Selamat datang di Blog ini

Menebar Dakwah Salafiyyah, Ahlus Sunnah wal Jamma'ah

Jumat, 06 Juli 2012

Kok Hidayat Nurwahid Menolak Syariah Islam & Tidak Melarang Miras?

Mungkin tidak dapat dimengerti oleh kalangan umat Islam, bahwa Hidayat Nurwahid (HNW), ketika berlangsung acara “Indonesia Lawyer Club” yang diselenggarakan TV One, Rabu malam, di mana saat itu, pemandu acara Karni Ilyas, menanyakan kepada “Ustadz” (HNW), apakah akan menegakkan syariah Islam di Jakarta, bila terpilih menjadi Gubernur DKI?
HNW yang doktor di bidang aqidah dari Madinah itu, menjawab dengan sangat tegas, bahwa ia tidak akan menegakkan syariah Islam di Jakarta. HNW juga menegaskan tidak akan melarang miras (minuman keras), serta membuat peraturan yang akan melarang miras. Menurut HNW tidak boleh ada peraturan daerah yang bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi, yaitu UUD’45 dan Pancasila.
Mantan Presiden PKS dan Ketua MPR itu, memberikan gambaran para kader PKS yang menjadi pejabat, tidak ada yang melaksanakan syariah Islam dalam mengelola pemerintahannya. HNW mencontohkan seperti di Depok, di mana Walikota Depok, Dr.Nurmahmudi Ismail, tetapi ia tidak menerapkan dan menegakkan syariah Islam di wilayah itu.

Memang, tidak ada wacana menegakkan syariah Islam, di mana kader PKS menjadi pejabat. Di Bekasi, Sa’duddin saat menjadi bupati, atau Jawa Barat yang dipimpin kader PKS, Ahmad Heriawan, tak pula ada wacana menegakkan syariah Islam. Di Padang, Gubernur Sumatera Barat, Prof.Dr. Irwan Prayitno, dan Sumatera Utara, Gubernur Gatot Pudjo, juga tidak ada wacana menegakkan syariah.
Di Depok pun, Walikota Nurmahmudi Ismail, malah tak memenuhi aspirasi umat Islam, yang menginginkan pembubaran Ahmadiyah. Ahmadiyah dibiarkan eksis. Padahal tuntutan pembubaran Ahmadiyah itu sudah menjadi aspirasi umat Islam di Depok. Sedihnya, Depok yang  dipimpin kader PKS itu, disebutkan berdasarkan survey dari KPK merupakan kota terkorup nomor dua di seluruh Indonesia.
Sementara itu, menurut HNW yang melaksanakan perda-perda “syariah”, yang melarang minuman keras dan pelacuran yang merupakan penyakit masyarakat itu, bukan dari kader PKS. HNW menyebutkan seperti Walikota Tangerang Wahidin Halim, Kabupaten Bandung, dan satu lagi kabupaten di luar Jawa. Inilah yang dijelaskan oleh HNW, saat berlangsung acara di “Indonesia  Lawyer Club”, TV ONE, Rabu malam.
Nampaknya, HNW sudah benar-benar masuk dalam jebakan demokrasi, yang lebih berorientasi kepada kuantitas. Karena demokrasi itu tak lain, anak kandungnya adalah pemilu. Pemilu yang menang yang didukung suara mayoritas (terbanyak).
…Lalu dengan apa kota Jakarta ini dibangun? Dapatkah Jakarta dibangun tanpa dikaitkan dengan nilai-nilai Islam?…
Asumsi HNW, karena masyarakat di Jakarta penduduknya  majemuk, dan dari segi keagamaan masih sangat tipis, maka HNW harus menyesuaikan dengan kehidupan rakyat. Jadi kalau rakyatnya masih jahiliyah, maka tidak perlu ada wacana tentang penegakan syariah.
Masalahnya sikap HNW itu, benar-benar bersifat  i’tiqodi (diyakini) atas penolakannya menegakkan syariah Islam, atau memang ini sebagai langkah pendekatan semata?
Lalu dengan apa membangun kota Jakarta ini? Dengan pendekatan apa membangun Jakarta ini? Dapatkah pembangunan kota Jakarta, tanpa dikaitkan dengan nilai-nilai agama (Islam)? Karena kehidupan kota Jakarta semakin rusak dan hancur, bersamaan dengan masuknya berbagai budaya dan ideologi yang begitu deras masuk dalam kehidupan.
Rakyat Jakarta ingin model kepemimpinan baru yang lebih jelas dasar orientasinya dalam mengelola Jakarta. Kalau yang menjadi wacana hanya tentang kemacetan, banjir, penataan kota, dan sejumlah masalah lainnya, serta HNW tanpa mengedepankan nilai-nilai Islam dalam melakukan pembangunan kota Jakarta,  tentu tidak ada yang membedakan antara HNW dengan kader yang diusung PDIP, Golkar dan Demokrat.
Tidak ada yang baru ditawarkan oleh HNW dalam membangun kota Jakarta, yang sangat membutuhkan pemimpin yang mempunyai cara-cara dan pendekatan baru mengubah kota Jakarta. Tidak konvensional. Wallahu a’lam.

Voice of Al Islam on South East Asia, Jum’at, 30 Mar 2012
***
Sikapnya terhadap aliran sesat Syiah
Dalam hal sikap HNW terhadap aliran sesat syiah pun mencengangkan banyak Ummat Islam. Padahal bahaya dan ancaman dari syiah terhadap Ummat Islam Indonesia sudah tampak nyata di depan mata. Dari segi bahaya nikah mut’ah terutama di kalangan pemuda dan mahasiswa/i pun sudah mengkhawatirkan. Tetapi HNW tampaknya belum tentu prihatin tentang itu.
Sikap tokoh PKS dan HNW terhadap syiah tergambar dalam uraian singkat ini:
Bila pendukung Syi’ah begitu berani dan kreatif membela kesesatannya, sebaliknya, mereka yang (maunya diakui) bukan Syi’ah, ternyata takut-takut mengeluarkan pernyataan sesat secara tegas, mereka hanya berani mempermasalahkan kasus kekerasannya saja. Barangkali ini merupakan sebuah fenomena runtuhnya keimanan dan keilmuan seseorang akibat bergesekan dengan dunia politik, bergesekan dengan harta-tahta-wanita.
Salah satu contohnya sebagaimana bisa dilihat pada sosok Abdul Hakim (Sekretaris Fraksi PKS dan anggota Komisi VIII Bidang Agama DPR RI). Menurut Abdul Hakim, sebagaimana dikutip vivanews.com edisi Kamis, 29 Desember 2011: “Saya mengecam tindakan anarkisme seperti itu. Perbedaan pandangan agama harus dihargai.”
Bahkan Abdul Hakim mengatakan, perbedaan pandangan agama termasuk dalam hak asasi manusia (HAM).
Jadi, perkataan politisi yang ini mengandung virus, yakni urusan akidah dan menjaga kemurnian akidah dari serangan paham sesat direduksi menjadi persoalan HAM. Bukankah justru merusak akidah orang yang sudah bertauhid itu merupakan pelanggaran HAM yang paling berat, ya Abdul Hakim?
Bila Abdul Hakim mengecam aparat polisi yang dinilainya lamban mencegah terjadinya bentrokan, maka senior Abdul Hakim, Hidayat Nur Wahid (HNW) mepermasalahkan PBNU, dan pemerintah dan karakter orang Madura yang temperamental. HNW sama sekali tidak mempermasalahkan mengapa Syi’ah bisa eksis di Madura untuk meracuni akidah umat Islam, dan mengapa misionaris Syi’ah berani mempertahankan diri di tengah-tengah kecaman warga yang menolak Syi’ah? Siapa di belakang mereka?
Ketika HNW baru pulang dari Saudi, ia begitu tegas terhadap paham sesat Syi’ah. Bahkan HNW menjadi salah satu pemakalah pada sebuah forum yang mengupas Syi’ah di Masjid Istiqlal pada tahun 1997. Namun belakangan, di tahun 2006, HNW mengatakan bahwa ia bukan berasal dari mazhab yang suka mengkafirkan sesama muslim, dan sama sekali tidak terkait dengan peristiwa vonis sesat secara in absentia terhadap aliran Syi’ah di Masjid Istiqlal tahun 1997. Menurut HNW, ia tidak menandatangani rekomendasi Istiqlal itu. Jadi, HNW itu menganggap Syi’ah sama dengan Islam, tidak sesat? Astaghfirullah…
(Kasus Sampang dan Para Tokoh yang Nadanya Membela Aliran Sesat Syi’ah, 6 January 2012 Posted by:nahimunkar.com http://nahimunkar.com/10545/kasus-sampang-dan-para-tokoh-yang-nadanya-membela-aliran-sesat-syiah/ )
 (nahimunkar.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar