Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Selasa, 17 Juli 2012

Habaib Misionaris Syi’ah

Paham sesat syi’ah selain diajarkan secara ‘terbuka’ melalui berbagai lembaga termasuk yayasan (seperti Yayasan Muthahhari, Bandung; Yayasan Al-Muntazar Jakarta; Yayasan al-Jawad, Bandung; Yayasan Mulla Shadra, Bogor; Yayasan pesantren YAPI, Bangil; Yayasan Al-Muhibbin, Probolinggo; Yayasan Pesantren Al-Hadi, Pekalongan) dan sebagainya, ternyata gerakan sosialisasinya ditunjang oleh para tokoh-tokoh seperti Jalaluddin Rachmat, Quraish Shihab, Said Agil Sirodj. Bahkan sebagian para Habaib (yang selama ini dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad Shallallhu ‘alaihi wasallam dari jalur Fathimah-‘Ali) turut mensosialisaikan paham sesat ini.
Para habaib bagi sebagian masyarakat awam mempunyai tempat khusus karena dipercaya merupakan ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad versi syi’ah), sehingga penjelasannya begitu mudah diterima sebagai kebenaran agama meski mengandung kesesatan ajaran syi’ah, seperti membolehkan nikah mut’ah, mencaci maki Khulafa-ur Rasyidin (kecuali ‘Ali bin Abi Thalibradhiyallahu ‘anhu) dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Yang berhasil dipengaruhi sang habaib bukan saja orang awam yang berpendidikan rendah, tetapi juga kalangan sosial ekonomi menengah dan berpendidikan tinggi.
Sebut saja misalnya Sigit Ghozali (nama disamarkan), pengelola situs Islam yang cukup banyak dikunjungi para netter baik di Indonesia maupun mancanegara. Pria berusia menjelang paruh baya ini, adalah lulusan MBA di London, yang mendapat pencerahan soal Islam dari seorang habaib. Meski sejak lahir sudah Islam, namun kesadaran ber-Islamnya baru tumbuh setelah ia berinteraksi dengan para habaib.
Meski tidak mau disebut berpaham syi’ah, warga asli Tegalan (Jakarta Pusat) ini sangat fasih mengutarakan doktrin-doktrin syi’ah yang sesat kepada siapa saja yang dianggapnya bisa dijadikan objek dakwahnya. Antara lain, konsep ahlul bait (keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fathimah-‘Ali). Juga, bahwa ‘Aisyah telah pernah diceraikan Nabi Muhammad saw, bahwa banyak beredar hadits-hadits ‘tidak jelas’ yang diproduksi kelompok Mu’awiyah.
Meski tidak mau disebut berpaham syi’ah, yang bersangkutan setiap Muharram tak pernah absen merayakan ‘peristiwa Karbala’. Meski sudah pernah dijelaskan berulang kali, bahwa peristiwa Karbala dihidup-hidupkan justru oleh para pengecut yang ketika cucu Nabi Muhammad saw sedang dibantai, mereka jutsru berdiam diri, namun merekalah yang paling bersemangat merayakan Hari ‘Asyura pada setiap bulan Muharram.
Bahkan pada salah satu bulan Muharram, di situs Islam yang dikelolanya, nama sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra ditulis dengan menambahkan SAW di belakang nama beliau. Yaitu, Imam ‘Ali SAW. Sebuah pengangung-agungan yang berlebihan dan menyesatkan, khas syi’ah.
Doktrin lain, misalnya untuk mempelajari Islam yang afdhol adalah melalui para ‘keturunan’ nabi yaitu para habaib yang bertebaran di mana-mana, dan akan lebih baik kalau mereka itu dikunjungi dan disantuni karena banyak para ‘keturunan’ nabi yang miskin-miskin. Masih banyak doktrin (paham) syi’ah yang telah diinternalisasi secara baik oleh yang bersangkutan, itu semua merupakan hasil interaksinya dengan para habaib.
Tidak semua habaib mengajarkan ‘muridnya’ untuk membenci Khulafaur Rasyidin, dan tetap mengakui dan memuliakannya. Namun karena mereka masih berpegang pada konsep ahlul bait (keturunan nabi versi syi’ah), maka ada kemungkinan mereka ini adalah para habaib berpaham pro syi’ah. Mereka mudah menjadi rekanan Syi’ah.
Contoh lain, adalah tentang seorang sarjana informatika lulusan lokal. Pria berusia 40 tahun ini, sejak beberapa tahun lalu mengelola berbagai mailing list (milis). Beberapa milis yang dikelolanya antara lain menggunakan nama-nama beken, seperti Media Dakwah (tidak ada hubungannya dengan Serial Media Dakwah yang diterbitkan Dewan Dakwah), Sabili (tidak ada hubungannya dengan majalah Sabili yang dilahirkan oleh komunitas Tarbiyah-Partai Keadilan), juga Istiqlal (tidak ada hubungannya dengan Masjid Istiqlal).
Sebut saja namanya Anus Nazami (nama disamarkan), pengetahuan tentang syi’ah ia peroleh ketika masih kelas tiga SD (begitu menurut pengakuannya). Baginya, syi’ah sama saja dengan Sunni (orang Ahlus Sunnah), ada yang sesat dan ada pula yang tidak. Sunni yang sesat, misalnya Ahmadiyah, Yusman Roy (shalat berbahasa Indonesia), atau Salamullah (Lia Aminuddin/ Eden). Jadi, kalau di kalangan Sunni ada yang sesat, maka di kalangan syi’ah juga ada yang sesat. Begitu pendapatnya. Namun ia tidak menjelaskan syi’ah mana yang sesat dan tidak sesat. Sedang memasukkan Ahmadiyah, Yusman Roy, dan Lia Eden ke Sunni (Ahlus Sunnah) itu jelas-jelas kecerobohan yang sangat jauh.
Ia juga berpendapat buat apa mempersoalkan syi’ah yang bertuhan sama yaitu Allah, kitab suci sama yaitu Al-Qur’an, dan mempunyai nabi yang sama yaitu Muhammad SAW. Pendapat seperti ini seolah-olah benar tetapi sesungguhnya keliru. Syi’ah mempunyai kitab suci tersendiri. Meski masih mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi, namun mereka menjadikan ‘Ali sebagai Imam umat manusia, dan kelak umat manusia yang tidak ber-Imam kepada ‘Ali maka ia telah kufur.
كبر على المشركين بولاية علي ما تدعوهم إليه يا محمد من ولاية علي. هكذا في الكتاب مخطوطة – ) الكافي/ ج1 / رقم 302).
Artinya: “Amat berat bagi orang musyrik (menerima agama) yang kamu serukan kepada mereka terhadap kepemimpinan ‘Ali, wahai Muhammad, (tegaskan) dari kepemimpinan ‘Ali!” (Al-Kaafi I : 302).
Ayat di atas merupakan salah satu contoh dari kitab suci kalangan syi’ah yang merupakan penyelewengan terhadap Al-Qur’an khususnya Asy-Syura ayat 13, yang bentuk aslinya sebagai berikut:
كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
Artinya: Amat berat bagi orang musyrik (menerima Agama) yang kamu serukan kepada mereka tersebut, Allah memilih kepada agama tersebut terhadap orang yang dikehendaki dan menunjuki kepada agama tersebut terhadap orang-orang yang kembali (taubat).” (QS As-Syura: 13).
Yang bertuhankan Allah tidak saja manusia tetapi juga Jin, Syaithon dan Iblis. Karena iblis bertuhan Allah, apakah ini berati kita tidak perlu memerangi iblis? Padahal, setiap hari iblis yang bertuhan Allah ini memerangi umat manusia dan tak putus asa mengajak kepada jalan yang dimurkai Allah.
Contoh lain terjadi di sebuah masjid di bilangan Jakarta Selatan. Masjid yang secara kultural condong ke NU ini, pada salah satu Khotbah Jum’at menunjuk pengganti khatib yang semestinya, namun tiba-tiba berhalangan. Sang Khotib pengganti ini adalah pria muda berusia hampir 30 tahun, lulusan pesantren Al-Awwabin Depok. Sang Khotib pengganti ini sebut saja bernama Jalal (nama disamarkan), yang sehari-hari bertugas sebagai Muadzin di masjid Darul Falah itu.
Saat itu merupakan kali pertama ia menjadi Khatib. Bagi yang tidak paham, penampilan Jalal tak ada cacat, sama persis dengan para Khatib Jum’at yang biasa berkhotbah. Namun, materi yang ia bawakan membuat sebagian jama’ah terkejut.
Antara lain, Jalal berkhotbah: yang namanya ahlul bait itu ada lima, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib, Fathimah binti Muhammad Rasulullah, kemudian Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib, Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib, dan yang kelima adalah Sitti Khadidjah isteri pertama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
Kemudian Jalal sang Khotib pemula yang tidak sadar ia sedang membawakan doktrin syi’ah ini juga mengatakan: Rasulullah adalah gudang ilmu sedangkan ‘Ali adalah pintu gerbangnya. Maka, bila kita menuntut ilmu tanpa mendatangi pintu gerbangnya (maksudnya mendatangi keturunan ‘Ali-Fathimah yang biasa disebut ahlul bait oleh kalangan syi’ah), maka menuntut ilmu seperti itu ibarat seperti orang yang mencuri.
Kalau ditelusuri, khathib itu berlandaskan hadits dha’if (lemah), bahkan maudhu’ (palsu))



عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya adalahkota ilmu, sedang Ali adalah pintunya, maka siapa yang menginginkan ilmu maka hendaklah mendatanginya dari pintunya.” (HR At-Thabrani).
Hadits riwayat At-Thabrani itu ada Abdul Salam bin Shalih Al-Harawi, dia dhaif menurutAl-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid 9/ hal 8. Hadits ini maudhu’ (palsu), disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at 1/350.
Menurut Al-Albani, hadits itu maudhu’ (palsu), lihat Dho’iful Jami’ nomor 1322.
Dengan modal hadits palsu seperti itu, sang khathib pemula ini telah memvonis: “bila kita menuntut ilmu tanpa mendatangi pintu gerbangnya (maksudnya mendatangi keturunan ‘Ali-Fathimah yang biasa disebut ahlul bait oleh kalangan syi’ah), maka menuntut ilmu seperti itu ibarat seperti orang yang mencuri
Ponpes Al-Awwabin tempat Jalal khathib pemula ini pernah menimba ilmu selama ini bukanlah ponpes yang berindikasi syi’ah, begitu juga dengan pengurus masjid Darul Falah, sama sekali bukan berpaham syi’ah. Namun, Masjid Darul Falah tempat Jalal beraktivitas adalah salah satu mesjid yang sering disinggahi para habaib, apalagi saat ‘panen raya’ peringatan maulid nabi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar