koran untuk mengikuti acara ini. (yid/sss)
Kalau benar versi Koran Tempo di atas bahwa sesuatu yang dimasukkan ke liang lahat adalah batang pisang namun tetap dianggap sebagai jenazah habib Husein, maka betapa mirisnya peristiwa di atas. Sejumlah orang berpangkat dan berpendidikan tinggi telah beribadah (shalat dan berbuka puasa) di sebuah areal yang disebut-sebut keramat bernuansa mistis dan kemusyrikan, padahal di sana hanya bersemayam ‘jasad’ batang pisang.
Ya Allah, tunjukilah kami dan mereka jalan yang benar, atau laknatlah mereka bila secara sengaja menghidup-hidupkan kemusyrikan padahal mereka tahu (atau dapat mencari tahu) bahwa di tempat itu hanya ada batang pisang yang dikubur layaknya manusia. Bahkan seandainya yang dikubur di sana itu orang paling agung pun tetap tidak boleh dikeramatkan, karena mengkeramatkannya berarti menganggapnya sebagai hal yang bertuah, memiliki daya gaib yang memberi manfaat dan madharat, atau dianggap memberi pertolongan di sisi Allah. Sedangkan hal itu hanya hak Allah Ta’ala.
Perlu diingat, Allah Ta’ala telah mensifati para penyembah berhala, mereka itu mengatakan berhala-berhala itu pemberi syafaat kepada mereka di sisi Allah.
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ [يونس/18]
Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa`atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu). (QS Yunus: 18).
Makam Keramat Mbah Priok
Sebagaimana layaknya sebuah makam yang dikeramatkan, biasanya dibarengi dengan cerita-cerita tidak masuk akal (baca: membodohi), seputar sosok habib dan makamnya. Salah satu versi cerita pembodohan seputar habib Hasan Al Haddad alias Mbah Priok ini antara lain:
“… pada suatu hari ketika tentara Belanda sedang gencar-gencarnya melakukan penyerangan di laut, menyebabkan habib Hasan Al Haddad tidak makan sampai 10 hari lamanya. Sampai akhirnya, habib Hasan Al Haddad menutup periuk nasi dengan jubahnya, maka terjadilah keajaiban, yaitu ketika jubahnya dibuka kembali periuk yang semula kosong ternyata sudah berisi nasi. Kemudian nasi itu pun dimakan oleh habib Hasan Al Haddad bersama teman-teman seperjalanannya.”
Cerita di atas tentu saja tidak bersumber dari si empunya cerita (habib Hasan Al Haddad), tetapi boleh jadi dituturkan oleh pihak ketiga. Karena, tidak berapa lama setelah mendarat di tanah Jawa (dari Palembang Sumatera), habib Hasan Al Haddad meninggal dunia.
Lain lagi dengan materi cerita pembodohan di bawah ini yang mengungkapkan tentang kedatangan habib Hasan Al Haddad di tanah Jawa dalam bentuk sudah menjadi jasad, dan dibumbui dengan sejumlah keajaiban untuk mendukung skenario pengkultusan terhadap jasad habib Hasan Al Haddad, yaitu:
“… ketika masih dalam pelayaran, habib Hasan Al Haddad diterjang ombak besar. Teman seperjalanannya selamat namun tidak sempat menolong habib Hasan Al Haddad. Lagi-lagi sebuah keajaiban terjadi, ikan lumba-lumba mengerumuni jasad habib Hasan Al Haddad dan membawanya ke daratan. Kejadian tersebut membuat masyarakat di sekitar pantai menjadi kaget dan takjub. Maka masyarakat pun segera mengebumikan habib Hasan Al Haddad. Pada posisi kepala makam habib Hasan Al Haddad ditancapkan dayung yang dipakai mendayung perahu. Belakangan di makam habib Hasan Al Haddad dibangun sebuah pondok, sehingga kemudian hari kawasan itu dinamakan pondok dayung. Selain itu, pada posisi kaki makam tumbuh pohon tanjung, sedangkan di samping makam diletakkan periuk nasi. Konon, setiap tahun posisi periuk nasi itu bergeser hingga ke lautan, sampai suatu saat ada orang yang melihat periuk sebesar rumah muncul dari lautan. Maka dari situlah daerah itu dinamakan Tanjung Periuk…”
Versi di atas hanyalah salah satu saja versi cerita pembodohan yang eksis di sejumlah kalangan. Adaversi lain, misalnya nama Tanjung Priok diambil dari dayung sampan yang dijadikan semacam batu nisan bagi makam Mbah Priok. Kemudian, dayung itu tumbuh menjadi pohon Tanjung. Sedangkan istilah periuk diambil dari periuk nasi Si Mbah yang sempat hanyut dibawa ombak untuk jangka waktu tertentu, namun kembali lagi dan terdampar di dekat kuburan Si Mbah. Maka jadilah kawasan itu diberi nama Tanjung Periuk alias Tanjung Priok.
Materi cerita pembodohan di atas mengungkap kehebatan sosok habib Hasan Al Haddad alias Mbah Priok yang oleh pengikutnya disebut waliyullah. Masih ada versi cerita pembodohan yang berkenaan dengan makam sang habib, antara lain:
“…konon, di zaman Belanda, pemerintah kolonial ingin membongkar makam habib Hasan Al Haddad. Upaya pembongkaran itu urung, karena tiba-tiba terdengar ledakan keras dan pancaran sinar laser dari dalam makam. Peristiwa serupa konon terjadi di zaman Orde Baru. Tommy Soeharto yang (sempat) menguasai daerah pelabuhan pernah mengatakan agar kawasan makam habib Hasan Al Haddad jangan diusik. Namun anak buah Tommy ada yang membandel, maka disusunlah upaya pembongkaran, bahkan para ahli waris habib Hasan Al Haddad diteror, diintimidasi dan sebagainya. Lagi-lagi sebuah keajaiban terjadi, ketika backhoe atau buldozer siap menancapkan garpunya, peralatan berat itu pun meledak sehingga menewaskan operatornya. Konon, kejadian tersebut berulang hingga sampai enam kali.”
Ada lagi cerita tidak masuk akal. Konon sang habib pernah berwasiat, “… jika makam saya dibongkar sampai tiga kali, maka bukan Tanjung Priok saja yang bakal tenggelam, tetapi Jakarta pun akan tenggelam…”
Disebut tidak masuk akal, karena sang habib ketika mendarat di Pulau Jawa menurut versi di atas sudah dalam bentuk jasad. Bagaimana mungkin jasad bisa berwasiat sebagaimana tertera di atas. Hanya orang yang terlalu bodoh mau mempercayai materi cerita pembodohan seperti tersebut.
Mbah Priok Tidak Punya Tanah dan Keturunan
Dari kerusuhan Koja yang terjadi pada tanggal 14 April 2010, dibentuklah TPF (Tim Pencari Fakta) Insiden Priok DPRD DKI yang diketuai oleh Lulung Lunggana. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi dari kerabat Mbah Priok (keluarga Al Haddad) di Palembang.
Salah satu kerabat habib Hasan Al Haddad yang ditemui TPF Insiden Priok DPRD DKI adalah habib Abdurrahman yang merupakan keturunan dari salah satu saudara kandung Habib Hasan Al Haddad yang berada di Palembang.
Berdasarkan keterangan yang diberikan habib Abdurrahman kepada TPF, habib Hasan Al Haddad tidak memiliki keturunan karena meninggal sebelum menikah. Selain itu, habib Hasan Al Haddad tidak memiliki tanah di Jakarta. Namun, ia mempunyai tiga saudara kandung. Dengan demikian, mereka yang selama ini mengaku-aku sebagai ahli waris habib Hasan Al Haddad atau Mbah Priok yang ada di Jakarta, sesungguhnya bukanlah keturunan langsung, tetapi dari saudara kandungnya Mbah Priok.
Secara logika, memang amat mustahil habib Hasan Al Haddad yang mendarat ke tanah Betawi sudah dalam bentuk jasad kelak di kemudian hari bisa memiliki tanah warisan berhektar-hektar. Lalu, bagaimana pula jasad yang tidak punya tanah dan belum menikah saat meninggal kelak bisa punya ahli waris?
Betapa bodohnya orang-orang yang percaya bahwa mbah Priok benar-benar punya tanah dan punya ahli waris. Apalagi bila Pemprov DKI Jakarta juga turut percaya dan mau membiayai keberadaan situs keramat bernuansa kemusyrikan dan bernuansa penipuan atas sebidang tanah ini dari APBD (anggaran daerah). Karena sesungguhnya lahan tersebut adalah milik negara (dalam hal ini direpresentasikan oleh Pemprov DKI Jakarta). Apalagi, menurut J.J. Rizal, dalam silsilah orang suci penyebar Islam di Betawi, nama Habib Hasan Al Haddad tidak pernah disebut-sebut. Boleh jadi sosok ini fiktif. Setidaknya, belum teruji keberadaannya dalam hal penyebaran agama Islam.
Jadi, kasus bentrokan antara Satpol-PP dengan pendukung makam Mbah Priok, sesungguhnya lebih dilatar belakangi oleh nafsu pemilikan atas sebidang tanah. Sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan cagar budaya, apalagi cagar budaya Islam Betawi.
Berkenaan dengan penguasaan lahan mbah Priok, Eka Sediyanto (seorang yang berkomentar di suatu situs internet) punya informasi khas. Menurut Eka (Jumat, 23 April 2010 | 20:15 WIB),
“Surat Izin Mendirikan Bangunan No 1268 tertanggal 19 Desember 1934 dari Pemerintah Belanda kepada Zein Al Haddad untuk mendirikan bangunan gudang di atas tanah makam pribumi di Tanjung Priok merupakan suatu petunjuk bahwa tanah tersebut bukan milik Zein Al Haddad. Dan berdasarkan cerita para sesepuh Koja dan sekitarnya ternyata cerita/legenda/sejarah Mbah Priok baru muncul belakangan. Sadar bahwa lokasi tanah tersebut memiliki nilai strategis, maka pihak ahli waris melakukan segala upaya yang akhirnya memiliki Surat Keterangan Pendaftaran Tanah (SKPT) No 847 Tahun 1999 atas areal tanah makam Mbah Priuk seluas 5,4 hektar. Bukan hal yang aneh jika ternyata SKPT yang dimiliki oleh ahli waris tidak terdaftar di BPN. karena ternyata tanah tersebut terdaftar atas nama Perum Pelindo II dengan HPL No 1 Tahun 1987. Nah, siapapun pastilah akan menempuh suatu cara strategis untuk bisa menyambung hidup di Jakarta. Dan berhasil. MAKAM MBAH PRIOK MENJADI KULTUS bukan situs. Untuk menghindari konflik yang sia-sia solusi menjadikan Makam Mbah Priok sebagai Cagar Budaya adalah suatu langkah yang paling aman. Tapi ditinjau dari sisi Sejarah dan pembinaan Agama saya ANGKAT TANGAN…”
Jadi, kasus Priok 14 April 2010 bermotif penguasaan sejumlah lahan oleh sekelompok orang yang mengaku-aku sebagai ahli waris Mbah Priok. Padahal, Mbah Priok tidak punya tanah dan tidak punya keturunan. Penguasaan tanah yang masih diragukan sahnya dengan mengatas namakan agama (Islam) adalah perbuatan memperalat atau menunggangi Islam, agama yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka para pelakunya (kalau terbukti benar-benar hanya mengaku-aku dan mengatas namakan agama Islam) adalah orang-orang yang pantas dilaknat Allah, dan pantas mendapat murka Allah.
Mereka –bila terbukti hanya mengaku-aku ahli waris Mbah Priok– juga berdosa karena telah membodohi umat Islam yang jahil (bodoh) dengan cerita-cerita tidak masuk akal, mistis, dan bernuansa kemusyrikan, padahal untuk mempertahankan penguasaan tidak sah atas sebidang tanah. Umat Islam yang diketahui bodoh dan emosional telah mereka provokasi untuk ‘membela Islam’ dalam bentuk membela keberadaan makam Mbah Priok yang boleh jadi fiktif. Ini sudah penipuan.
Sosok Zein Al Haddad sebagaimana disebutkan oleh Eka Sediyanto di atas, perlu dilacak atau diteliti, boleh jadi seorang pengkhianat ganda, boleh jadi orang biasa saja. Seandainya dia pengkhianat, selain berkhianat kepada Belanda, ia juga berkhianat kepada kaum pribumi. Kalau dilihat dari segi lokasi di sana sudah ada makam sejak dulu, namun ijinnya dari Belanda itu untuk gudang, boleh jadi, Sosok Zein Al Haddad merupakan kawan seiring Belanda, yang diberi kepercayaan menggusur pemakaman kaum pribumi untuk dijadikan gudang, namun gagal, atau “amanat” dari Belanda itu tidak dijalankannya. Atau, boleh jadi ia tidak kuasa berhadapan dengan kaum pribumi yang lahan kuburannya akan dijadikan gudang untuk kepentingan Belanda. Kalau benar Zein Al Haddad merupakan kawan seiring Belanda, maka pada saat bersamaan ia adalah pengkhianat bagi kaum pribumi yang memusuhi dan dimusuhi Belanda. Tetapi pengandaian secara nalar ini perlu diteliti sejarah sebenarnya oleh mereka yang ahli dan berkepentingan untuk menguak kebenaran.
Dalam kasus ini tampanya adalah perebutan lahan antara mereka yang mengaku ahli waris Mbah Priok dan Perum Pelindo II. Di belakang itu ada Pemda DKI Jakarta. Dan di belakang itu ada pihak yang menangani pertanahan yang puncaknya adalah BPN (Badan Pertanahan Nasional).
Masing-masing pihak perlu dilacak:
1. Apakah memang klaim dari mereka yang mengaku ahli waris Mbah Priok mengenai tanah itu benar dengan aneka rangkaiannya.
2. Apakah memang Pelindo II itu segala rangkaiannya dalam kasus ini benar.
3. Apakah penanganan DKI Jakarta dengan aneka rangkaiannya sudah benar.
4. Apakah penanganan BPN dengan aneka rangkaiannya itu benar dan beres.
Itu dari segi tentang tanahnya atau lahannya. Sedang masalah ini yang lebih mengerikan adalah diangkatnya kuburan menjadi makam keramat yang hal itu sebenarnya adalah perusakan aqidah Islamiyah, namun justru atas nama membela Islam. Ini yang sangat gawat!
Nampaknya, pemprov DKI Jakarta hanya ingin menempuh solusi yang memberi keselamatan di dunia dengan menjadikan lahan tersebut sebagai cagar budaya, dan sama sekali tidak peduli dengan keselamatan di akherat dengan membiarkan kemusyrikan eksis di wilayahnya bahkan dibiayai uang rakyat.
Umat Islam harus kritis. Kalau perlu, keberadaan entitas habib (habaib) yang seperti ini harus dievaluasi, dan dikeluarkan secara kontekstual. Karena Islam adalah agama yang luhur dan mendapat ridho Allah, bukan agama bagi para penipu akidah, pembodoh umat yang sudah jahil, “perebut” tanah dengan mengatasnamakan agama.
Dari kasus Priok 14 April 2010, sayangnya kalangan Islam tidak tegas. Termasuk tokoh NU, FPI, bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Bahkan, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) menolak pembongkaran makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara. Penolakan itu diekspresikan melalui unjuk rasa yang digelar di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta, pada hari Kamis tangal 15 April 2010.
Salah satu alasan yang melatari unjuk rasa ini, menurut salah seorang oratornya adalah untuk menunjukkan solidaritas HMI kepada warga yang terus menerus menjadi korban pemerintah. Padahal, kalau HMI cerdas dan bijak, sesungguhnya warga tidak hanya jadi korban pemerintah tetapi juga korban dari keserakahan sekelompok orang yang mengatasnamakan ahli waris Mbah Priok untuk menguasai tanah.
Sebagai organisasi mahasiswa berlabel Islam, seharusnya HMI mendahulukan penilaian dari sisi akidah Islam, bukan sisi politis dari kejadian tersebut. Bahkan hingga kini MUI, ormas dan partai Islam tidak berani membahas kasus Priok 14 April 2010 dari sisi akidah. Mereka tampaknya lebih takut kepada sesama manusia ketimbang Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sungguh memprihatinkan. (haji/tede)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar