Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Selasa, 17 Juli 2012

Kalangan Habaib Serukan untuk Tidak Merayakan Maulid Nabi!

Jajaran Ulama dari kalangan Habaib menyerukan Ahlul Bait Rasulullah untuk tidak memperturuti hawa nafsu mereka. Karena Perayaan yang mereka sebut dengan “Maulid Nabi” dengan dalih “Cinta Rasul”, dan berbagai acara yang menyelisihi syari’at, yang secara khusus dimeriahkan/ diperingati oleh sebagian anak keturunan Nabi yang mulia ini jelas merupakan sebuah penyimpangan, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar” (tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.
Dalam sebuah pernyataan yang dilansir “Islam Today,” para Habaib berkata, “Bahwa Kewajiban Ahlul Bait (Keturunan Rasulullah) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at Islam datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, sedangkan cinta yang hakiki pasti akan menyeru “Ittiba’ yang benar”.
Mereka (Para Habaib) menambahkan, “Di antara fenomena yang menyakitkan adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di antara syi’ar-syi’ar tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta.
Para Habaib menekankan dalam pernyataannya, bahwa yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah karena hal itu dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan tidak ridho dengan hal itu dan lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan seperti ini, dengan sabdanya,
لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra maryam.” (HR. al-Bukhari)
Sedangkan seputar adanya preseden untuk perayaan-perayaan seperti itu pada as-Salafu ash-Shalih, Para Habaib tersebut mengatakan, “Bahwa perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in.
Para Habaib tersebut mengatakan kepada Ahlul Bait, “Wahai Tuan-tuan yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul (Nasab) merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya dengan menjaga agama dan menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, bahkan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Berikut ini adalah teks pernyataannya:
Risalah untuk Ahlul Bait (Anak-Cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tentang Peringatan/ perayaan Maulid Nabi.
الحمد لله رب العالمين، الهادي من شاء من عباده إلى صراطه المستقيم، والصلاة والسلام على أزكى البشرية، المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين .. أما بعد:
Di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syariat yang beliau bawa adalah syariat yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا (المائدة:3)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al-Maaidah 5:3)
Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan keyakinan atau tanda kesempurnaan iman seorang Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين (رواه البخاري ومسلم)
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Beliau adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Raja anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si empunya tempat yang mulia, telaga yang akan dikerumuni (oleh manusia), si empunya bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, dan orang yang telah menjadikan umatnya menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا [الأحزاب:21]
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. al-Ahzab: 21) 
Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait/ Habaib), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي (رواه مسلم)
“Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku.” (HR. Muslim).
Maka Kewajiban keluarga Rasulullah (Ahlul Bait/ Habaib) adalah hendaklah mereka menjadi orang yang paling mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman,
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء:65]
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)
Sedangkan cinta yang hakiki pastilah akan menyeru “Ittiba’ yang benar”. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ.. [آل عمران:31]
“Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)
Tidak cukup hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab, tetapi keluarga beliau (Ahlul bait) haruslah sesuai dengan al-haq (kebenaran yang beliau bawa) dalam segala hal, dan tidak menyalahi atau menyelisihinya.
Dan di antara fenomena menyakitkan adalah orang yang diterangi oleh Allah ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk keluarga beliau pula dari keturunan beliau yang mulia adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/ Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini jelas merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung, dan tidak sesuai dengan “Maqasidu asy-Syar’i al-Muthahhar”(tujuan-tujuan syariat yang suci) untuk menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.
Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’(mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan mengikuti (ittiba) kepada beliau merupakan inti/ puncak kecintaan kepadanya. Dan orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah komitmen dengan sunnahnya, mengikuti petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majlis-majlis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi hari, berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syariat Islam.
Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah karena dapat menyebabkan pengkultusan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang beliau sendiri tidak membolehkannya, bahkan beliau tidak ridho dengan hal itu. Dan hal lainnya adalah bahwa peringatan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah shahih dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihin seperti ini, dengan sabdanya,
لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ (رواه البخاري)
“Janganlah kalian mengkultuskan aku seperti pengkultusan orang-orang nasrani terhadap putra Maryam.” (HR. al-Bukhari)
Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majlis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.
Dan perayaan Maulid Nabi merupakan ibadah/ amalan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ‘ajma’in- begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang diutamakan.
Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hal ini secara gamblang dan tanpa pengecualian di dalamnya,
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ (رواه مسلم)
“Semua bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim).
“Wahai tuan-tuan yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemuliaan Asal usul/ nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya. Dan karena mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Demi Allah, demi Allah, wahai para habaib (Ahlu bait Nabi)! Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, dan menjadi pemimpin- pemimpin yang tidak mengajarkan petunjuk beliau! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami cintai petunjuknya dari kalian, semata-mata karena kedekatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah lelulur kalian dengan meninggalkan bid’ah dan seluruh yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah, Beliau bersabda,
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)
“Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak mempercepat amalnya tersebut.” (HR. Muslim).
والحمد لله رب العالمين،،
YANG MENANDATANGANI RISALAH DI ATAS ADALAH:
  1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial “Adhdhamir al-Khairiyah” di Traim).
  2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy).
  3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran).
  4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum “Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’i di Ghail Bawazir).
  5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).
  6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).
  7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Act. Profesor Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).
  8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar as-Saniyah).
  9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).
  10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala.
  11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta).
  12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha).
(Istod/Rydh/AN)
Selasa, 15 Februari 11
***
علماء من آل البيت يدعون لعدم الاحتفال بالمولد النبوي
الاحد 11 ربيع الأول 1430 الموافق 08 مارس 2009
الإسلام اليوم/ الرياض
ناشد كوكبةٌ من العلماء السعوديين، آلَ بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم عدم الانجرار وراء الأهواء، والاحتفال بما أسمَوْه المولدَ النبويَّ بدعوى المحبة، خاصة وأن بعض أبناء هذه الْبَضْعَةِ الكريمة يشاركون في أنواعٍ من المخالفات الشرعية، وهذا يُعدُّ تحريفًا لا يتفق مع مقاصد الشرع المطهَّر في جعل أتباعه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ مدارًا يدور معه الناس في كل أحوالهم.
وفي بيان وصل مؤسسة “الإسلام اليوم” نسخة منه اليوم قال العلماء: إن “الواجب على آل بيته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ أن يكونوا أعظم الناس اتِّباعًا لسنته، واقتداءً بهديه، وعليهم أن يتمثلوا المحبة الحقَّة، وأن يكونوا أبعد الناس عن الهوى؛ إذ الشريعة جاءت على خلاف داعِيَةِ الهوى، فالحب الحقيقي يستدعي الاتِّباع الصادق.
وأضاف العلماء: إن مما يؤلم دخولَ بعض أبناء هذه البَضْعَة الكريمة من آل البيت في أنواعٍ من المخالفات الشرعية، وتعظيمهم لشعائر لم يأت بها الحبيب المصطفى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، ومن هذه الشعائر بدعة الاحتفال بالمولد النبوي بدعوى المحبة.
وأكد العلماء في البيان أن ما يزيد هذا الاحتفال بُعْدًا عن الهدْيِ النبويِّ ما يحصل فيه من إطراءٍ له صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ بما لم يأذن به، ولا يرضى هو صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ بمثله، وبعضه بُني على أحاديثَ باطلةٍ أو اعتقاداتٍ فاسدة، وثبت عنه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ التنفيرُ من مثل هذه المبالغات بقوله: «لَا‏ ُتطْرُونِي كَمَا َأطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ»، رواه البخاري. 
حول وجود سوابق لمثل هذه الاحتفالات في السلف الصالح، قال العلماء: إن هذا الاحتفال بمولده عملٌ لم يفعله النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، ولم يأمر به، ولم يفعله أحدٌ من علماء آل البيت الكرام، كعلي بن أبي طالب، والحسَنَيْن، وعلي زين العابدين، وجعفرٍ الصادق، ولم يفعله أصحابُ نبينا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، -رضي الله عنهم جميعًا- ولا أحدٌ من التابعين.
وخاطب العلماء آلَ البيت قائلين: “أيها السادة الكرام! يا خير نسلٍ وُجد على وجه الأرض، إنَّ شرفَ الأصل والنسب تشريفٌ يتْبَعُه تكليف، هو أخذٌ بسنَّته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، وسعيٌ لاستكمال أمانته من بعده؛ بحفظ الدين، ونشر الدعوة إليه، وإن اتِّباع الرجال فيما لم يأذن به الشَّرْعُ لا يُغني من الحق شيئًا، وهو مردود على صاحبه، كما قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»، رواه البخاري ومسلم.
وفيما يلي نص البيان
 رسالة إلى أهل بيت رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ
عن الاحتفال بالمولد النبوي
الحمد لله رب العالمين، الهادي من شاء من عباده إلى صراطه المستقيم، والصلاة والسلام على أزكى البشرية، المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين .. أما بعد:
فإن من الأصول العظيمة التي اجتمعت عليها قلوبُ أهل العلم والإيمان، الإيمان بأن هدي نبينا محمد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ أكمل الهَدْي، وشريعته أتم الشرائع، يقول الله تعالى: ((الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا)) [المائدة:3]
والإيمان بأن محبته دين يدين به المسلم، قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين»، رواه البخاري ومسلم، فهو عليه الصلاة والسلام، خاتم النبيين، وإمام المتقين، وسيد ولد آدم، وإمام الأنبياء إذا اجتمعوا، وخطيبهم إذا وَفَدُوا، صاحبُ المقام المحمود، والحوض المورود، وصاحبُ لواء الحمد، وشفيعُ الخلائق يوم القيامة، وصاحبُ الوسيلة والفضيلة، بعثه الله بأفضل الكتب، وشرع له أفضل الشرائع، وجعل أمته خيرَ أمةٍ أخرجت للناس، قال الله تعالى: ((لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا)) [الأحزاب:21]. ومن محبته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ محبةُ آل بيته؛ قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ «أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي» رواه مسلم.
فالواجب على آل بيته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ أن يكونوا أعظم الناس اتِّباعًا لسنته، واقتداءً بهديه، وعليهم أن يتمثلوا المحبة الحقَّة، وأن يكونوا أبعد الناس عن الهوى؛ إذ الشريعةُ جاءت على خلاف دَاعِيَةِ الهَوَى، يقول الله تعالى: ((فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)) [النساء:65]، فالحب الحقيقي يستدعي الاتِّباعَ الصادق، قال الله تعالى: ((قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ..} [آل عمران:31]، وليس مجرد الانتساب إليه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ من جهة النسب كافيًا في أن يكون صاحبُه موافقًا للحق في كلِّ شأنِهِ، لا يُخطئُه أو يحيدُ عنه.
وإنَّ مما يؤلم من نوَّر الله بصيرته بنور العلم، وحشا قلبَه لآل بيت نبيه بالمحبةِ والوُدّ، خاصة إن كان من أهل الدار، من السُّلالة الشريفة: دخولَ بعض أبناء هذه البَضْعَة الكريمة في أنواعٍ من المخالفات الشرعية، وتعظيمهم لشعائرَ لم يأت بها الحبيبُ المصطفى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ.
ومن هذه الشعائر المعظَّمةِ على غير هدْي جدِّنا صلوات الله وسلامه عليه: بدعةُ الاحتفال بالمولد النبوي بدعوى المحبة، وهذا يُعَدُّ تحريفًا لهذا الأصل العظيم، لا يتفق مع مقاصد الشرع المطهَّر في جعل اتِّباعه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ مدارًا يدور معه الناس في كل أحوالهم وعباداتهم؛ إذ محبته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، توجب اتِّباعه ظاهرًا وباطنًا، ولا منافاة بين محبته واتِّباعه، بل إن اتِّباعه هو أُسُّ محبته عليه الصَّلاةُ والسَّلام. وأهل الاتِّباع الصادق، يقتفون سنتَه، ويتَتَبَّعون هديَه، ويقرؤون سيرتَه، ويعطرون مجالسهم بشمائلِه، دون تعيينٍ ليومٍ، أو غلوٍّ في وصفٍ، أو تخصيصٍ بكيفيةٍ لم تأتِ بها الشريعة.
ومما يزيد هذا الاحتفال بُعْدًا عن الهدْي النبوي ما يحصل فيه من إطراءٍ له صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ بما لم يأذن به، ولا يرضى هو صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ بمثله، وبعضه بُنيَ على أحاديثَ باطلةٍ أو اعتقاداتٍ فاسدة. وقد ثبت عنه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ التنفيرُ من مثل هذه المبالغات بقوله: «‏لَا‏ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ ‏النَّصَارَى‏ ‏ابْنَ مَرْيَمَ»، رواه البخاري. فكيف وقد تضمَّنت بعضُ هذه المجالس والمدائح ألفاظًا بِدْعِيَّةً، واستغاثاتٍ شِرْكيَّة.
وهذا الاحتفال بمولده عملٌ لم يفعله النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، ولم يأمر به، ولم يفعله أحدٌ من علماء آل البيت الكرام، كعلي بن أبي طالب، والحَسَنَيْن، وعلي زين العابدين، وجعفرٍ الصادق، ولم يفعله أصحابُ نبينا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، -رضي الله عنهم جميعًا- ولا أحدٌ من التابعين ولا تابعيهم، ولا أئمة المذاهب الأربعة المتبوعين، ولا فعله أحدٌ من أهل الإسلام خلال القرون المفضلة الأولى.
فإذا لم تكن هذه البدعة فما هي البدعة إذن؟! فكيف إذا صاحَبَها الإنشادُ بالدفوف، وربما كان ذلك داخلَ المساجد أحيانًا، وقد قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ في ذلك وأشباهِه قولًا فصلًا لا استثناء فيه: «كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»، رواه مسلم.
أيها السادة الكرام! يا خيرَ نسْلٍ وُجد على وجه الأرض: إنَّ شرفَ الأصل والنسب تشريفٌ يَتْبَعُهُ تكليف؛ هو أخذٌ بسنته صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ، وسعيٌ لاستكمال أمانته من بعده؛ بحفظ الدين ونشر الدعوة إليه، وإن اتِّباع الرجال فيما لم يأذن به الشَّرْعُ لا يُغني من الحق شيئًا، وهو مردود على صاحبه كما قال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»، رواه البخاري ومسلم.
فاللهَ اللهَ يا أهلَ بيتِ محمدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ! لا يغرنَّكم خطأُ مَن أخطأ، وضلالُ مَن ضلَّ، أن تكونوا أئمةً في غير الهُدى، فوالله ما على وجه الأرض أحدٌ أحبُّ إلينا هِدَايَتَهُ منكم؛ لما لكم من رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمْ من القربى.
فهذه دعوةٌ من قلوبٍ مُحِبَّةٍ تريدُ الخيرَ لكم، وتدعوكم إلى اتِّبَاع سنَّةِ جَدِّكم؛ بمفارقة هذه البدعة وسائر ما لا يعلم المرءُ يقينًا أنه من سُنَّته ودينه، فالبدارَ البدارَ فـ «مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»، رواه مسلم.
والحمد لله رب العالمين،، 
الموقِّعون حسب الترتيب الهجائي:
السَّيِّد الشيخ أبو بكر بن هدار الهدَّار  – رئيس مؤسسة الضمير الخيرية الاجتماعية بتريم
السَّيِّد الشيخ أيمن بن سالم العطاس - مدرس العلوم الشرعية بالثانوية الأولى وإمام وخطيب بأبي عريش
السَّيِّد الشيخ  حسن بن علي البـار - مدرس الثقافة الإسلامية بالكلية التقنية بالدمام وإمام وخطيب بالظهران
السَّيِّد الشيخ  حسين بن علوي الحبشي – أمين عام منتدى الغيل الثقافي الاجتماعي بغيل باوزير
السَّيِّد الشيخ  صالح بن بخيت مولى الدويلة - المشرف على المكتب التعاوني للدعوة والإرشاد وتوجيه الجاليات وإمام وخطيب بالخرج
السَّيِّد الشيخ  عبد الله بن فيصل الأهدل - رئيس مؤسسة الرحمة الخيرية وإمام وخطيب جامع الرحمة بالشحر
السَّيِّد الشيخ  د. عصام بن هاشم الجفري - أستاذ مساعد بكلية الشريعة قسم الاقتصاد الإسلامي بجامعة أم القرى وإمام وخطيب بمكة
السَّيِّد الشيخ  علوي بن عبدالقادر السَّقَّاف - المشرف العام على موقع الدرر السنية
السَّيِّد الشيخ  محمد بن عبد الله المقْدي - المشرف العام على موقع الصوفية وإمام وخطيب بالدمام
السَّيِّد الشيخ  محمد بن محسن البيتي - مدير مؤسسة الفجر الخيرية وإمام وخطيب جامع الرحمن بالمكلا
السَّيِّد الشيخ  محمد سامي بن عبدالله شهاب - المدرس بمعهد العلوم الإسلامية والعربية بأندونيسيا
السَّيِّد الشيخ  د. هاشم بن علي الأهدل - أستاذ بجامعة أم القرى بمكة المكرمة معهد تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar