Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Senin, 02 Juli 2012

Bila Da’inya Model Ini, Jadi Apa Jamaahnya?

Namanya da’i tak ubahnya juga guru yang nota bene bisa digugu dan ditiru. Da’i yang baik harus memiliki sifat jujur, dapat dipercaya, cerdas dan dapat menyampaikan visi dan misinya selaku da’i.
Da’i di mata masyarakat merupakan panutan dalam hal keagamaan. Oleh masyarakat para da’i  itu panggilannya beda-beda ada yang memanggil dengan sebutan  ustadz, kyai, ajengan, buya dll.
Da’i merupakan pemuka agama yang tentunya harus dapat diteladani oleh jamaahnya. Baik yang menyangkut tutur katanya, tingkah lakunya/perbuatannya/tindakannya dalam kesehariannya dalam berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Berikut ini saya turunkan tulisan berdasarkan pengamatan saya tentang beberapa hal yang tidak patut tetapi dilakukan oleh da’i. Semoga ini dapat bermanfaat. Hal yang tidak patut menurut saya yaitu:
Klepas-Klepus
Da’i yang klepas-klepus ini artinya da’i yang model ini tidak bisa memikirkan diri sendiri apalagi memikirkan orang lain. Belum mengindahkan tentang bahayanya. Dengan sangat jelas bahwa merokok dapat….. dan…Da’i kok merokok.
Minum, makan dengan tangan kiri
Makan dan minum yang diajarkan oleh Islam adalah dengan menggunakan tangan kanan bukan dengan tangan kiri. Dalam hadits dikatakan
 « مَنْ أَكَلَ بِشِمَالِهِ أَكَلَ مَعَهُ الشَّيْطَانُ وَمَنْ شَرِبَ بِشِمَالِهِ شَرِبَ مَعَهُ الشَّيْطَانُ ». (أحمد عن عائشة)
“Barang siapa makan dengan tangan kirinya, maka setan ikut makan bersamanya dan barang siapa minum dengan tangan kirinya maka setan juga ikut minum bersamanya”. (HR Ahmad dari Aisyah)
Saya sering mendapati da’i yang makan dan minum menggunakan tangan kirinya, padahal tangan kanannya normal, baik di depan banyak jamaah maupun di belakang jamaah.
Mengejar Isi Amplop
Biasanya yang namanya da’i itu ya simatupang (siang malam tunggu panggilan) diundang oleh masyarakat untuk berceramah, kadang sehari dapat undangan lebih dari satu. Ya, sehari diundang lebih dari satu tempat tidak masalah, yang menjadi masalah adalah apabila sudah menyetujui undangan di tempat A tetapi pada hari dan jam yang bersamaan ada panggilan/undangan  untuk ceramah di tempat B dan kebetulan di tempat B itu kakap maka di tempat yang A dibatalkan karena teri.
Marah-marah
Apabila masyarakat di lingkungan wilayah ada yang mengadakan acara dan mengundang penceramah dari luar wilayah, maka da’i yang ada di wilayah itu marah-marah karena bukan dia yang diundang dan diminta untuk berceramah.
Yang penting laris
Ada isinya atau tidak, tidak menjadi soal, yang penting menuruti permintaan pengundang, dan pendengar merasa  puas dengan guyonannya/ gocekannya/ lawakannya.
Jarkoni
Gembar-gembor di mimbar hanya sebatas di bibir saja tetapi yang bersangkutan dalam kesehariannya tidak melakukannya. Makanya Jarkoni (Wani ngajar tapi ora ngelakoni) artinya mengajarkan sesuatu tetapi dia sendiri tidak menjalaninya. Hal ini dikatakan dalam Al Qur’an Kaburo maqan ‘indallahi an taqulu maalaa taf’alun.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ [الصف/2، 3]
2. Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS As-Shaff/61: 2-3).
Menjelek-jelekkan da’i lain
Da’i yang baik, yang lurus, yang tidak materialistis dan tidak neko-neko yang sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah malah jadi sasaran dan di jelek-jelekkan di khalayak/di mimbar di majlis/ dipengajian, dihujat habis-habisan bahkan ada yang dikeroyok dan diperkarakan. Seolah-olah yang menjelek-jelekkan ini yang paling benar dan paling berhak untuk masuk surga padahal dalam perilaku dalam keagamaan saja masih jauh dari Islam bahkan malah menyimpang.
Mengajarkan tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits
Dalam ceramahnya banyak yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits atau berpedoman kepada Al Qur’an dan Al Hadits tetapi dalam penafsirannya seenak udelnya sendiri. Sehingga jamaahnya melakukan ibadah yang sumbernya bukan dari pedoman yang shohih dan pedoman yang dapat dipertanggungjawabkan.
Begitulah catatanku mengenai sebagian perilaku da’i yang tidak layak  dipercaya dan diteladani. Jika hal ini  terus menerus dibiarkan, mau jadi apa umat ini? Semoga saja hal ini MUI (Majlis Ulama Indonesia) memperhatikan dan menindaklanjutinya. (Joko Winarto – Guru dan Penulis Buku Agama Islam untuk Sekolah di Indonesia).
(nahimunkar.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar